Kadang, Sedikit Itu Menentramkan

sedikit

Gapailah cita-cita setinggi mungkin

Impian itu harus besar

Buatlah target yang luar biasa

                Kalimat-kalimat itu sering aku ucapkan dalam hati untuk memacu semangat dalam mencapai tujuan. Tujuan apa? Ya tujuan apapun yang ingin aku raih. Sebagai contoh misalnya, ketika akan ujian semester di sekolah maupun di kampus, aku akan memasang target tertinggi untuk nilai ujianku. Jika total soal ujian ada 10, maka targetku adalah benar 10 (target 100%). Target tersebut berlaku untuk mata pelajaran yang mudah maupun yang paling sulit. Kenapa harus seperti itu? Karena aku berpikir seperti ini, jika aku memasang target yang tinggi, maka jika aku jatuhpun tak akan terlalu jatuh jauh dari target yang aku targetkan. Prinsip ini cukup membantuku untuk mencapai target-targetku selama ini.

                Aku perhatikan beberapa orang di sekitarku juga tak beda jauh denganku. Beberapa temanku memasang target yang tinggi dan besar, serta luar biasa untuk hidup mereka. Pemikiran prinsip seperti ini sangat baik untuk menanamkan rasa percaya diri dan semangat yang kuat untuk mencapai cita-cita. Mungkin, semua orang juga memiliki pemikiran yang tak jauh beda dalam mengejar target dan cita-cita, pikirku selama ini. Tapi ternyata tidak… ada orang-orang yang justru memilih target sebaliknya.

                Ketika tingkat pertama perkuliahan, ada mata kuliah yang dianggap sulit oleh mayoritas mahasiswa, yakni Pengantar Matematika dan Kalkulus. Setiap ujian tiba, baik ujian tengah ataupun akhir semester, seluruh mahasiswa akan mengerahkan segala kemampuan untuk menghadapi mata kuliah ini, termasuk aku. Sebenarnya jumlah soal ujiannya hanya 10 soal (sekitar 1 halaman, itu pun tidak full) namun untuk menjawabnya membutuhkan lebih dari 10 lembar kertas HVS. Seperti biasanya, aku akan memasang target mendapat 100 dalam ujian mata kuliah ini. Target inilah yang mampu membuatku belajar sampai larut malam menjelang pagi, mengerjakan berbagai soala latihan, bahkan belajar dari teman atau kakak kelas yang lebih ahli, tak lupa pula diiringi doa.

                Aku dengan usaha dan targetku seperti itu, temanku dengan usaha dan targetnya berbeda denganku. Sebut saja namanya Rini, ia adalah mahasiwi jurusan Matematika. Ketika ujian Pengantar matematika dan Kalkulus tiba, seharusnya sudah menjadi sangat lumrah jika ia memasang target 100% benar di kedua ujian tersebut. Namun ia berbeda, ia tak memasang target 100% benar. Ketika kami sedang berdiskusi, dia mengatakan bahwa untuk ujian Pengantar Matematika dan Kalkulus, dia memasang target 50% benar. Aku sempat kaget mendengar pernyataannya.

“Kenapa benar 5, kenapa tidak 10?” tanyaku pada Rini

“Aku tak mau memberatkan pikiranku Dil…” jawabnya dengan santai

kok berat? Kan sayang kalau bisa 10 kenapa harus 5?” aku terheran-heran dengan pernyataannya

“yaa.. aku akan tetap mengerjakan semua soal, tapi dengan memasang target 5 itu, aku tak akan terbebani ketika aku tak mampu mengerjakan semuanya, dan ketika aku telah yakin mengerjakan 5 soal dengan benar, maka di soal ke-6 hatiku telah tenang tanpa beban. Serta dengan target yang kecil ini, akan lebih meringankan aku untuk bersyukur ketika aku telah mencapai atau melebihi taret itu.” Rini menjelaskan kepadaku.

                Aku terdiam sejenak mendengar penjelasannya. Benar juga, pikirku dalam hati menimbang-nimbang apa yang Rini sampaikan. Target yang tinggi dan luar biasa memang baik, namun terkadang ada poin penting yang sering terlupa ketika mencapai target. Yakni, tentang bersyukur atas nikmat apapun yang kita peroleh.  Aku neristighfar dalam hati, mengingat semua target yang pernah aku pasang selama ini. Target yang tinggi kadang membuatku terlupa untuk bersyukur ketika targetku tak tercapai, pun hanya tinggal sedikit lagi. Padahal boleh jadi apa yng aku dapat itu justru jauh lebih baik dari apa yang aku usahakan,

                Ternyata kadang yang sedikit itu memang menentramkan. Target yang kecil itu akan meringankan diri untuk bersyukur. Tak masalah memiliki target yang besar ataupun yang kecil, sebab itu merupakan pilihan. Namun yang terpenting adalah… mari senantiasa tingkatkan rasa syukur kepada Sang Pemberi Nikmat agar barokah setiap hasil atau target yang diperoleh. Karena dengan bersyukur, maka nikmat yang kita peroleh akan ditambah oleh Allah SWT, disadari atau tidak.

*Ditulis di kantor menjelang waktu pulang, kemudian diselesaikan di perjalanan menuju Bandung (04.00 WIB)

Advertisements

4 comments on “Kadang, Sedikit Itu Menentramkan

  1. Akhir-akhir ini banyak orang yang mengaku sebagai pemimpi. Mereka terlalu bersemangat mengejar mimpinya sampai lupa bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Orang seperti ini biasanya akan langsung ‘melempem’ begitu dihadapkan pada kegagalan. Alon-alon asal klakon aja, 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s