Menjaga Sebuah Janji

love_me_2-1024x768laki-laki memilki 4 ruang di hatinya, sedangkan wanita hanya memilki 1 ruang di hatinya”. Tapi aku percaya bahwa ada juga laki-laki yang hanya memilki satu ruang dihatinya, layaknya seorang wanita. Seperti seseorang yang akan aku ceritakan dalam tulisanku kali ini.

            Beberapa waktu yang lalu, aku memutuskan untuk pulang dengan alasan untuk mengumpulkan data penelitian. Padahal, sebenarnya niat utamanya adalah pulang, bukan untuk mengumpulkan data. Sebab aku benar-benar rindu pada keluargaku di rumah. Karena bertemu adalah satu-satunya obat dari rindu, maka aku memaksakan untuk pulang agar rindu ini tidak semakin menjadi-jadi ~haha.

            Ketika di rumah, aku menyempatkan diri untuk bersilaturrahim kepada seorang paman, sebut saja namanya Ahmad. Pamanku ini adalah seorang yang sehari-harinya menjadi imam masjid di kampungku. Orangnya sangat sederhana dan sering memberikan nasehat kepada keponakan-keponakannya, termasuk aku. Beliau telah menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku SMA. Mungkin, peristiwa ibadah haji menjadi peristiwa paling tak terlupakan bagi beliau. Bagaimana tidak kawan, saat beliau haji adalah saat dimana istri beliau meninggal dunia. Sedih bukan? Setiap aku mengingat kembali peristiwa itu, selalu saja aku tak bisa menahan rasa sedihku membayangkan bagaimana perasaan beliau saat itu.

            Ketika mendekati saat-saat keberangkatan haji, bibiku (beliau adalah adik ayahku) tiba-tiba mengalami sakit yang tidak biasa. Beliau yang awalnya sehat, mendadak menjadi seperti orang linglung dan hilang kesadaran. Semakin hari, keadaan beliau semakin memburuk. Segala macam jenis pengobatan telah dicoba, namun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Namun, tiba-tiba saat waktu sangat dekat menjelang keberangkatan haji, keadaan beliau menjadi membaik. Semua orang sangat senang, semua persiapan disediakan untuk keberangkatan haji paman dan bibiku ini. banyak sanak saudara yang mengantarkan beliau ke kantor departemen agama tempat berkumpulnya jamaah haji di kabupatenku. Semua orang di keluargaku merasa lega dan senang sekali.

            Namun, berita buruk itu menggemparkan keluarga kami. Petugas bandara mengatakan bahwa bibi kami tidak dapat diberangkatkan bersama jamaah haji yang lain karena kondisinya memburuk. Maka, keluarga kami segera menjemput beliau dan meminta paman kami untuk tetap melanjutkan perjalanan. Ketika di rawat di rumahnya, keadaan bibi kami semakin parah. Bahkan, beliau mengalami kelumpuhan dan sulit untuk berbicara. Sampai akhirnya, aku mendapatkan berita duka itu dari mbakku ketika aku di asrama. Bibiku akhirnya meninggal dunia. Beliau meninggal dunia saat suaminya sedang menunaikan ibadah haji.

            Beberapa waktu setelah kepergian bibiku, beberapa keluargaku memberikan tawaran kepada pamanku untuk menikah lagi. tetapi, beliau selalu menolak. Aku tak pernah tau apa alasan beliau, begitu pula orang-orang di sekitarku. Sampai saat ketika aku datang menemui beliau kemarin bersama mbakku. Banyak hal yang kami bicarakan, hingga tiba-tiba mbakku menanyakan kepada beliau tentang alasan kenapa beliau tidak bersedia menikah lagi. dengan sangat tenang beliau menjawab

tidak ada yang bisa melarangku untuk menikah lagi nak

lalu kenapa tidak menikah pak?” sahut mbakku, kami biasa memanggil beliau dengan sebutan bapak

Dengan sedikit menarik napas, beliau mulai bercerita. Ada raut muka sedih di sana “gini nak, dulu ketika bibimu sakit, namun masih memiliki cukup kesadaran, dia berkata seperti ini ‘nanti kalau aku mati, jangan menikah lagi ya…’ awalnya paman jawab dengan nada bercanda ‘lah, memangnya kenapa? Aku kan laki-laki’ dia melanjutkan ‘tidak apa-apa. Tapi kalau aku mati, jangan menikah lagi ya?’ ‘ia…lah…’ nah… kata-kata itulah yang selalu terngiang-ngiang di telinga paman sampai saat ini.”

            Sekarang aku mengerti, kenapa beliau menolak untuk menikah lagi. mungkin, bagi pamanku kalimat dari bibiku merupakan wasiat yang harus ia tunaikan. Bagi beliau, tidak menikah lagi merupakan bentuk janji atas jawaban beliau kepada bibiku saat itu. mungkin, banyak sekali laki-laki yang dengan mudah menikah lagi setelah istri mereka meninggal, atau bahkan menikah lagi meskipun istrinya masih ada -oke, ini adalah pilihan-. Tapi pamanku adalah laki-laki yang berbeda, beliau tetap teguh menjaga janjinya pada istrinya. Pamanku yang sederhana adalah seorang laki-laki pemegang janji sejati. Betapa senangnya bibiku memilki suami seperti pamanku ini. ya Allah… berikanlah keselamatan kepada bibiku yang telah meninggal dan berikanlah kesehatan serta umur yang barokah untuk pamanku. Amiiinn,,,,

Advertisements
By pradilamaulia Posted in takjub

3 comments on “Menjaga Sebuah Janji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s