Have Less, Give More

give-moreKemarin, aku menonton video yang disodorkan adikku. Video tersebut memperlihatkan sebuah kejadian nyata seorang pemuda di luar negeri (tak tau negara apa) yang berada di sebuah restoran cukup mewah. Banyak orang makan disana, sang pemuda meminta makanan kepada beberapa pengunjung yang sedang makan, ia mengatakan bahwa ia sangat lapar dan ingin meminta sedikit makanan. Tahu apa yang terjadi? Tidak ada seorang pun yang memberikan makanan pada pemuda tersebut. Meskipun orang-rang yang diminta memiliki makanan yang berlebih di meja mereka.

Kemudian di tempat lain, ada seorang bapak gelandangan yang sedang tidur di sebuah lapangan. Ada 2 orang pemuda yang memberikan makanan dan minuman padanya karena mereka merasa berlebih. Dengan senang hati, sang bapak yang seorang gelandangan tersebut menerima pemberian 2 pemuda tadi. Tak lama kemudian, datanglah pemuda yang tadi meminta makanan di restoran mengajak sang bapak berbincang dan mengatakan bahwa sang pemuda sedang lapar dan membutuhkan sedikit makanan untuk dimakan. Tahu apa yang terjadi? Dengan mudahnya sang bapak yang hidup menggelandang ini memberikan pemuda tersebut makanan yang ia dapat dari 2 pemuda sebelumnya.

Setelah melihat video tersebut, aku teringat sebuah peristiwa yang aku alami ketika menjemput ayah temanku menggunakan angkot. Apa pendapat kalian jika melihat supir angkot? Ugal-ugalan? Menyetir Seenaknya ? atau berhenti sembarangan?. Selama ini aku juga memiliki pemikiran bahwa supir angkot identik dengan hal-hal tersebut karena memang selama ini itulah yang aku temui. Ketika naik angkot saat itu, seperti biasa aku melihat sang supir yang biasanya diberi minuman oleh pedagang asongan, kemudian sang supir memberikan uang pada pedangan tersebut tanpa harus bercakap-cakap banyak, seperti sudah ada kesepakatan sebelumnya. Kemudian ada pula orang yang menyemprotkan sesuatu pada kaca depan angkot, lalu sang supir memberi uang pada orang tersebut. Fenomena tersebut terdapat pada titik-titik tempat yang sepertinya sudah merupakan suatu keharusan bagi sang supir angkot untuk melakukannya.

Ayah temanku heran melihat kejadian tersebut, lalu ia bertanya pada sang supir karena beliau terlihat bagitu penasaran.

“mas, itu pungli (pungutan liar) ya? Kalau mas ga ngasih duit, lalu kenapa?”

Dengan santainya sang supir menjawab:

“kalau ga ngasih ga papa pak. Saya ngasih buat bagi-bagi rezeki aja”

Menarik bukan? Selama ini aku selalu berpikir bahwa pungutan-pungutan liar itu adalah sesuatu yang dapat merugikan supir angkot. Kalau ada orang-orang yang memberikan pelayanan yang kurasa tak penting seperti menyemprotkan pengharum di kendaraan umum, membersihkan kaca mobil menggunakan kemoceng, lalu mereka meminta uang, kemungkinan besar aku tidak akan memberikan uang karena menurutku itu tidak aku minta dan manfaatnya kecil bagiku, meskipun aku memiliki uang. Padahal yang mereka minta hanya uang kecil, tidak banyak-banyak. Aku tak pernah berpikir untuk bagi-bagi rezeki dengan mereka.

Terkadang, terlalu banyak pemikiran-pemikiran yang rumit yang menjadikanku sulit untuk berbagi meskipun sebenarnya aku memiliki sesuatu yang cukup untuk dibagi. Orang ini nanti malas kerja lah, orang ini nanti akan merusak lingkungan lah, dan lain sebagainya. Sedangkan orang lain yang memiliki sedikit, dengan ringannya dapat bergai dengan orang lain. Sometimes, someone who have less, give more. Mari ringankan diri untuk berbagi dengan sesama. 🙂