Memang Wanita

“Aku ingin bangun pagi dengan semangat mengejar mimpi-mimpiku mba, bukan bangun pagi untuk menyelesaikan tugas-tugas” ucap seorang teman.

“tapi… hidup kan tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan… pada akhirnya kita hanya perlu untuk mencintai apa yang kita kerjakan. Ketika tak bisa ‘do what you love, yaudah pilih saja love what you do” lanjutnya

wanita memang begitu, mereka selalu bisa menemukan solusi terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Sebab satu hal yang mereka butuhkan, yakni didengarkan. Meskipun wanita senang didengarkan, bukan berarti mereka egois dan tak mau mendengarkan orang lain lho. Sebab wanita juga dikaruniai sifat empati yang tinggi. Sehingga ia akan mudah tersentuh dengan kisah atau keadaan orang lain yang menyedihkan.

Aku bukan dalam posisi membela wanita karena aku juga wanita ya, tapi aku berbicara berdasarkan mayoritas fakta yang aku temukan ketika berinteraksi dengan mereka, para kaum hawa. Setiap orang baik laki-laki atau perempuan tentu memiliki kecenderungan sifat yang dapat kita simpulkan sebagai sifat dominan laki-laki atau perempuan.

Dan mayoritas perempuan yang aku temui memiliki sifat ingin didengar dan empati yang tinggi. meskipun ada juga pencilan yang hanya ingin didengar dan tak mau berempati pada kisah orang lain dengan tak mau balik mendengarkan kisah mereka. Orang semacam ini biasa kita sebut sebagai orang egois.

kalau kamu? termasuk memiliki sifat yang mana?*

*pertanyaan khusus wanita

Advertisements
By pradilamaulia Posted in Belajar

Tunjukkan Agar Mereka Menghormati

Pernah tidak kalian agak enggan atau bahkan malu dianggap alim? Jujur, aku pernah. Ada suatu masa dimana aku selalu membantah dan menolak jika teman-teman menilaiku alim. Padahal kan apa masalahnya coba? Dianggap alim bukannya justru positif ya?

Dulu, aku beranggapan bahwa penilaian alim dari orang lain dapat membatasiku. Aku khawatir nantinya ketika aku melakukan hal yang kurang baik, maka mereka akan berkata “lho kok yang katanya alim malan begitu?” Aku khawatir mereka akan kecewa. Di sisi lain anggapan alim aku pikir dapat menimbulkan riya’ dalam diriku.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, aku sadar bahwa label yang orang berikan tak lepas dari apa yang kita tunjukkan dalan keseharian kita. Mulai dari penampilan, tutur kata dan juga tingkah laku. Konsistensi tindak tanduk kita dalam keseharian akan sangat mempengaruhi respon orang lain kepada kita. Respon ini dapat berupa respect atau disrespect. Jika kita konsisten terhadap prinsip yang kita pegang, orang lain akan respect dan bahkan akan mengikuti aturan main kita yang mungkin di awal berbeda dengan kebiasaan mereka.

Sederhananya akan aku ceritakan seperti apa yang aku alami di rumah (semoga dapat diambil hikmahnya yaa). Aku adalah anak ketiga dari 4 bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Kakak keduaku adalah anak yang ditunjuk ibu untuk tinggal di rumah bersama ibu karena ketiga anak lainnya merantau. Ketika kakakku menikah, dia dan suaminya tinggal di rumah ibuku. Dalam aturan islam, kakak ipar tetap dihitung sebagai orang asing, jadi aku harus tetap menutup auratku ketika ia berada di rumah.

Ketika aku sedang pulang ke rumah, sepanjang hari (baik siang maupun malam) aku akan selalu memakai kerudung jika ada kakak ipar di rumah. Awal-awal bersikap seperti ini tentu tak nyaman. Bayangkan saja, rumah yang seharusnya menjadi tempat bebas berekspresi dan bebas berpenampilan menjadi agak terkekang karena ada orang baru. Tapi aturan tetap aturan, jadi tetap harus dan kudu dilaksanakan.

