Sulitnya Menjadi Panutan

Sore hari menjelang malam di penghujung hari minggu ini, aku bulatkan tekad (baca: paksa) unrtuk menulis. Tulisanku ini sepertinya akan cukup panjang karena alurnya cukup jauh dari inti cerita. Aku berharap semoga hasil tulisan ini nantinya tidak kacau balau karena kadang mood-ku suka berubah-ubah dengan cepat (hahaha). Sudah beberapa hari ini pikiranku terasa penuh karena ada yang seharusnya aku tuliskan untuk mengurangi apa yang aku pikirkan. Aku berharap, dengan tulisan ini akan dapat meringankan pikiranku.

                Sebelum melamar kerja di Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa (YPnDD), sudah banyak perusahaan maupun lembaga yang aku ikuti proses rekrutmennya. Mulai dari tahap awal, sampai wawancara akhir. Bahkan ada yang telah menerimaku dan aku sempat mengikuti training selama 3 hari. Namun, ketika aku melaksanakan wawancara awal di YPnDD terasa begitu berbeda. Tak pernah rasanya aku merasa begitu bahagia ketika selesai wawancara. Biasanya yang aku rasakan adalah was-was, bingung, ragu, dsb. Kenapa bisa demikian?

                Setelah mendapatkan telpon wawancara dari pihak HRD YPnDD, aku berinisiatif untuk mencari alamat YPnDD di Goo*le M*p. Namun aku heran, setiap aku ketikkan alamat yang aku cari yang keluar justru gambar sekolah akselerasi SMP-SMA (SMART EKSELENSIA INDONESIA). Setelah beberapa kali mencoba dan hasilnya sama, ya sudah aku menyerah. Nanti, aku ikuti rute angkotnya saja. Keesokan harinya, aku ditemani adikku mengendarai motor dari Dramaga menuju Parung. Adikku yang memang lebih hi-tech daipada aku, menggunakan GPS sebagai petunjuk arah. Cukup lama kami berkendara sampai akhirnya kami tiba di bangunan hijau dan ada spanduk Dompet Dhuafa. “Nah ini nih kayaknya tempatnya” kataku pada adikku. Namun aku keliru, ternyata bangunan yang kami tuju ada di seberang. Sekarang aku baru tahu bahwa bangunan pertama yang kami lihat tersebut adalah zona Madina.

                Pak satpam di bangunan seberang dengan sigap langsung memandu dan membantuku untuk menyeberang. Turun dari motor aku disambut oleh pak satpam yang begitu ramah dan memandu kami untuk mengisi buku tamu serta menanyakan tujuan kami. Aku menjelaskan bahwa aku ingin bertemu dengan pihak HRD, bapak satpam kemudian mengarahkan aku ke tempat yang dituju.

ramah sekali satpamnya ya” ucapku dalam hati

                Aku dan adikku melewati lorong yang di kanan kirinya berjejer banyak tropi.  Ada beberapa anak sekolah berseragam SMP dan SMA  yang berlalu lalang. Kemudian aku melihat toilet, di dinding sebelum pintu masuk ada cermin besar (cocok sekali bagiku yang suka bercermin, hehehe).  Ada seorang anak SMP yang berjalan sambil komat kamit berpapasan denganku. Aku heran dengan tingkah laku anak itu, ia terlihat memegang kertas seperti absen. MasyaAllah… aku baru sadar, setelah melihat al-Qur’an kecil yang ia pegang. Ternyata ia sedang muroja’ah hafalan al-Qur’annya.

                “Tempat apa ini sebenarnya” tak henti-hentinya aku berbisik dalam hati. Tempat ini begitu sejuk, bangunannya dicat dengan warna hijau, ditambah lagi dengan adanya pohon-pohon rindang yang semakin menambah suasanya kesejukan, bahkan ada masjid pula. Setelah sampai di halaman masjid, aku bertemu dengan mas Habib –HRD yang menelponku-. Lalu proses wawancarapun dilaksanakan. Aku diwawancarai oleh mas Habib dan mas Hassan, wawancara berjalan begitu santai dan menyenangkan.

