Apakah di Tempatmu Terjadi Hal yang Sama?

Tanda-tanya-merahCukup melelahkan rasanya seharian mengantarkan adik sepupuku ke kantor Imigrasi untuk membuat paspor. Ya, ternyata perkiraan waktuku meleset. Ketika berangkat jam 9 pagi tadi, aku kira proses foto dan wawancara akan selesai siang hari, kemudian aku akan piket membersihkan dapur. Tapi ternyata jam 3 sore baru kelar dan sampai di kosan sekitar jam 4 an. Ketika sampai di kantor imigrasi, antrean sebenarnya sudah sampai di no 47 dan kami mendapat no.62. wah, bentar lagi nih bisa lah ya selesai sebelum jumatan. Tapi ada yang aneh, no. Antrean tak kunjung bergerak saudara-saudara, hingga ada seorang ibu-ibu yang kesal dan sempat complain dengan muka tidak mengenakkan kepada petugas informasi. Kemudian ibu tersebut memutuskan untuk pulang karena tak tahan menunggu. Why? Apa yang terjadi? Aku juga tidak tahu.

                Setelah kejadian tadi, aku mulai memperhatikan orang sekitar. Ada yang aneh memang, ada beberapa orang yang lalu lalang disini membawa map banyak tapi aku tahu mereka bukan petugas imigrasi karena tidak memakai seragam. Siapakah orang-orang ini? Ya, mereka aku tebak adalah para calo. Pantas saja, antrean tak bergerak maju karena di dalam sudah ada yang mengisi toh. Pernyataanku ini bukan tanpa bukti loh, sebab setelah adik sepupuku selesai wawancara dan foto, dia terlihat cukup shock dengan muka yang aneh. Ketika aku tanya kenapa, dia bilang dia sedih karena melihat proses penyuapan di depan matanya sendiri, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia melihat seorang bapak yang memberikan tumpukan map, lalu memasukkan amplop kedalam kantong petugas. Astghfirullah…

                Aku sangat tidak heran dengan kejadian tersebut, karena aku pernah mengalami hal yang sama tapi di tempat yang berbeda. Beberapa bulan yang lalu, aku memutuskan untuk mengurus ulang SIM-C ku yang hilang ketika aku masih SMA. Aku ditemani bapakku ke kantor polisi kabupaten. Dari awal aku memang ogah berurusan dengan instansi ini, sangat penuh dengan KKN. Sampai di tempat parkir saja, sudah ada yang menawarkan jasa untuk mempermudah urusan kami -yaelah-. Sayangnya, bapakku adalah tipe orang yang tak mau ambil ribet, jadi beliau mau saja memakai jasa mereka. Dengan penuh kebaikan si bapak-bapak tadi meminta namaku dan KTP, setelah mencari dataku di dalam kantornya, dia bilang SIM-ku sudah mati. Jadi harus buat lagi dari awal. Berapa biayanya? Dia bilang 300ribu. Whattt? Mahal amiiir -pikirku dalam hati-. Aku berbisik pada bapakku dan aku mengatakan bahwa aku ga mau lewat orang ini, aku mau ngurus sendiri ke dalam, dan aku mau ikut tes sendiri.

                Hal ini aku lakukan sebagai bentuk pembayaran rasa bersalahku dulu ketika membuat SIM-C saat masih kelas 1 SMA. Aku yang tak mengerti apa-apa, hanya mengiakan saja saat bapakku mengajakku membuat SIM-C. Saat membuat SIM itu kawan, bapakku hanya perlu berbisik pada seorang bapa-bapak, kemudian bapak tersebut menuliskan dataku, menanyakan namaku, kemudian meminta sidik jariku, aku hanya duduk-duduk saja tanpa harus repot kesana-kemari seperti beberapa orang lain. Lalu… simsalabim… beberapa hari kemudian SIM-C ku sudah jadi dengan tahun lahir yang dipalsukan -pfffttt-. Saat itu, sebenarnya aku belum cukup umur, jadi agar aku memnuhi syarat, satu-satunya jalan adalah membuat umurku lebih tua agar aku bisa membuat SIM.

