Sertai kata-kata yang baik

Percakapan antara Aku dan Dewi (X) dengan seorang Bapak (Y)
Y: “kalian jualan ini buat acara apa?”
X: “ini pak, kami mau menggalang dana untuk acara sosialisasi IPB ke daerah-daerah…”
Y: “emangnya IPB ga terkenal?”
X: “terkenal sih pak, tapi di daerah kami, IPB masih belum diminati”
Y: “kalian dari mana?”
X: “kami dari Madura pak, tepatnya Pamekasan”
Y: “ngapain kamu sosialisasi IPB ke Madura? Emangnya IPB ga bagus?”
X: “IPB bagus pak, tapi orang Madura itu belum banyak yang berminat kuliah di IPB, makanya kami ingin memperkenalkan pada pelajar di sana kalau IPB itu bagus, dan ingin menjelaskan kepada mereka tentang pertanian secara luas, karena pada umumnya pandangan mereka terhadap pertanian masih sempit”
Y: “emang sih,,, orang Madura tuh pikirannya sempit-sempit”
APA??? Asal banget ni bapak ngomongnya. Aku mulai emosi, tekanan darah sudah mulai meninggi, napas mulai naik turun. Untun aja ada Dewi yang masih bertahan dengan senyum cerianya menghadapi bapak yang satu ini

X: “bukan sempit gitu maksud kami pak…”-langsung dipotong oleh sang bapak
Y: “ia kan, orang Madura itu pikirannya memang sempit. Mereka mikirnya garam…garam… aja”
Aku langsung memotong karena ga mau membiarkan bapak ini meneruskan penghinaannya pada kami
X: “makanya pak, kami ingin mengadakan acara ini agar pikiran mereka ga sempit lagi, agar mereka lebih terdidik dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi”
Y: “oh…jadi biar mereka kuliah, gitu?” -tampang meremehkan-
X: “iya pak…”
Y: “kalian jurusan apa? garamunologi?” –tetap aja ngejek tentang garam
X: “(dalam hati berkata: mana ada jurusan gituan pak…) saya jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, teman saya ini jurusan Manajemen”
Y: “loh…kalian kan IPB, memangnya ada jurusan seperti itu? Bukannya pertanian, perikanan, atau kehutanan?”
X: “ada pak, pertanian kan juga butuh orang-orang ekonomi agar kebijakan ekonominya pro pada petani”
Sebenarnya aku dan Dewi heran pada bapak yang satu ini, sebenarnya mau beli ga sih? Nganjak ngobrol ngalor ngidul sambil menghina gini.
Y: “berapa ini harganya?”
X: “50 ribu pak,”
Y: “kalian ngambilnya 10 ribu ya, terus kalian jual 50 ribu?”
X: “enggak pak, ga dapet kalo 10 ribu”
Y: “terus berapa?”
X: “harga aslinya itu 25 ribu, tapi karena kami ngambil banyak, harganya jadi 21ribu”
Y: “waduh,,,kalian ngambil untung lebih dari 100%, ga boleh itu…gimana kalian ini, kalian dosa. Kalo kalian ngambi 100ribu, maksimal kalian jualnya 150ribu, ga boleh lebih dari itu”
X: “boleh kok pak,,,saya ngambil minor ekonomi syariah, kata dosen saya boleh, asal liat daya beli konsumennya”
Y: “wah…itu berarti salah syariahnya…ya udah…karena kalian sudah berdosa karena ngambil untung yang banyak dan dosa kalian itu sudah besar, melebihi pulau Madura, jadi biar dosa kalian tidak semakin besar, sisa dari harga itu, saya kasih sebagai hadiah.”
Sebenarnya ingin sekali menyangkal dan mendebat pendapat bapak tadi tentang syariah dan hukum mengambil keuntungan yang aku pelajari di minorku, tapi tak usah lah… kami pun langsung memutuskan pamit saja.
X: “terimaksih Bapak….”
Setelah pergi dari rumah Bapak itu, hatiku sangat sedih…senyumku hilang, Dewi terus berusaha menghiburku, tapi tak mempan. Meskipun Bapak itu sebenarnya baik dan telah membantu kami dengan membeli brownis kami, tapi aku justru merasa sedih karena dia telah menghina kami, orang Madura. Kenapa harus menghina? Bukannya kita bersaudara? Kita satu bangsa, satu Negara, dan yang terpenting kita se-agama, saudara semuslim -karena aku tau bapak ini muslim-. Menyedihkan sekali.
Sebenarnya bisa saja aku balas penghinaan bapak itu, aku balik caci maki dia dan aku langsung pergi saja dari rumahnya. Tapi, ada satu hal yang menahanku, aku ingin membuktikan bahwa kami orang Madura memilki sopan santun yang baik, kami diajari dan dididik oleh Bapak dan Ibu kami untuk meghormati orang yang lebih tua.  Aku tahan emosiku karena aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa kami orang Madura bukanlah orang yang suka kekerasan, kami orang Madura bisa melawan dengan cara cerdas, bukan semata dengan fisik tanpa arti.
Mungkin ada sebagian orang Madura yang memilki watak keras, suka bertengkar, dan memilki pikiran sempit seperti yang dikatakan bapak tadi. Tapi, apakah semuanya seperti itu? Dengan tegas aku jawab “TIDAK”. Sangat tidak bijak menurutku men-generalisasi semuanya karena adanya sifat sebagian, sungguh sangat tidak bijak. Bahkan berdasarkan ilmu statistika, kesimpulan tersebut tidak signifikan.
Alhamdulillah aku dan Dewi mampu menahan emosi kami. Aku sadar bahwa aku dan teman-teman Madura lainnya di IPB ini menjadi “DUTA” bagi masyarakat Madura di sana. Tingkah laku dan sikap kami menjadi gambaran tingkah laku dan sikap orang Madura di sana. Oleh karena itu, karena kami seorang duta, maka kami harus menjaga sikap kami. Kami harus menunjukkan pada mereka (teman-teman kami) bahwa orang Madura adalah orang-orang yang punya sopan santun, menghormati hak-hak orang lain, dan pastinya orang Madura adalah orang-orang yang berpendidikan baik sehingga sikap dan tingkah laku kami pun harus mencerminkan sebagai orang yang berpendidikan.
Ada hal lain juga yang membuatku sedih terhadap tingkah laku bapak tadi. Dapat digambarkan oleh petikan ayat al-Qur’an di bawah ini:
Q.S Al-Baqarah: 262-263
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS. 2:262)
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.(QS. 2:263)