ini adalah wawancara terjujur yang pernah aku lakukan” kataku pada adikku

kenapa?” tanya adikku dengan penasaran

ia… aku tak berusaha terlihat sempurna, dan tak ada yang aku tutup-tutupi di proses wawancara tadi” aku menjelaskan pada adikku

oh.. baguslah… eh… tempat ini enak banget yaa, suasananya enak, tak beda jauh dengan suasana kampus” kata adikku

                Ternyata tak Cuma aku yang merasakannya. Adikku pun merasakan kenyamanan lingkungan ini. “tapi takut zona nyaman juga si” ucapnya. Benar juga apa yang diucapkan adikku, aku tak boleh terlalu terlena dengan zona nyaman. Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa begitu lega dan bahagia, padahal belum tentu akan diterima, namun rasa bahagia itu tetap saja memenuhi pikiranku. Sehingga perjalanan pulang yang begitu panjang di siang hari yang terik menjadi tak terasa.

                Singkat cerita, aku resmi diterima sebagai pegawai YPnDD. Awal-awal di lingkungan baru, aku belum merasa nyaman. Pekerjaan di kantor hanya sebagai formalitas. Hatiku masih terpaut dengan teman-teman dan lingkungan kampus. Sehingga untuk beberapa bulan, aku memutuskan untuk tetap pulang pergi kosan di kampus-kantor yang memakan waktu 1 jam lebih. Rasa lelah di perjalanan lebih aku pilih karena lingkungan kampus begitu erat mengikat pikiranku #eaaa. Sampai akhirnya masa kontrak tempat kosku habis, aku harus segera memutuskan meneruskan atau pindah tempat kos. Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih untuk kost di dekat tempat kerja bersama beberapa teman kantor yang juga teman kampusku.

                Setiap pagi saat tiba di kantor, saat shalat berjamaah, saat jam istirahat makan siang di pantry, bahkan saat pulang kantor, aku selalu berpapasan dengan anak-anak SMP dan SMA yang merupakan siswa SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI). Tapi aku tak pernah menaruh perhatian pada mereka, sama sekali. Mereka bagiku adalah siswa biasa yang bersekolah di SMART, sebatas itu saja. Akupun tak punya urusan dengan mereka. Sampai akhirnya suatu ketika, 2 teman kostku (sebut saja namanya Wulan dan Hastia) dengan begitu hebohnya menyalakan  TV dan menonton satu channel.

mau nonton apa siiih?” tanyaku penuh rasa heran

SC*V Diiill… anak SMART mau tampil di TV, Kabul dan kawan-kawan…mau nasyid” jawab mereka dengan heboh.

ooh.. kirain apaan” aku merespon tak terlalu antusias

mereka keren tau diil… mereka ini diundang sama tim kreatifnya SC*V tadi… bla..bla…bla” mereka berdua menjelaskan banyak hal tentang anak-anak SMART EI

                Kelemahan wanita adalah pendengarannya, artinya mudah sekali dipengaruhi melalui pendengaran. Setelah mendengar penjelasan dari Hastia dan Wulan, aku mulai penasaran dengan anak-anak SMART EI.  “seistimewa apa sih mereka ini?” pikirku. Keesokan harinya, aku memperhatikan anak SMART EI sedang melaksanakan upacara, tapi di akhir upacara, ada penampilan yel-yel antar angkatan. Kebetulan sekali aku masih bisa melihat penampilan yelyel terakhir dari kelas 5. Mereka satu kelas berjoget-joget sambil bernyanyi di tengah lapangan dan di depan semua peserta upacara. Tariannya begitu kocak, hingga tak terasa aku tertawa sendiri di pojokan saat memperhatikan mereka.

                Berdasarkan berbagai sumber tepercaya yang aku dapatkan, ternyata anak-anak SMART EI ini merupakan anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka adalah anak-anak yang memiliki IQ di atas rata-rata yang lolos proses selesksi SMART EI. SMART EI sendiri adalah sekolah menengah (SMP-SMA) akselerasi (hanya 5 tahun) berasrama bagi anak laki-laki dan gratis yang didirikan oleh Dompet Dhuafa. Anak- anak yang diterima nantinya akan mendapatkan berbagai pembinaan yang dapat meningkatkan pengetahuan mereka di bidang agama, sains, sosial dan kesenian. Setiap tahunnya, lulusan SMART EI 100% lolos PTN akreditasi A di Indonesia, masyaAllah… Tak heran makanya, ketika aku pertama kali datang ke tempat ini, ada anak yang sedang murojaah hafalan karena salah satu syarat lulus SMART EI, hafalan minimal yang telah dimiliki tiap siswa adalah 3 juz al-qur’an.

