Pilihan Wanita

wanitaPerbincangan saat jam makan siang saat itu begitu berbeda. Aku dan seniorku (senior di kampus dan di kantor) berbincang tentang prediksi seniorku tentang 2 temanku yang akhirnya benar-benar memutuskan untuk menikah. Beberapa waktu sebelumnya, seniorku ini memprediksi bahwa dua temanku ini pasti akan jadi menikah. Aku kurang setuju dan tak yakin dengan prediksi itu, sebab aku kenal dekat sekali dengan mereka. Benar-benar tak ada tanda-tanda bahwa mereka saling memiliki perasaan (hebat sekali interaksi mereka ini). Secara pribadi, aku sangat bahagia mereka memutuskan menikah tanpa dinodai interaksi yang dilarang sebelum menuju ke pernikahan.

mas, ternyata bener loh mereka akan menikah” aku memulai percakapan dengan nada berapi-api

yaa.., itu udah keliatan kali Dilll…” jawab seniorku dengan sangat santai

aku ga nyangka loh mas… mereka ga keliatan saling suka selama ini, kayak teman akrab aja” ucapku dengan bersemangat

kalo aku sih udah nyangka dari agak lama” kata seniorku

hmm… emangnya si X (si perempuan) suka ya sama si Y (si laki-laki)?” ucapku dengan pelan, tapi seniorku sepertinya mendengarnya

lah… emang perempuan menjadikan rasa suka sebagai pertimbangan ya? Bukannya yang datang melamar duluan dan baik, dia yang akan diterima. Kalau laki-laki mah memang menjadikan unsur suka sebagai salah satu pertimbangan” ucapnya

hmm….” aku sempat terdiam lalu berbisiksemoga aku bisa berjodoh dengan orang yang aku sukai. amiiin” aku berdoa sambil mengangkat tangan sejenak.

hahahahaha” seniorku terbahak-bahak melihat tingkah lakuku.

            Percakapan tadi memang sangat sederhana dan hanya sekilas saja. Namun, percakapan yang sebentar tersebut memenuhi pikiranku seharian penuh. Apa memang benar ya perempuan tidak punya pilihan? Mengapa terasa seperti tidak adil, mengapa laki-laki boleh memilih sedangkan perempuan harus menerima saja. Tidak, tidak seperti itu. Aku yakin Allah adalah dzat yang maha adil. Mungkin pemahamanku saja yang terbatas, sehingga kesimpulanku pun juga tak benar. Tapi, aku belum menemukan jawaban yang tepat untuk menyangkal kesimpulan yang salah itu, tentang kenapa wanita hanya menerima sedangkan laki-laki boleh memilih?.

            Hingga malam tiba, aku tak menemukan jawaban yang pas. Sampai akhirnya sekitar jam 7 malam,  teman kosanku yang naik ke ruang atas untuk nonton tv bersama kami. Tumben sekali mbak yang satu ini ikut nonton, biasanya beliau hanya di kamar saja. Tanpa kami duga-duga, ternyata beliau bermaksud untuk menceritakan rencana beliau yang akan menikah akhir bulan ini. “waaaahhh….” begitulah mungkin kata yang dapat mewakili keterkehutan semua penghuni kos.

            “Prosesnya cepat sekali mba… bliau nanya alamat untuk silaturrahim. Menyatakan niatnya untuk menikahi saya kepada orang tua, 13 hari kemudian orang tuanya datang untuk menentukan tanggal pernikahan. Alhamdulillah… mohon doanya ya… aku sebenarnya belum banyak tau tentang beliau.” cerita teman kosku.

            Kemudian semua teman kosku mulai mengeluarkan berbagai pertanyaan tentang kenal darimana, gimana orangnya, blablabla… aku pun ingat pertanyaan yang menggelayut di pikiranku dari tadi pagi.