Advertisements

Danus Itu…


“Permisi Ibu/Bapak… kami mahasiswa IPB mau menawarkan Brownis (BrownCo) untuk penggalangan dana acara sosialisasi IPB ke daerah-daerah…”
            Kalimat itulah yang sering kami ucapkan beberapa hari ini. Yup, aku dan teman-teman GASISMA (Keluarga Mahasiswa Madura) sedang memanfaatkan liburan panjang ini untuk danus -dana usaha- dimana dananya nanti akan kami gunakan untuk acara PSG (Pekan Sosialisasi Gasisma) IPB fairdi Madura. Acara ini berupa seminar sosialisasi IPB yang bertujuan untuk memberikan motivasi kepada para pelajar SMA di Madura untuk melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi.
Kenapa harus sosialisasi? karena kami tau bahwa pelajar dari Madura banyak yang memilki potensi untuk dikembangkan, terbukti dari prestasi anak-anak Madura yang tak hanya sebatas lingkup nasional, tetapi sudah dalam lingkup Internasional. Misalnya, Andi Oktavian Latief (calon Doktor termuda Indonesia), ketua Mahkamah Konstitusi saat ini Mahfud MD, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun, kendala yang dihadapi pelajar Madura adalah terkait pada informasi dan sosialisasi. oleh karena itu, kami ingin mengadakan acara tersebut agar jumlah pelajar Madura yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi semakin banyak.
            Oke kembali lagi pada danus. Kami sudah tiga kali melakukan danus yakni ke perumhan Cimanggu, dan dua kali ke perumahan Yasmin. Tiap kali danus, kami membawa 30 brownis, dan tiap kali danus tersebut kami mendapatkan keuntungan rata-rata 800-900 ribu , lumayan bukan?. Sehingga selama kami danus 3 kali ini, saldo kami telah mencapai 2juta lebih. Alhamdulillah…
            Jika memandang keuntungannya, mungkin terasa sangat gampang dan menggiurkan. Tapi, untuk mendapatkan itu semua tentu dibutuhkan perjuangan. Kami mendatangi rumah demi rumah (door to door) dengan mengucapkan kalimat di atas. Respon yang kami dapatkan bermacam-macam, ada yang langsung membeli, ada pula yang langsung menolak kami mentah-mentah padahal kami belum mengeluarkan sepatah kalimatpun -sabar…hidup adalah perjuangan-, bahkan ada pula yang menghina kami, tepatnya aku dan adek kelasku. Sehingga aku merasa terhina dan sakit hati meskipun orang tersebut membeli brownis kami (ini akan aku ceritakan nati).