                Semakin banyak tahu dan semakin banyak mengenal adik-adik SMART EI, semakin besar rasa kagumku pada anak-anak super ini.  Pertama, mereka sangat multi talenta. Mereka bisa bisa menjadi MC yang sangat komunikatif untuk sebuah acara besar, mereka bisa memainkan alat musik seperti gitar, biola, organ, dll bahkan mereka dengan sangat kreatif memainkan alat musik dari barang bekas yang mereka namakan trashic (trash music). Mereka apik di bidang organisasi, ketika berinteraksi dengan mereka, pemikiran mereka sudah tidak setaraf anak seumuran mereka, mereka memiliki pemikiran yang lebih jauh dan dewasa. Bahkan mereka telah memiliki tulisan yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.

                Banyak sekali talenta yang mereka miliki. Tulisan-tulisan mereka yang diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Kumbang-Kumbang Jampang” mampu membuat rekan kerjaku (seorang laki-laki) meneteskan air mata ketika membaca salah satu tulisan mereka. Bahkan aku telah meneteskan air mata sebelum membaca tulisan mereka, hanya dari cerita singkat temanku yang telah membaca buku tersebut. Ada anak SMART EI yang memiliki banyak hafalan Qur’an hingga mendapatkan hadiah umroh. Adapula yang pintar desain dan telah mendapatkan berbagai pesanan desain dari luar. Adapula yang pintar main gitar dan menciptakan lagu. Ada yang menjadi juara jurnalistik nasional. Ada yang juara spelling bee bahasa inggris, ada yang menekuni bidang menulis hingga mendapatkan pelatihan intensif dari pihak penerbit, dan lain sebagainya.

                Saat ini, sepertinya keadaan berbalik. Aku merasa terlalu memperhatikan mereka, mereka begitu istimewa bagiku. Bahkan sepertinya keistimewaan mereka telah masuk di alam bawah sadarku (lebbay haha). Sebab, setiap aku kemanapun, ketika bertemu dengan teman-teman kampus misalnya, aku bercerita tentang anak SMART. Bertemu dengan adikku, bercerita tentang anak SMART. Bahkan saat pulang kampung dan bercerita dengan tetangga, aku bercerita tentang anak SMART. Istilah kerennya sih, ini namanya emotional attachmentnnya sudah kuat.

                Kekagumanku semakin bertambah ketika aku berkesempatan untuk berinteraksi pula dengan para alumni SMART EI. Saat aku dan timku mengadakan sebuah pertemuan dengan para alumni, alumni SMART EI membuatku terheran-heran. Ada seorang alumni yang saat ini berkuliah di UI memaparkan mimpi-mimpi yang ia tulis sejak di SMART EI dan mimpi-mimpi jangka panjangnya di masa depan beserta detail strategi apa yang harus ia lakukan jika ingin mencapai semua itu. Ada pula yang memiliki cita-cita sebagai penakluk Roma. Benar-benar tak biasa bukan…

                Aku kemudian berpikir… anak-anak yang hebat ini tentunya adalah hasil bimbingan para guru yang mendidik mereka. Mereka yang awalnya masih bocil (bocah kecil) dari berbagai penjuru nusantara dengan berbagai karakter dan latar belakang keluarga kemudian disatukan dalam satu lingkungan bernama SMART Ekselensia Indonesia. Tentunya tak mudah, karena mengubah karakter tak bisa dalam waktu singkat. Perlu waktu yang lama dan kesabaran yang tinggi. Menjadi guru di SMART EI bukan lagi pada tahap motivating apalagi telling, namun menurutku telah sampai pada tahap inspiring. Mereka tak hanya menjadi pengajar, namun pendidik.