                Aku dan bapakku menuju tempat administrasi setelah berhasil tak sepakat dengan bapak-bapak di tempat parkir. Mataku langsung tertuju pada papan daftar biaya pembuatan SIM dan juga perpanjangannya. Terpampang dengan nyata disana, biaya pembuatan SIM 80ribu, sedang untuk perpanjang adalah 75ribu. Aku bersorak girang dalam hati, yeaayyy… untung masuk langsung, ga pake calo. Semakin girang rasanya hati ini saat melihat spanduk besar yang digantung bertuliskan “TIDAK ADA PRAKTEK KKN DI SINI” kurang lebih seperti itu tulisannya. Aku langsung menuju loket administrasi yang dijaga oleh seorang polwan yang cantik dan ramah. Dia menjelaskan bahwa aku harus membuat SIM dari awal karena masa berlakunya sudah mati. Jadi aku perlu mengurus surat keterangan sehat, surat keterangan hilang, dan tes mengendarai motor. Tapi kata polwan ini, aku cukup mengurus surat keterangan hilang saja. Wah… alhamdulillah… kemudian aku langsung cuuuss,,, menuju polres yang tak jauh dari tempat itu untuk mengurus surat keterangan hilang.

                Aku memasang muka puas menatap bapakku dan mengatakan “tuuhhh kaaan… ga usah pake nyogok hehehe”. Bapakku hanya tersenyum melihatku. Setelah mengurus surat keterangan hilang, lalu difoto copy, dengan pebuh semangat aku menemui polwan cantik tadi. Tapi… ada yang aneh, si polwan tiba-tiba menyuruhku masuk kedalam ruangan untuk menemuinya. Padahal lewat kaca loket kan bisa. Aku masuk saja, lalu dia mengajakku berbicara sambil berbisik, yang intinyaaa sama ajaaaa -Hiks-. Dia menawarkan jasa mempermudah urusanku dengan biaya 200ribu, aku tak perlu tes, SIM akan langsung jadi (weleh-weleh). Tapi kalau aku mau tes, dia juga mempersilahkan. Dengan muka menahan emosi dan kekecewaan, aku memilih untuk tes saja.

                Aku keluar ruangan dan mengajak bapakku latihan untuk tes sebelum mengikuti tes. Bapakku memaksaku untuk menerima tawaran si polwan cantik karena beliau pesimis aku bisa lolos tes mengemudi, karena menurut beliau itu susaaah. Ah masa sih, aku kekeuh dan tak percaya. Di tengah terik matahari aku mulai latihan di arena tes menggunakan motor yang ramping -hehe- agar aku bisa melewati te zig zag. Ternyata, tesnya memang susah, susaaah bangeet. Masa aku harus melewati tiang-tiang kecil yang jaraknya berdekatan membentuk zig zag dan kaki tidak boleh turun, serta setelah sampai di ujung harus balik lagi. Itu hanya tes pertama, tes kedua adalah berputar melewati arena yang membentuk angka 8 dan kaki tidak boleh menyentuh tanah, dan tes ketiga ada arena berbentu kotak, dan kita harus melewati itu dengan benar-benar berbelok di sudut kotak yang benar-benar siku. Aku bergumam dalam hati “ini tes untuk membuat SIM apa untuk jadi pejoki atau pembalap ya?”.

                Bapakku tertawa kecil melihatku gosong di bawah terik matahari dan selalu gagal di tes zig zag. Aku kesal dan menggerutu sambil berteduh sebentar melihat yang orang lain yag juga latihan. Ada seorang wanita muda yang juga mengalami kegagalan sepertiku. Saking kesalnya, dia langsung menantang polisi yang berjaga disitu untuk melakukan tes, jika memang itu standarnya. Aku senang sekali melihat kejadian ini, dan tak hanya aku, ada beberapa orang yang terlihat antusias ingin melihat si polisi memperlihatkan keahliannya. Tahukah apa yang terjadi? Si polisi juga gagal -tuh kaan-. Tapi kemudian dia mengulang dan akhirnya bisa berhasil, kulihat ada rasa puas di ekspresi si polisi (apa-apaan). Padahal, pada tes ini, kita hanya diberi kesempatan 1 kali, jika gagal berarti kembali esok harinya. Jika gagal sampai 6 kali, harus mengurus administrasi dari awal lagi. Aku sedih sekali melihat seorang bapak guru yang mengantarkan anaknya untuk tes mengemudi ini, kata seseorang di dekatku, bapak guru tersebut benar-benar ingin anaknya lulus tes SIM dengan murni dan jujur, sehingga dia rela bolak balik ke kantor polisi ini. Hari itu adalah ke-6 kalinya ia kembali, dan jika gagal ya harus bayar lagi dari awal. Astaghfirullah…