            Mendapatkan berbagai respon ketika danus tersebut, telah memberikan beberapa pelajaran pada kami. Pertama, mencari uang itu tidak mudah. Karena itu, kami harus lebih bijak membelanjakan uang. Kedua, menghargai tamu. Kami biasanya merasa senang jika ada tuan rumah yang kami datangi adalah orang-orang yang ramah, meskipun mereka tidak membeli brownis kami, dengan senyuman mereka saja kami sudah merasa sangat senang karena mereka menghargai kami. Ketiga, ketika sukses, harus Dermawan. Sebab ada hak orang lain dalam harta kita. serta pastinya, dengan danus ini akan dapat melatih pulic speaking dan kontrol emosi serta melatih jiwa wirausaha. sebab, ketika menawarkan brownis, kami harus lihai dalam marketing dan meyakinkan pembeli agar membeli produk kami. Selin itu kami harus tetap menjaga senyum ramah kami meskipun dalam hati mungkin sudah bête -haha- agar para pembeli tidak kabur. Hmm,,,jiwa-jiwa marketing harus ditumbuhkan.
            Terlepas dari semua itu, satu hal yang paling membuatku senang adalah kekompakan anak-anak GASISMA. Di sini semua panitia ikut membantu kegiatan danus, divisi danus hanya menjadi PJ(Penanggung Jawab) saja. Aku senang sekali bekerja dengan mereka. Meskipun mereka mungkin belum memilki banyak pengalaman dalam organisasi, tapi mereka memiliki keinginan kuat untuk belajar. Serta yang paling membuatku bangga adalah, mereka sangat bertanggung jawab pada tugas yang di amanahkan kepada mereka, sehingga kepanitiaan ini berjalan lancar. Setiap divisi menjalankan tugasnya masing-masing, sehingga hal ini tidak mengahambat pekerjaan divisi lainnya.
            Kami tidak hanya mengejar kesuksesan acara, tetapi bagi kami ukhuwah atau ikatan persaudaraan dan kekeluargaan adalah hal yang paling penting yang harus tetap kami jaga. Oleh karena itu, setiap kami danus, kami selalu mengagendakan untuk makan bersama. Ini penting, sebab kami tidak mau memeras keringat teman-teman kami yang telah bekerja keras dalam danus ini tanpa memberikan imbalan bagi mereka. Prinsip kami adalah para pedanus harus makmur -hahaha-. Semangat Danus…. (baru kali ini merasakan senangnya danus)

*ketika danus, rasa malu harus dibuang jauh-jauh, tingkatkan PeDe, dan jangan lupa senyum 5 cm

Salah Satu Bentuk Main-Main

 “Menurutku Ga ada bedanya punya pacar atau tidak, karena pacaran itu adalah salah satu bentu main-main. Kalau mereka memang serius, mereka ga mungkin melakukan perbuatan yang namanya pacaran. Jadi, seseorang yang sudah punya pacar di sana lalu mau pacaran lagi di sini, itu sama saja. Sama-sama bentuk main-main karena dalam pacaran itu tidak ada ikatan apapun yang sah.”
           
          Kata-kata dari adek kelasku ini masih terus terngiang-ngiang dalam pikiranku sampai saat ini. Mutlak benar, pacaran memang salah satu bentuk perbuatan main-main dimana dalam prosesnya banyak dikendalikan oleh syaitan yang terkutuk. Mereka memang selalu akan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan yang dilarang agama.
          
aku heran deh kalo orang pacaran itu dinasehati, mereka mesti bilang kami ga ngelakuin apa-apalah, kami pacaran serisulah, bahkan parahnya lagi malah bilang pacaran islami.  mana ada pacaran yang serius? Kalau memang serius, ya sudah menikah saja. Belum siap? Ya sudah ga usah pacaran. Bukannya di al-qur’an dan Hadist sudah jelas dinyatakan jauhilah zina dan segala penyebabnya. Kalau belum siap menikah, puasa saja. Pacaran ga ngapa-ngapain atau pacaran islami? Geram sekali mendengar orang menyandingkan kata islam dengan perbuatan yang tidak islami. Kalau istilah pacaran islami ini dibiarkan, maka akan muncul istilah-istilah dosa lainnya yang disandingkan dengan nama islam, seperti mabuk islami, judi islami, bahkan zina islami. Kamu mau seperti itu?
           Itu adalah nasehat yang diberikan oleh seseorang untuk seseorang. Jika aku menjadi orang yang dinasehati seperti itu, aku tentu akan sangat merasa malu, malu pada orang tersebut, malu pada teman-teman, dan pastinya malu pada Allah. Kenapa begitu susahnya meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah, pada itu semua untuk kebaikan kita sendiri. Berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, bahkan banyak hal yang telah Allah berikan kepada kita tanpa kita pinta dari-Nya. Kita mungkin tidak pernah meminta kepada Allah untuk dilahirkan dari keluarga yang baik. Tapi, Allah memberikannya bukan?. Lalu, Kita mungkin tidak pernah meminta untuk dijadikan anak yang soleh tau solehah, tapi Allah memberikan-Nya bukan? Masih banyak lagi nikmat yang Allah berikan tanpa kita pinta. Tapi, kenapa tak bisa meninggalkan perbuatan yang dilarang-Nya?