                Beberapa kali aku melihat guru-guru SMART (yang akrab dipanggil ustadz atau ustadzah) sedang mengajak ngobrol anak SMART EI. Mereka selalu melakukan pendekatan secara personal. Mereka mengajak anak-anak ngobrol tentang hobi mereka, menjadi teman curhat, pemberi nasehat ketika ada anak  yang agak bermasalah, dan menjadi pengganti orang tua anak-anak SMART EI. Begitu dekatnya guru-guru dengan siswa, maka tak heran jika membaca tulisan-tulisan anak SMART EI banyak menceritakan tentang guru-guru mereka, tentang rasa terimakasih atas semua yang telah dilakukan oleh guru-guru kepada mereka.

                Aturan yang diterapkan guru-guru di SMART EI cukup ketat. Untuk shalat berjamaah, semua siswa harus tepat waktu. Sehingga apabila ada siswa yang masbuk ketika shalat, maka akan mendapatkan sanksi sosial dengan cara disuruh berdiri di depan para jamaah yang terdiri dari semua siswa kelas 1-5 dan para pegawai. Salain diminta berdiri, mereka juga dicatat untuk kemudian diberi hukuman atas pelanggaran yang mereka lakukan. Selesai shalat wajib shalat sunnah dan dzikir. Kegiatan siswa tak hanya di sekolah, namun juga kegiatan pembinaan di asrama yang berlangsung sampai jam 10.00 malam, istirahat dan kemudian dilanjutkan shalat malam sampai subuh dan apel lalu lanjut sekolah sampai sore.

                Tak dapat dipungkiri apabila rasa bosan kerap menghampiri siswa-siswa. Sangat wajar, sebab mereka melakukan kegiatan yang berulang dan bertemu dengan orang-orang yang sama selama 5 tahun. Tak jarang aku mendengar selentingan curhatan mereka tentang rasa bosan yang mereka rasakan. Semuanya serba diatur, bangun jam berapa, tidur jam berapa sekolah jam berapa, keluar asrama jamnya dibatasi dan tak boleh membawa handphone. Tapi herannya, meskipun mereka tak punya HP, mereka memiliki semua akun sosmed yang bahkan akupun tak punya. Misalnya Facebook, Twitter, Instagram, path, dan yang lainnya (Hebat!).

                Suatu sore yang lumayan sepi, aku memilih bekerja di ruang meeting markom yang berada di pojok depan kantor. Sebenarnya jam sudah menunjukkan jam 17.00 WIB, artinya sudah jam pulang. Namun, aku masih malas untuk beranjak pulang. Kemudian, tiba-tiba terdengar suara bel diikuti suara ustad SMART yang memberikan pengumuman berupa reminder.

Assalamualaiku wr wb, sekarang  jam telah menunjukkan pukul 17.00 WIB, kepada seluruh anak-anakku… silahkan mempersiapkan diri untuk shalat magrib berjamaah di masjid” kurang lebih seperti itulah bunyi reminder dari ustad tersebut.

                Pengumuman seperti itu sebenarnya tidak asing di telingaku karena setiap hari aku mendengarnya. Namun aku merasakan suasana berbeda di sore itu. Apalagi kemudian setelah pengumuman diikuti oleh pemutaran murottal A-Qur’an yang terdengar begitu  menenangkan hati. Kemudian aku mulai berpikir… seharusnya tak hanya siswa saja yang mengalami kebosanan, gurupun juga demikian. Terutama guru yang tinggal di asrama. Bahkan mungkin seharusnya mereka lebih bosan karena rentang waktu guru tinggal di lingkungan ini bisa jadi lebih lama dari siswa yang umumnya sekitar 5 tahun.

                Selama ini, aku selalu mengandaikan diri sebagai siswa karena memang mereka yang terlihat bosan dan aku dengar keluhannya. Namun bagaimana dengan guru? Ketika aku mengandaikan diri sebagai guru, maka berat sekali rasanya ketika membayangkan bagaimana guru harus menjaga keistiqomahan dalam melakukan berbagai pembinaan kepada siswa-siswa SMART. Sebab sangat manusiawi bukan… apabila mungkin suatu ketika guru-guru tersebut merasa bosan, atau sedang mengalami perasaan gundah karena suatu hal. Namun, semua itu tak boleh terlihat, terutama kepada siswa SMART. Kenapa? karena guru-guru inilah yang menjadi teladan bagi mereka.