Ketidaknyamanan bukan hanya dari dalam diri, namun juga dari anggota keluarga yang lain. Mulai dari ibuku sampai kakakku semuanya mengomentari, komentar mereka misalnya “kamu ga gerah pake kerudung terus?” Atau “Buka aja sih kerudungnya, sama keluarga ini kok”. Komentar mereka aku jawab kadang hanya dengan penjelasan singkat atau senyum saja. Aku berusaha untuk tetap konsisten dengan sikap ini. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Kondisi menjadi berbalik. Mereka yang awalnya menyuruhku tak usah memakai kerudung di rumah menjadi yang paling mengingatkan. Aku biasanya tidak memakai kerudung ketika kakak iparku tidak di rumah. Ibuku, kakakku bahkan keponakanku yang masih di bawah umur saat itu akan langsung mengingatkanku untuk segera memakai kerudung ketika mereka mendengar kakak iparku sudah pulang. “Mba… pake kerudungnya mas sudah datang”. MasyaAllah… aku terharu sekali terhadap sikap mereka. Ternyata benar, ketika kita menunjukkan pilihan sikap atau prinsip kita, maka orang lain akan melabel kita seperti itu dan mereka akan menghormati itu.

Jadi, jangan heran jika orang lain memberikan penilaian kepada kita berdasarkan apa yang sering mereka lihat pada diri kita. Jika ingin dinilai rapi, tunjukkan kalau kita rapi. Jika ingin dinilai rajin, tunjukkan kalau kita rajin. Pun jika ingin dinilai sebagai pribadi yang menjaga diri, tunjukkanlah sikap seperti itu, konsisten dengan sikap itu, maka orang lain akan menghormati terhadap pilihan sikap kita. 🙂

By pradilamaulia Posted in Belajar

Mantan Terindah (Teman Hijrah #1)

Ini adalah kali pertama aku mengikuti kajian di masji alumni IPB. Letak masjid ini sangat strategis, sebab masjid ini terletak tepat di samping salah satu mall besar di Bogor, yakni Botani Square. Tema yang diangkat dalam kajian kali ini cukup unik, tentang Mantan Terindah. Kajian kok temanya agak gimana gitu ya? Bahas tentang apa ya? Daripada penasaran, yuk mari aku jabarkan beberapa poin yang aku dapat dari kajian yang diselenggarakan oleh Teman Hirah ini (jika ingin follow akun Instagramnya silakan di @temanhijrah_).

Ustad Hilman Fauzi membuka kajian dengan sebuah slide pengertian mantan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Mantan adalah sesuatu atau seseorang yang sudah pergi, tetapi kadang datang tiba-tiba di pikiran, kadang datang tiba-tiba mengungkit kenangan. Menjelaskan tentang pengertian mantan saja, penjelasan ustad Hilman disambut dengan cekikikan dan senyum-senyum kecil dari para peserta kajian. Bahkan ada yang berkata

ia…bener banget hehe

Mantan itu alumni hati, jadi jangan heran jika suatu saat reuni lagi. Semakin riuhlah tanggapan para peserta kajian yang didominasi oleh anak muda ini. Aku bergumam dalam hati

waduh kalo reuni lagi lalu tiba-tiba terjebak di ruang nostalgia gimana ya…udah kayak lagu aja ni hehe”.

Lalu, dari sekian mantan, tentu ada mantan terindah. Siapakah mantan terindah itu?. Mantan terindah adalah seseorang atau sesuatu yang telah tidak bersama kita lagi, namun kehadirannya dapat menjadi sumber kebahagiaan yang menerangi kehidupan selanjutnya. Jika sepeti itu pengertiannya, mantan ternyata banyak jenisnya ya. Bisa mantan teman, mantan sekolah, mantan pekerjaan, bahkan… yang terpenting adalah mantan amalan kita. Lalu… apakah kita telah memiliki mantan-mantan terindah?

Hari ini… dunia adalah nyata, akhirat hanyalah cerita. Namun kelak jika kita telah mati, dunia hanyalah cerita, akhirat menjadi nyata. Jika demikian, apakah kita telah mengumpulkan mantan-mantan amalan terindah kita untuk bekal di akhirat nanti?

