Jika Nanti Aku Punya…

Beberapa hari yang lalu…aku, Dita, dan Dian diundang oleh teman SMAku untuk rujakan di rumahnya. sebelumnya dia datang ke kosanku untuk mengundang kami semua (anak madura di kosanku) untuk rujakan, saking niatnya dia sampe beli buah-buahan dari kota Bogor. temenku ini emang kalau udah niat, dia bakal bener-bener tu melaksanakan keinginannya-salut-. nama temenku ini Deden, sebenernya dia orang Madura tapi ga tau kenapa namanya kayak orang Sunda ya :D. nah,,,pas dia dateng ke rumahku, ternyata teman-teman di kosan pada ga ada, cuma aku sendiri. Deden terlihat agak kecewa karena dia sudah bersusah payah beli buah-buahan ke kota, eh,,,yang mau di undang malah ga ada. aku, sebagai teman yang baik -he- memberikan solusi

ya udah Den, ntar aku aja yang ngasih tau mereka…besok kalo emang ga ada agenda, kami ke rumahmu deh…

bener ya Dil…ajak yang lainnya juga ya…yang banyak ga papa,,,ni aku lagi ngidam  pengen banget rujakan, buahnya udah aku beli ni, mangga, nanas, dan timun

terus,,,besok kami bawa apa???

bawa diri aja


ah…jadi ga enak, tapi ga papa sih,,,malah bagus, makan gratisss -hahaha-. malam harinya langsung aku jarkon teman2 se-kosan yang mau ikutan rujakan. semua konfirmasi mau ikut dan kesepakatan mau berangkat jam 6 pagi. keesokan harinya, kami sudah siap, namun hanya 3 orang (yang aku sebutkan di atas tadi). sebenarnya aku agak takut sih…soalnya pagi-pagi banget belum sarapan langsung rujakan, takut bahaya untuk pencernaan. tapi,,, tak apa lah,,,sekali ini aja -demi teman ni :)-. setelah menempuh perjalanan jauh karena rumah Deden ada di Perumahan Dosen -di belakang kampus- akhirnya kami sampai di rumahnya.  rumah benar-benar suasaba rumaha banget, adem, asri, dan sepi (ga crowded kayak di Bara)

lalu, mulailah kami melancarkan aksi mengupas, memotonh, mengiris, dan mengulek sambel —> rujakan pun dimulai -asiiiikk- kami makan dengan sangat lahap diselingi tawa dan candaan yang sangat menyenangkan. selang beberapa saat, tiba2 datanglah seorang bocah gendut dengan pipi tembem dan kulit putih. tertarik dengan kehadiran bocah ini, aku bertanya pada Deden 

itu anak siapa Den? anakmu??? hehehe

anak tetangga sebelah, anaknya Dosen yang tinggal di sebelah rumahku

ooohh…emang sering main kesini ya” lanjut dita yang bertanya

ia, dia sering main kesini” 

si bocah ini lalu berlari dan cari-cari perhatian mendekati kami -duuuhh…gemesnya-. seperti gaya bocah pada umumnya, bocah yang satu ini awalnya malu-malu, kami tawari buah, ga mau..itu ga mau…. lalu, ketika aku tanya namanya, dia menjawab “Arka”. oohh jadi namanya Arka -nama yang bagus-
sebenarnya aku sangat ingin mencubit pipinya yang tembem itu, tapi sayang tanganku berlumuran sambel, kasian nanti dia kepedesan. Deden yang sudah akrab dengan Arka berusaha memanggilnya semakin mendekat



Arka, sini main sama Om

hahaha….apa? Om??? sontak aku dan teman-teman yang lain tertawa terbahak-bahak. Deden sok tua banget, mengaku dirinya sebagai Om. tak hanya itu, dia malah melanjutkan kalimatnya yang membuat kami makin tertawa

sini ka,,,kenalin ni ada tante juga…

whaaat??? tante?? ga mauuu….enak aja, emangnya aku udah tante-tante. ngasal nih orang 😀

jangan Arka…jangan panggil aku tante ya,,,panggil aku MADAM hahaha

dengan gaya usil…aku ganggu si Arka. lalu, aku ajak dia ngobrol…lama-kelamaan dia makin akrab dengan kami. bahkan dia ikut membantu kami mencuci buah -anak pinter-. kemaren Deden sempat bercerita kalu dia ngajar ngaji anak tetangganya, mungkin anak ini kali ya…ternyata benar, yang Deden ajari ngaji adalah si Arka dan beberapa teman lainnya, namun yang paling rajin, yah,,,si Arka ini.