Ketika Guru menjadi pilihan hidup, maka setiap tindakan adalah panutan

                Kalimat tersebut merupan kalimat dari seorang GM Makmal Pendidikan DD yang juga seorang guru. Kalimat tersebut mungkin yang dapat menggambarkan bagaimana guru-guru SMART EI kemudian harus tetap menjaga keistiqomahan mereka dalam melakukan berbagai kegiatan rutinan di asrama ataupun sekolah. Bayangkan saja, bukan hanya mereminder untuk shalat, bahkan untuk kegiatan harian seperti mencuci pakaian saja, siswa SMART EI diingatkan oleh para guru apabila mereka lupa melakukannya.

                Menjaga keistiqomahan tentunya sangat sulit. Namun, apa yang membuat guru-guru SMART tetap mampu melakukan itu semua dan tetap istiqomah?. Jawabannya adalah tanggung jawab atas pilihan yang mereka pilih untuk menjadi guru yang kemudian akan menjadi panutan bagi anak didik mereka.

Lalu, di akhir tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan kepada adik-adik SMART EI (mungkin saja ada yang membaca) bahwa nikmatilah proses kalian menuntut ilmu di sini. Kembangkanlah diri, gali potensi dan ambillah setiap peluang positif yang ada untuk mengoptimalisasi setiap kemampuan yang kalian miliki. Hormatilah guru-guru yang telah mendidik kalian. Bisa jadi ada sikap mereka yang kurang atau tidak cocok dengan harapan kalian. Maka pahamilah bahwa itu sangat manusiawi, sebab guru kalian juga manusia biasa. Teladanilah setiap hal yang baik dan buanglah setiap hal yang buruk. Semoga kalian menjadi orang-orang yang sukses dan kelak menjadi pemimipin-pemimpin yang akan menebarkan kebermanfaatan kepada orang banyak.

Salam hormat saya sampaikan kepada guru-guru SMART EI yang mulia. Banyak hal yang telah engkau berikan untuk pembentukan karakter positif bagi siswa-siswa. Semoga setiap ilmu yang engkau berikan dapat menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir. Semoga setiap keikhlasan dan kesabaran yang engkau miliki dapat saya jadikan teladan dan dapat saya terapkan dalam kehidupan. Serta semoga menjadi seorang panutan itu dapat pula saya miliki. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan surgaNya kelak. Amiiin…

smart EI

Foto anak-anak SMART EI bersama Utadz Mul

Sumber Foto: Facebook Pendidikan DD

Advertisements

4 comments on “Sulitnya Menjadi Panutan

  1. Nggak nyangka tulisannya bakalan berbalik arah, menikung tajam ke arah guru -profesiku saat ini. Sempat merasa tertohok membayangkan bagaimana keistiqomahan dan pertahanan diri seorang guru menasehati sekaligus melawan rasa bosan. Benar-benar layak dibilang guru tanpa tanda jasa. Harus banyak belajar pada guru-guru di sana bagaimana menjadi pribadi yang ikhlas dan tulus. Terimakasih pengingatnya 😀

    • Hahaa… makanya aku bilang seblumnya kalau aku ngambil latar yg lumayan jauh
      Benar sekaliii… guru memang seharusnya menjadi pendidik, bukan hanya pengajar dan tentunya harus istiqomah dan ikhlas. Be proud to be teacher sist 🙂

  2. Cieee Dila, lg so sweet nih.. kudu bayar royalti kalii bawa2 akuh :p
    Ohya, over all ketjeh lha tulisannya. Cm msh bym typo. Dan waktu itu (telatnya bulan Ramadhan) mereka tampil di M*CTV bukan yg ditulis sm Dila.
    Maaf yaak kl waktu itu terkesan lebay dan heboh.. skrg aku yg baper gara2 bakal jrg in touch brg mrk

    • Hahaha…. kan sebut saja, tapi pake nama asli #plak hahaha
      Iaa… lagi so swiiit… padahal itu udah dari kmaren sebenernya tulisannya, tapi kepotong karena hal yg mndesak… jadinya baru beres dan mungkin agak berantakan hehe

      Hahaha… ntar aku edit deh yg typo trmasuk channel tvnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s