            “mba… kalau memang mba belum banyak kenal sebelumnya, lalu… apa mba pernah punya perasaan khusus kepada orang lain sebelumnya?” tanyaku

hmm,,, itu manusiawi mba, tentu ada. Tapi… sebagai seorang wanita, sebaiknya kita menjadi yang ‘menentukan’, bukan yang ‘memilih’.” Temanku mulai menjelaskan

Kenapa mba?” tanyaku antusias, sebab ini sepertinya akan menjawab pertanyaan hatiku sejak pagi hari.

sebab secara naluriah, laki-laki itu memiliki ingatan yang lebih kuat dan cenderung bertahan lama. Jika dia menyukai atau mencintai seseorang, maka itu akan tertanam di memorinya dalam waktu yang lama. Ada beberapa kasus dari teman dan kasus yang aku alami sendiri mba. Ada seorang wali siswa yang kemudian terang-terangan bercerita kepada saya bahwa ia bercerita kepada anaknya bahwa ia mencintai temannya dulu, namun bukan istrinya sekarang. Hingga memiliki anakpun, si bapak tetap merasa berdesir dan jantungnya berdegup kencang ketika bertemu dengan wanita yang ia sukai dulu. Cerita lainnya, aku memiliki teman laki-laki yang katanya menaruh hati padaku mba. Kemudian ia menikah dengan seorang wanita, namun yang aku heran beliau masih berusaha menghubungiku via sms untuk menanyakan kapan aku akan menikah dan dia mengatakan masih menaruh hati padaku, bahkan disaat istrinya sedang hamil. Padahal, Aku tak pernah merespon apapun sms dari beliau.  Kisah ekstrim lainnya adalah ada laki-laki (A) yang menyukai wanita (B), si A kemudian hendak menikahi si B. Namun, tiba-tiba ada teman si A menawarkan wanita lain (C) yang katanya lebih ‘wah’ dari si B. Akhirnya si A menikahi si C. Namun, ternyata perasaan si A tetap pada si B. Meskipun si A telah menikah dengan si C, ia tetap saja terus berusaha menghubungi si B dan mengatakan selalu membayangkan si B -nauzubillah-, padahal kan apabila suami istri berhubungan, kemudian si suami membayangkan wanita lain, itu bisa jadi zina ya mba -astaghfirullah- ” temanku bercerita panjang lebar

“haaah? Beneran mba ada orang-orang seperti itu?” aku terheran-heran

iya mba, laki-laki berbeda dengan wanita. Seorang wanita lebih cenderung mudah luluh apabila ia disayangi dan diayomi, perasaannya mudah berubah. Makanya wanita mudah kagum kepada orang daripada laki-laki. Benar sekali tuh kalimat yang mengatakan lebih baik menikah dengan orang yang mencintaimu daripada yang engkau cintai. Yaah.. enaknya sih kalau sama-sama saling mencintai. Tapi kalau pilihannya adalah dicintai atau mencintai yaah lebih baik dicintai. Jika kita menikah dengan orang yang mencintai kita, maka ia akan dengan sepenuh hati akan menjaga kita dan bertanggungjawab terhadap kehormatan kita. Ketika ada orang yang telah datang melamar kita, berarti dia adalah orang yang sudah mempersiapkan diri untuk mencintai kita dan bertanggung jawab atas diri kita mba, maka kemudian kitalah yang akan menetukan apakah itu diterima atau tidak, bukan memilih.” Lanjutnya.

            Pertanyaan yang menggelayut di pikiranku terjawab sudah, bahwa ini bukan soal adil atau tidak, ketika wanita sebaiknya tak jadi yang ‘memilih’. Sebab kodratnya memang berbeda. Laki-laki dan perempuan memang berbeda, semua memiliki porsi masing (inilah keadilan Allah). Laki-laki punya kecenderungan mengingat dalam waktu lama, sedangkan wanita lebih mudah terpengaruh dan perasaannya mudah berubah. Maka bagi wanita sebaiknya menjadi yang ‘menentukan’ bukan yang ‘memilih’. Kalau kamu, mau menjadi pemilih atau penentu? 🙂

*Sabtu, 02.07 WIB begadang di kosan 😀

Advertisements

2 comments on “Pilihan Wanita

  1. Wah…. gitu ya…. beruntung banget ya orang yang bisa menikah dengan orang yang dia cintai dan mencintainya. Aku berharap seperti itu. Tapi emang bener sih, perempuan itu gampang sekali jatuh cinta dan gampang pula melupakan, laki-laki kebalikannya, susah sekali jatuh cinta dan sekalinya jatuh cinta maka dia akan susah sekali untuk lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s