            Ada yang mencoba mencari pembenaran dari pacaran dengan mengatakan bahwa benar-benar tidak bisa meninggalkan pacaran karena dengan berpacaran akan semakin termotivasi untuk belajar. Aku juga sempat heran pada kasus yang satu ini. Sebenarnya, rasa suka atau cinta itu mah sudah fitrah dan pasti ada pada setiap diri manusia. bergantung bagaimana seseorang me-manage rasa itu dan bagaimana seseorang mengendalikan hawa nafsunya. Termotivasi? Kenapa begitu gampang mengatakan sang pacar yang masih belum pasti akan menjadi pasangan hidupnya sebagai sumber motivasi? Kenapa bukan orang tua? Kemana orang tua yang selama ini berjasa padanya, merawat dirinya dari kecil, serta yang selalu mendoakan dirinya dalam tiap sujud mereka? Memang nafsu dapat menutupi kebaikan yang terang sudah nyata.
 
            Kenapa ga boleh pacaran? Plis donk… siapapun udah tau kali alasannya kenapa. Kamu sudah tau kan kalu pacaran itu dosa?  “ia tau…tapi kalu udah sayang susah dil….”. udah tau dosa, masih aja dikerjain, ustadku pernah mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan perbuatan dosa, sedangkan ia tau bahwa yang dikerjakannya itu dosa, maka dosanya menjadi 2 kali lipat -hayo loh…-. Udah terlanjur sayang? Itu akal-akalan syaitan saja kawan, mereka tidak mau kalian menjauhi perbuatan dosa. Kita masih muda, Kita masih akan bertemu dengan banyak orang, pergi ke banyak tempat, dan merasakan banyak suasana, bisa saja nantinya rasa sayang yang kita anggap hanya untuk orang itu, ternyata berpindah kepada orang lain di tempat yang berbeda dan suasana yang berbeda. Bukankah hati mudah berbolak balik? Bagaimana jika orang yang terlanjur kau sayangi dan telah kau jadikan kekasih itu nantinya tidak kau sayangi lagi karena hatimu berpindah pada yang lain? Lalu, rasa sayangmu yang baru ini lebih besar dari pada rasa sayangmu pada orang sebelumnya? Bagaimana? Memutuskan hubungankah? Lalu bagaimana jika di sisi lain kekasihmu masih amat sangat menyayangimu. Apakah kau memikirkan perasaannya ketika kau tinggalkan ia demi yang lain? Bukankah itu mendzolimi? Bukankah itu perbuatan dosa lagi?
 
            Apapun alasannya, apapun pembenarannya, bagaimanapun caranya, pacaran adalah salah satu bentuk main-main, perbuatan dosa yang dilarang agama, tak ada keseriusan, tak ada komitmen yang jelas, apalagi unsur islami. Ya Allah jauhkanlah aku, keluargaku, dan teman-temanku dari perbuatan dosa yang engkau larang. Amin…
*lelaki sejati tidak akan pernah memetik bunga yang belum mekar pada waktunya 🙂
             

Awalnya dan Ternyata

Awalnya…ku kira kita telah terlampau jauh
Ternyata …kita masih dekat, bahkan semakin dekat
Aku senang menyadarinya
Awalnya…ku kira kau menutup diri
Ternyata…kau sangat terbuka, bahkan sangat terbuka
Aku senang mengetahuinya
Awalnya…ku kira kau pemilih
Ternyata…kau menerima apa adanya, bahkan sangat menerima
Aku senang melihatnya
Awalnya…ku kira kau  tak bersahabat
Ternyata…kau sangat bersahabat, bahkan sekarang kita menjadi sahabat
Aku senang merasakannya
Terkadang kau, aku dan kita sering terjebak pada persepsi pikiran kita masing-masing. Bahkan terkadang kita sering tidak berkembang karenanya. Awalnya mengira ini…ternyata yang benar itu. Awalnya merasa begini…ternyata yang benar begitu. Awalnya berpikiran kesana…ternyata yang benar kesitu. Selanjutnya, marilah kita belajar untuk tidak selalu terjebak pada ini semua, melihat lebih objektif, melihat lebih luas, dan melihat lebih dewasa karena inilah waktunya… telah tiba padaku, padamu, dan pada kita semua.