“Tiga perkara yang akan mengantarkan mayit, keluarga, harta dan amalan. Ua perkara akan kembali dan satu perkara yang akan tetap tinggal bersamanya. Yang akan kembali adalah keluarga dan harta, yang akan tinggal adalah amalannya” (HR. Mutafaq ‘Alaih).

Kajian ini begitu membekas di hatiku. Dengan judul yang terlihat menye-menye itu, ternyata kaya akan pelajaran dan pengingat. Aku sangat bersyukur telah Allah berikan kesempatan untuk datang dalam majelis ilmu tersebut. Semoga catatan kajian ini dapat memberikan manfaat kepada teman-teman yang membaca, dan semoga  mantan-mantan terindah yang kita miliki dapat menjadi penyelamat kita di akhirat nanti. Aamiin…

By pradilamaulia Posted in Belajar

Tak Ada yang 100%

Suatu ketika, keponakanku ditegur oleh ibunya. Persoalannya adalah tentang penampilan. Ada apa dengan penampilannya? Tak ada masalah besar si, hanya saja dia sudah terlihat terlalu gemuk. Fyi, keponakanku ini laki-laki, ketika masih duduk di bangku SMP badannya ideal karena dia sering bermain futsal. Namun, ketika memasuki bangku SMA, dia tak bergabung lagi dengan tim futsalnya. Porsi makannya masyaAllah buanyaaak banget, nasinya menggunung ditambah lauk makin menggunung. Sebenarnya porsi makannya memang dari dulu seperti itu, namun karena tidak diimbangi olahraga, jadilah ia membengkak (tinggi besar hahaha).

Tak hanya ibunya yang ngomel, ibuku, saudara-saudaraku serta akupun juga sering mengomentari agar dia olahraga. Sebab terlalu gemuk juga berbahaya untuk kesehatan.

“Viant… kamu tuh jadi ga kelihatan gantengnya kalo terlalu gemuk gitu” komen ibunya suatu ketika

Keponakanku dengan santainya langsung menjawab 

“Ga ada manusia yang sempurna bu”

Hahahaa…. aku tertawa dalam hati mendengar jawaban kocak keponakanku. Mendengar jawaban tersebut, ibunya langsung terdiam. Jawaban keponakanku memang benar, namun penggunaannya yang keliru. 

Berbicara tentang “tak ada manusia yang sempurna” aku jadi teringat nasehat ibu dan juga beberapa tanteku tentang kriteria pendamping hidup (duh,,, maap yak,,, tiba-tiba nyambungnya kesini hehe).

“Nak… kalo misal ada laki-laki baik yang datang, jika misal nilai untuknya 50-75% lebih baik diterima ya, karena tidak akan ada yang 100%” kata tanteku suatu ketika

Mendengar nasehat itu, aku hanya manggut-manggut agak loading karena dulu belum terlalu paham. Aku mulai paham ketika ibuku pernah memberikan nasehat seperti ini.

“Kalau kamu mencari yang sama persis seperti kriteria kamu, ya akan sulit,,, sebab tidak ada manusia yang benar-sempurna. Pasti ada saja kekurangannya”

Setelah direnungkan kembali, ternyata memang benar nasehat-nasehat tersebut. Jangankan orang lain, terkadang kita sendiri merasa tidak puas dengan diri kita sendiri. Misal, kita pernah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya hal tersebut tidak kita sukai. Sehingga ketika telah selesai mengucapkan atau melakukan hal tersebut baru sadar “lho,,, kok aku bilang kayak gitu tadi ya,,,” kemudian timbul rasa sesal.

Benar ya, memang tak ada yang benar-benar ada yang 100% sesuai dengan ekspektasi kita. Pasti ada saja kekurangannya, sebab sejatinya kekurangan itulah yang nantinya akan membuat kita belajar untuk saling bersabar dalam menerima kekurangan masing-masing. 😀

*ditulis di ruang kantor yang telah sepi (udah pada pulang)

By pradilamaulia Posted in Belajar