Payungku di Kota Hujan

crunch-umbrellaSedia payung sebelum hujan, pepatah ini rasanya amat sangat cocok bagi orang-orang yang tinggal di kota hujan. Juga bagiku sekarang, sebab aku sekarang tinggal di kota hujan. Sebelum menginjakkan kaki di kota hujan ini, aku mendengar beberapa cerita dari kakak kelasku tentang pentingnya payung di kota hujan ini. Ada yang bilang “nanti kalau beli payung yang mahal aja ya, biar bagus dan awet. Soalnya hujan di Bogor sering dan deras”. Lalu ada juga yang bilang “ketinggalan payung di Bogor itu sama kayak ketinggalan Hp, kita bakal balik lagi ke kosan”.

                Ketika pertama kali sampai di kota hujan ini, akhirnya aku memutuskan untuk membeli payung pertamaku. Aku memutuskan untuk membeli payung yang ukurannya diatas rata-rata, ukurannya besar sekali. Pertimbanganku membeli payung ini adalah agar aku tasku terlindungi secara sempurna dari hujan. Benar saja, bagaimana tidak terlindungi, wong ukurannya super besar -haha-. Jadi, ketika hujan, aku tak perlu khawatir dengan nasib tas ranselku yang bakal basah, sebab ada payung besarku. Tapi, aku sering mendapat ejekan dari teman-temanku karena payung besarku ini. Ada yang bilang payung tenda lah, payung sirkus lah, dan lain-lain. Temen-temenku akan tertawa terpingkal-pingkal ketika aku membuka payungku saat hujan. Lebih nyeseknya lagi, orang yang bilang payung sirkus adalah orang yang aku kasih tumpangan payung karena dia ga bawa -huftt-. Beberapa waktu kemudian, aku mulai tak merawat payung besar itu dan akhirnya payung itu rusak.

                Kapok dengan berbagai ejekan tentang payung besar, lalu aku memutuskan membeli payung yang ukurannya standar. Aku masih ingat, warnanya ungu muda. Tapi, payung itu tak bertahan lama karena kualitasnya yang kurang bagus. Kemudian aku metuskan untuk membeli payung di stasiun yang memang terkenal dengan harga payungnya murah dan kualitas bagus. Saat itu aku baru balik setelah mudik dari Madura. Aku dan teman-temanku sepakat membeli payung dengan jenis sama dengan warna berbeda. Kami membeli 3 payung di satu toko. Payungku berwarna coklat dan terlihat kokoh, aku senang sekali merawat payungku yang satu ini. Saking sayangnya, aku memberikan identitas pengenal pada payungku dengan menuliskan nama dan jurusanku di tempat yang mudah dilihat, berharap jika hilang, maka orang akan mengembalikannya. Memang karena berharap, akhirnya payung kokohku itu benar-benar hilang karena dipinjam temanku dan dia lupa menaruhnya dimana -ya sudah lah, yang penting diganti,hehe-.

                Aku bercerita kepada mbakku tentang payung-payungku yang hilang, berharap ia akan memberikan uang untukku agar membeli payung. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Mbakku memarahiku karena tidak bisa menjaga barang-barang dengan baik -haduuuh-. Aku biarkan saja dia marah karena memang aku yang salah. Temanku mengganti payung coklatku yang kokoh dengan payung kotak-kotak yang cantik berwarna kombinasi ungu dan abu-abu. Aku cukup baik merawatnya. Tapi sepertinya, nasib payung bersamaku tak pernah bertahan lama seperti nasib bolpen-bolpenku. Sekarang aku malah tak tau dimana keberadaan payung kotak-kotak itu. Sekarang aku tak punya payung, pun adikku juga sama. Aku sudah tak terlalu peduli dengan hujan yang selalu melanda. Jika hujan dan tak membawa payung, aku berteduh saja sampai reda, atau nebeng pada teman yang membawa payung -hehe-.

                Mungkin pelajaran yang bisa diambil dari kisah agak tidak jelas ini adalah… rawat dan jagalah baik-baik barang-barangmu, karena boleh jadi itu terasa tidak terlalu berharga ketika ia masih ada di sisimu. Tapi kemudian akan sangat kamu sayangkan ketika ia hilang atau tak bisa lagi bermanfaat bagimu (baca: rusak) sebab merawat berarti bersyukur. 😀

Advertisements

12 comments on “Payungku di Kota Hujan

  1. Baru sekarang mampir di blog saudara kembarnya Dita.. Saya awalnya cuma tahu alamat blog yang blogspot (pradilamaulia.blogspot.com). Barusan lihat di widget “My Community”-nya Dita, ternyata kamu pengguna wordpress juga.

    Salam kenal,
    Yusuf Muhammad

    • Salam kenal juga Yusuf, eh kayaknya kita memang udah kenal ya, haha

      saya memutuskan pindah ke wordpress karena interfacenya lebih enak, 😀
      yang blogspot udah otomatis indirect ke blog yang wordpress ini 🙂

      • Haha, berarti selera blog kita sama.. Saya juga lebih suka wordpress terutama terkait komunitas.. Bikin komunitas blog menurut saya pribadi lebih enak di wordpress daripada di blogspot ataupun tumblr..

        Kalau ketemu face to face secara sengaja kayaknya kita belum pernah.. Tapi kalau udah saling kenal nama kayaknya sih iya, hoho.. Dan sebenarnya kita berada di satu grup WA yang sama..

  2. Btw, yang setting biar blogspotnya direct ke wordpress siapa?

    Oh iya, postingan-postingan yang terdahulu ada di blogspot sudah dipindahkan ke wordpress kah? Kalau belum saya tahu caranya export-import blog dari blogspot ke wordpress..

    • hmm… kayaknya pernah ya ketemu, saya pernah makan sama temen omda namanya arya, dia anak fahutan juga. lalu arya nyapa temennya namanya yusuf, saya kira itu kamu. tapi ga tau bener apa ga 😀

      saya setting sendiri biar direct ke wordpress, terus semua tulisan dan komen dari blogspot sebelumnya udah dipindahin secara otomatis. caranya gampang kok, tinggal baca tutorial aja hoho (maklum, saya hobi cari tutorial gitu)

      • Oh iya, saya ingat, iya itu saya.. Tapi saya lupa wajah kalian berdua.. Yang saya bilang kan “sengaja bertemu”, kalau itu kan gak sengaja, hehe.. ^^v

        Saya malah tahunya (terkait pemindahan postingan) tanpa baca tutorial dulu.. Emang dasarnya (kebetulan) udah sering ngotak-ngatik settingan blog, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s