Teman SMP

Ketika baru masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku sangat senang karena aku memiliki banyak teman baru. Salah satu temanku bernama Hozaimah, dia adalah anak yang baik dan ramah. Selain itu, dia juga anak yang pintar. Terbukti, tiap pelajaran di kelas dia selalu aktif. Tiap ulangan, dia juga selalu mendapatkan nilai yang tinggi.



Suatu ketika, aku bermaksud untuk bermain ke rumahnya. Dengan maksud agar lebih akrab dengannya. Saat aku tiba di rumahnya, aku sangat terkejut. Rumah Hozaimah sangat sederhana bahkan amat sangat sederana. Rumahnya terbuat dari bambu yang sudah sangat usang. Ketika aku memasuki kamarnya, aku semakin kasihan padanya, ternyata tempat tidurnya hanya beralaskan tikar dan tempat tidurnya terbuat dari bambu, tidak ada kasur. Lantai rumahnya juga tanah, tidak ada tegel apalagi keramik.
Bertambah kagumlah aku pada sosok temanku ini, dia memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Bayangkan saja, tiap hari dia harus menempuh jarak 10 Km pulang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Selain itu, karena dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, dia harus membantu orang tuanya di sawah tiap pulang sekolah. Belum lagi apabila sudah tiba musim tembakau, malam haripun dia juga harus bekerja memebantu orang tuanya. Meski sesibuk itu, dia tetap saja dapat mempertahankan prestasi belajarnya.
Setelah lulus SMP, aku kehilangan komunikasi dengannya karena aku memilki urusan dan diapun juga memilki urusan lain. Aku baru bisa bertemu dengannya ketika aku akan berangkat ke IPB. Aku sangat terkejut ketika aku melihat seorang perempuan menggendong anak kecil memanggilku, ternyata dia adalah Hozaimah, teman SMPku dulu. Sekarang dia sudah memilki seorang anak. Dia bercerita bahwa dia tidak dapat melanjutkan sekolah karena orang tuanya tidak memiliki biaya untuk menyekolahkannya. Setelah lulus SMP, orang tuanya menjodohkannya dengan pemuda yang berasal dari Desa yang sama dengannya, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, dia menyetujui perjodohan itu. Namun, sayangnya orang yang menjadi suaminya hanyalah seorang lulusan SMA. Sehingga tiap hari, pekerjaan suaminya hanyalah sebagai penjaga bengkel. Penghasilan suaminya tidaklah seberapa, sehingga dia harus membantu dengan cara mengembala sapi milik tetangganya.
Aku sangat sedih melihat nasib temanku ini. Karena keterbatasan biaya, dia tidak dapat melanjutkan sekolah dan harus dewasa sebelum waktunya. Namun, ada satu hal yang membuatku tetap menyimpan kekaguman pada dirinya, yakni meskipun dia harus melalui hidup yang tidak mudah dia tetap terlihat bersemangat dan keceriaan tetap terpancar dari wajahnya. Dia tetap menikmati dunia yang dia lalui dengan caranya sendiri. Hidup sulit tidak lantas membuatnya menyesali nasib, namun dia mampu melihat sisi positif dari hal yang menurut orang lain sulit.

Ketika Aku Kelas 3 SMA

Ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA, aku mulai berpikir apakah yang akan aku lakukan jika aku lulus nanti. Apakah mungkin aku bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yakni Universitas seperti orang-orang yang lain? Ataukah aku hanya menjadi pengangguran yang akan memperbesar persentase pengangguran di negeri ini?. Ah, semuanya masih belum bisa ku pastikan, semuanya masing berupa bayang-bayang.



Senang rasanya melihat kakak kelas yang datang ke sekolah memakai almamater kebanggaan mereka ataupun mendengar pembicaraan teman sekelas yang membicarakan tentang rencana mereka yang akan melanjutkan sekolah ke Universitas ini atau Universitas itu. Ingin rasanya bergabung dengan mereka dan mengatakan rencanaku untuk melanjutkan ke Universitas yang aku inginkan. Namun, aku tidak berani melakukan hal itu, sebab aku tidak bisa memastikan apakah aku dapat melanjutkan sekolah atau tidak. Aku tidak bisa memastikan apakah orang tuaku akan mampu membiayaiku jika aku ingin melanjutkan sekolah.
Jujur, ketika aku masih duduk di kelas satu SMA aku tidak pernah berpikir apa yang akan aku lakukan jika aku lulus nanti. Berbeda dengan teman-temanku yang telah memiliki rencana matang untuk melanjutkan pendidikan mereka. Bahkan mereka telah gencar mencari info tentang Universitas yang mereka inginkan sejak awal agar mereka mendapatkan info terbaru. Sedangkan aku, jangankan mencari info, menentukan Universitas yang aku inginkan saja aku belum tahu. Sebab aku tidak punya bekal yang cukup akan hal itu.
Aku berasal dari keluarga yang biasa saja, selain itu aku tinggal di Desa sehingga info yang aku dapatkan juga sangat terbatas sebab lingkungan dan masyarakat di Desaku kebanyakan juga masih tradisional. Jumlah sarjana di Desaku masih sangat jarang, Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa kuliah, hanya orang mampu atau orang yang pintar. Aku merasa tidak termasuk dalam golongan itu.
Setiap kali temanku menanyakan tentang rencanaku ke depan, aku bingung harus menjawab apa, sebab aku memang benar-benar tidak punya rencana. Sampai akhirnya, tibalah saatnya Universitas-Universitas di Indonesia membuka pendaftaran melalui program PMDK. Bosur dan poster mulai berdatangan. Yang pertama datang adalah brosur dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Guru BK di sekolahku menerangkan bahwa IPB mengundang siswa-siswi dari sekolahku yang ingin melanjutkan di sana dengan syarat termasuk 25% peringkat teratas di kelas. Teman-temanku menyarankan agar aku ikut mendaftar, namun aku masih ragu. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan jika aku kuliah disana. Dan hal yang paling membebani pikiranku adalah masalah biaya.
Aku mengutarakan semua hal yang aku bingungkan ini kepada orang tuaku. Hal yang sangat mengejutkan aku dapatkan dari mereka. Orang tuaku meyakinkanku untuk segera mendaftar ke IPB, masalah biaya akan mereka pikirkan belakangan. Aku sangat senang mendengar hal itu, dengan segera aku melengkapi semua berkas yang dibutuhkan dan dikumpulkan kepada guru BK agar segera dikirim ke IPB.
Akhirnya pada tanggal 3 Pebruari, pengumuman keluar. Alhamdulillah, aku termasuk dalam daftar nama siswa yang diterima dan yang lebih menggembirakan lagi adalah aku termasuk calon mahasiswa yang diberi kesempatan untuk memperoleh beasiswa. Aku memberitahukan semua kabar bahagia itu kepada orang tuaku. Perasaan haru dan bahagia kami rasakan dan ucapan syukur kepada Allah SWT tak henti- kami panjatkan.
Sekarang, aku telah resmi menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dan mendapatkan beasiswa. Banyak pelajaran berharga yang telah aku dapatkan sebelum kuliah disini. Hal yang paling aku ingat adalah “ jangan pernah ragu akan masa depanmu, yang terpenting adalah lakukan yang terbaik sekarang dan nikmatilah hari-hari yang kau lalui saat ini. Sebab, hal yang akan kau peroleh di kemudian hari akan sangat bergantung dengan usaha yang kau lakukan saat ini”. Jadi, yakinlah jika kau melakukan hal yang terbaik saat ini, maka kau akan mendapatkan hal yang terbaik di kemudian hari.