Arka,,,belajar ngajinya sama aku aja ya,,,jangan sama Om Deden terus…” aku mengajak Arka ngobrol

ga mau ah…aku mau sama Om Deden aja

kenapa??aku lebih pinter lho daripada Om Deden

aku ga suka sama kamu

kenapa?

aku kan ga mau pacaran… 

hah??? aku bingung…jawaban anak TK yang ga nyambung. udah nyampe ke pacaran segala lagi. dengan muka curiga aku melirik pada Deden yang sedang ayik makan.

Dedeeen,,,kamu mengajarkan apa pada bocah ini????

waduhhh…kenapa Dil?

ngomongnya ngelantur…banyak liat sinetron jangan-jangan nih anak

yah…sebenarnya aku dan teman-teman di sini antara kasihan dan nggak Dil sama dia. di satu sisi, dia ga punya temen kalo ga main kesini, di sisi lain dia yang kasihan kalo main kesini terus,,,di sini kan isinya udah orang yang pada dewasa, jadi kalo bercanda, ya gaya orang dewasa, kasihan juga kalo dia ikut bercandaan kami

wah…pantesan ngmongnya kayak gitu…ternyata,,,dirimulah penyebabnya..ckckckck

dalam hati, aku merasa miris dan kasihan melihat Arka yang masih TK ini, dia terlihat kesepian, jarang teman bermain, adanya cuma mahasiswa yang menjadi tetangganya. Perumahan Dosen IPB memang terkenal sepi dan jarang orang yang tinggal di sana. jadi, wajar sekali jika Arka merasa kesepian kekurangan tempat itu. bahkan saking tidak ada nya tempat bermain lain, Deden bilang kalau Arka ngambek dan ga mau main ke rumah Deden lagi, beberapa menit kemudian dia bakal balik lagi -benar2 bocah-.

melihat Arka yang kesepian ini, terbetik satu niat dalam hatiku. jika aku punya anak nanti,,,aku ga mau membuat anakku kesepian kekurangan teman bermain. aku mau anakku tumbuh aktif banyak teman, dan yang terpenting anakku harus memilki pengetahuan agama yang baik. selain itu, aku mau anakku nanti tidak menjadi anak manja yang selalu bergantung pada orang tua, akan aku jadikan dia mandiri, aku sayangi, dan aku hormati agar dia bisa mengerti dan paham bahwa dia memilki peran dalam keluarga kami nantinya.

waduh…kok tulisanku tiba-tiba berubah jadi seputar anakku nanti. tapi, tak apa lah semoga ini menjadi doa yang nantinya dapat menjadi kenyataan. amin…. 😀

*ada yang punya niat yang sama??? hehehe
Advertisements

Gap yang Semakin Melebar

“kami tidak butuh orang yang wah,,,karena biasanya mereka lebih ribet dengan pikiran mereka sendiri, lebih baik orang yang simple, santai, dan bersungguh-sungguh. itu saja”

itulah petikan statusku di FB beberapa hari yang lalu, yah mungkin terdengar menjudge seseorang, padahal tidak. itu adalah ungkapan perasaanku melihat beberapa hal yang terjadi dan menjadi hal yang dianggap biasa di kampusku, atau mungkin di masyarakat umumnya telah berlaku seperti itu? entahlah, yang pasti aku tidak suka dengan sistem sperti itu. sistem apa? baiklah akan aku rincikan sistem apakah itu.
mungkin aku termasuk orang yang tidak suka “menganggap Wah” setiap sesuatu (ini hanya berlaku untuk makhluk ya) sebab bagiku setiap orang itu memilki kelebihan masing-masing yang berbeda dari yang lainnya, jadi untuk apa membedakan kalau yang ini Wah dan keren sedangkan yang lainnya cemen, tidak berkualitas dan lain-lain.
sepertinya tulisan ini makin membingungkan, maaf sebelumnya mungkin karena aku menulis dalam keadaan yang penuh luapan emosi yang bercampur aduk -he-. perasaan ini mulai aku rasakan ketika aku berdiskusi dengan dua orang kakak kelasku di sebuah stand Penyambutan mahasiswa baru. 2 kakak kelasku ini memang termasuk orang yang kocak namun pemikiran mereka sangat mendalam -kritis-. awalnya percakapan dimulai dengan gaya bercanda “Ala kami” anak madura apabila bertemu satu sama lain. namun gelak tawa dan bercandaan kami terhenti ketika 2 kakak kelasku ini melihat sesuatu yang aku pakai –something-. melihat something mereka langsung saja mem-bullyku. aku yang telah biasa dengan tingkah kocak dan aneh mereka tidak terlalu menghiraukan bercandaan mereka. namun, di tengah bercandaan mereka ada kalimat mereka yang menurutku menarik dan sesuai dengan apa yang ku rasakan selama ini.
  