                Aku sangat kelelahan dan mukaku rasanya terbakar oleh sengatan matahari. Akhirnya aku menyerah, aku mematahkan idealismeku yang abal-abal, dan aku memutuskan untuk menerima tawaran polwan cantik karena aku pesimis dapat lolos tes mengemudi. Aku sedih, dan aku tahu sebenarnya bapakku juga sedih atas insiden tadi. Lalu, ketika menunggu proses foto, bapakku tertawa sambil memanggilku dan menunjuk pada spanduk bertuliskan “TIDAK ADA PRAKTEK KKN DI SINI”, aku tertawa pahit sambil mengeluarkan hp dan menfoto tulisan itu. Tapi, sayangnya tak bisa aku tunjukkan disini karena aku menggunakan hp keponakanku saat itu.

                Setelah mengalami hal tersebut, aku berpikir dan berhipotesis. Aku megedarkan pandangan sekitar dan aku berasumsi bahwa dari semua orang yang ada untuk membuat SIM disini, sepertinya hanya 10% yang tidak menyogok, dalam hati aku yakin sebagian besar melalui jalan sepertiku. Lalu aku mulai bertanya-tanya, kalau memang seperti itu dan biayanya harus begitu, kenapa di papan daftar biaya tidak langsung saja dicantumkan biaya 200ribu atau 300ribu. Toh masyarakat memang membayar sebesar itu. Lalu tak usah lah dipersulit dengan membuat tes yang seperti sengaja agar banyak yang gagal. Dengan seperti itu, dana yang masyarakat keluarkan akan masuk ke kas negara, bukan ke kantong-kantong tak jelas para petugas nakalnya. Dengan begitu pula, spanduk yang terpampang tak hanya seperti drama dan akting saja. Bukankah kantor atau instansi semacam ini seharusnya menjadi pelayan masyarakat? kenyataannya malah sebaliknya, lintah darat masyarakat. Astaghfirullah…

                Peristiwa tidak mengenakkan ini, ternyata tak hanya aku sendiri yang mengalaminya. Temanku pernah bercerita bahwa bapakknya yang idealis juga akhirnya menyerah saat kembali ke-4 kalinya ketika hendak membuat SIM-A. Temanku yang lain juga sempat bersitegang berurusan dengan petugas-petugas tek bertanggung jawab tersebut. Tapi, apa ia ini harus dibiarkan begitu saja terjadi? Apa tidak ada cara untuk mengubahnya menjadi lebih baik? Seharusnya ada dan harus ada yang memulai. Aku awalnya agak pesimis dengan harapanku ini, tapi ada sebuah perubahan nyata yang menginspirasiku dan meyakinkanku bahwa harapan itu masih ada. Aku amat sangat terinspirasi sekali dengan mantan CEO PT.KAI Bapak Ignatius Jonan. Perubahan nyata, cepat dan berdampak sangat aku dan masyarakat pengguna kereta api rasakan. Perubahannya supeeerr sekali.

                Aku yakin, sebenarnya tidak semua petugas instansi pemerintah pelayan masyarakat negatif seperti itu. Pasti ada yang baik dan bekerja sepenuh hati melayani dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat secara jujur, pasti ada insyaAllah. Tapi sayangnya, yang baik ini tertutupi oleh yang tidak baik. Disadari atau tidak, petugas yang tidak baik menjadi duta bagi para petugas yang lain, sehingga ketika masyarakat menemui petugas yang tidak baik, maka mereka akan secara otomatis mengeneralisasi bahwa semua petugas seperti itu. Yah, semua tergantung pada mereka, mau dinilai secara baik atau mau dinilai buruk terus menerus?. Yang pasti adalah…masyarakat merupakan kontrol terhadap perilaku pemerintah sebagai pelayan masyarakat. 😀

Advertisements

14 comments on “Apakah di Tempatmu Terjadi Hal yang Sama?

  1. Pingback: Muslim Forester | ばか!Mafia-mafia Itu Sukses Membuatku Menjadi Orang Bodoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s