di kampus kita ini, orang yang biasa dibina dengan cara yang biasa saja pula, sedangkan orang yang sudah bagus, baik dan telah memilki potensi dibina dengan sangat baik. sehingga gap diantara mereka menjadi semakin melebar. yang hebat menjadi semakin hebat, sedangkan yang biasa yah,,,tetap aja biasa saja dan sulit untuk menjadi hebat seperti yang dibina dengan baik tersebut. itulah yang tidak kami suka dengan sistem di lingkungan sini
mendengar mereka berdua berkata seperti itu, sontak hatiku kaget -meskipun tetap menampakkan muka biasa saja-, itu kan yang selama ini aku pikirkan. ternyata bukan hanya aku yang berpikiran seperti itu, kakak kelas 2 tahun diatasku yang telah hampir lulus ini pun juga memilki perasaan yang sama. astaghfirullah….bahkan  mereka menambahkan bahwa yang mereka katakan itu berdasarkan penelitian mereka selama 4 tahun di kampus. waduh…mereka yang telah 4 tahun saja belum bisa merubah keadaan ini, apalagi aku? 😦
tidak tahu kenapa aku kurang setuju apabila menunjuk seseorang di suatu jabatan tertentu itu harus berdasarkan latar belakang mereka sebelumnya. menurutku ini justru menjadikan mereka yang telah baik menjadi semakin baik, semakin hebat, dan semakin sempurna. sedangkan di sisi lain ada orang yang memilki latar belakang biasa saja, namun mereka memilki keinginan untuk menjadi lebih baik tidak terpilih, sehinga kapan mereka akan memilki kesempatan untuk menjadi lebih baik dan lebih hebat??? oke, mungkin seseorang akan berkata mereka yang tidak memilki latar belakang baik dapat mengalami kegagalan, tidak kompeten, tidak konsisten, dsb. namun menurutku itu adalah proses belajar, biarkanlah mereka menempuh proses itu, jatuh, bangun dan keras, agar mereka bisa menjadi pribadi yang siap nantinya. jika mereka tidak diberi kesempatan, kapan lagi???
kekecewaanku ini akhirnya sedikit terobati setelah kak Elang Gumilang dalam sebuah seminar kewirausahaan mengatakan bahwa
“ketika memulai usaha, saya rekrut tuh orang-orang penting yang saya kenal seperti ketua BEM, ketua HIMPRO, dan ketua-ketaua lainnya. karena saya beranggapan bahwa mereka memilki kualifikasi yang baik. namun, apa yang saya anggap di awal tidak sesuai teman-teman, kenapa? karena ketika saya ingin berdiskusi dengan mereka, justru sangat sulit sebab meraka ada rapat ini lah itu lah. wah…ini tidak bisa dibiarkan. akhirnya saya mengajak teman-teman saya lainnya yang biasa saja, ternyata mereka lebih sesuai dengan apa yang saya harapkan sebelumnya. jadi dalam bisnis tidak perlu orang-orang yang kita anggap hebat, tetapi kita butuh orang yang mau bersungguh-sungguh ” 
mendengar kalimat dari kak Elang tersebut, aku menjadi sedikit lega, ternyata kekhawatiran perasaanku selama ini telah menemukan jawabannya. ternyata memang benar, orang yang “dianggap wah” terkadang telalu ribet dengan pikiran mereka sendiri. lebih baik orang yang biasa saja tetapi penuh dengan kesungguhan.
Wallahu a’lam bisshawab ^_^
Bottom of Form