Kekuatan Konsisten (Istiqomah)

Beberapa hari belakangan ini mahasiswa dan para alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dihebohkan oleh satu berita. Ya benar, berita tentang penggalangan dana untuk meng-umrohkan Roger. Setiap anak IPB umumnya akan langsung tahu siapa Roger ini. Roger bukanlah nama asli, tapi nama bekennya di kampus. Dia adalah penjual pulsa keliling di kampus yang sudah sangat akrab dengan banyak mahasiswa. Lalu… apa yang istimewa dengan profesi penjual pulsa keliling kampus? Kenapa mahasiswa harus menggalang dana untuk meng-umrohkannya?

                Roger ini istimewa, bukan hanya sekedar penjual pulsa, Roger ini punya keunikan ketika menjajakan pulsanya. Setiap menawarkan pulsa, dia akan selalu teriak “cek pulsa sebelum jauh…” lalu dia akan menyapa mahasiswa dengan sapaan yang unik, biasanya disesuaikan dengan warna baju “heiii… merah… merah mawar merona… pulsa doong…” itu ditujukan kepada mahasiswa yang bajunya merah, atau “heiii… kuning… kuning terang bersinar…” untuk mahasiswa yang berbaju kuning. Adapula yang ia panggil dengan panggilan “heii…dude…” dan lain sebagainya. Oya biasanya jika bertemu dengan orang yang menarik perhatiannya, si Roger akan menanyakan nama orang tersebut kepada temannya “heii… siapa sih nama si cantik sebelahmu?”.

Ketika pertama kali bertemu dengan Roger di kampus, aku sempat kaget melihat orang ini. Sebab dia seperti tidak memiliki rasa malu sedikitpun berteriak menawarkan pulsanya di tempat ramai, seperti kantin, koridor, bahkan pernah juga ia memasuki ruang kuliah saat dosen belum datang dan memberikan pengumuman di depan kelas menggunakan mikrofon menawarkan bolpen yang dijualnya, benar-benar orang yang unik dan memiliki rasa Pede yang tinggi.

Selain berjualan menawarkan pulsa atau bolpen, ia kerap kali memberikan nasehat terutama kepada mahasiswi  muslim yang belum berkerudung. Biasanya ia akan bilang “eh… coba kalau kamu pakai kerudung…. pasti jadi no.1 di sini”. Ia juga sering mengingatkan mahasiswa untuk shalat tepat waktu ketika waktu shalat tiba, serta ia juga sering pula mengikuti kajian keislaman yang diadakan mahasiwa. Pembawaan Roger yang ramah dan ceria membuat banyak mahasiswa tak segan untuk berteman dengannya.

Berdasarkan informasi yang aku dapat dari sumber tepercaya, ternyata Roger sudah berjualan pulsa keliling di kampus selama 13 tahun -wow-. Bukan waktu yang sebentar tentunya, tapi dia sepertinya sangat bahagia menjalani profesinya itu.  Beberapa hari yang lalu, alumni BEM Fakultas Ekonomi IPB menginisiasi untuk melakukan penggalangan dana via kitabisa.com untuk mengajak publik terutama mahasiswa dan alumni IPB untuk patungan mewujudkan impian Roger menunaikan ibadah umroh. Narasi yang mereka tuliskan simpel dan menarik, hanya dengan menggunakan kalimat yang begitu familiar di telinga kami sebagai alumni IPB, yakni “Cek Pulsa sebelum jauh… siapa yang tak kenal kalimat ini…blablabla….”.

Target dana yang diajukan di kitabisa.com sebesar 30 juta rupiah. Siapa yang menyangka, berkat publikasi dan sharing informasi via media sosial, ternyata dana yang terkumpul begitu cepat dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan, saat ini sudah sangat melampaui dari target. Saat ini, dana yang terkumpul telah mencapai 130 juta. Melihat fenomena ini, banyak mahasiswa IPB dan grup media sosial yang berisi anak IPB menjadi begitu heboh membahas kejadian penggalangan dana untuk Roger. Sehingga salah satu stasiun televisi swasta Met*o TV mengundang Roger dan perwakilan alumni BEM Fakultas Ekonomi IPB untuk hadir dalam acara yang disiarkan secara nasional di pagi hari.

Setelah mendapatkan undangan dari stasiun TV, berbagai info tentang Roger yang tayang di TV bertebaran di media sosial dan dishare berkali-kali. Ucapan terimakasih dari penginisiasi penggalangan dana ini juga disebarkan secara viral kepada para donatur yang telah ikut berpartisipasi dengan berdonasi untuk Roger. Berbagai komentarpun keluar dari berbabagai pihak. Ada yang mendukung, adapula yang terkesan kurang setuju. Sebab, ada isu yang berkembang bahwa sebenarnya Roger adalah orang yang mampu karena memiliki banyak kontrakan katanya.

Terlepas dari semua komentar tersebut, aku sebagai bagian dari mahasiswa IPB memandang fenomena ini sebagai hal yang sah-sah saja dan lebih memandang positif pada kejadian ini. Kejadian ini menunjukkan bahwa sebenarnya banyak mahasiswa IPB yang sebenarnya memiliki kepedulian untuk membantu orang-orang seperti Roger yang berjualan keliling di kampus. Namun, selama ini belum ada kanalnya saja. Sehingga ketika saat ini sudah disediakan kanalnya, terbuktilah kedermawanan dan kepedulian mahasiswa IPB kepada masyarakat sekitar.

Menjawab isu yang mengatakan bahwa Roger adalah orang yang memiliki banyak kontrakan, bagiku itu bukan masalah. Sebab, alumni IPB yang ikut berdonasi tak memandang latar belakang Roger. Aku menilai bahwa mereka berdonasi karena keberadaan Roger memutar kembali memori-memori mereka ketika masa kuliah dulu. Donasi yang mereka berikan seperti sebagai bentuk terima kasih alumni kepada Roger karena ketika disebutkan nama Roger maka mayoritas mahasiswa IPB akan mengenalnya dan teringatlah kembali masa-masa ketika di kampus dulu.

Selanjutnya, melihat dari sudut pandang lain, sebenarnya apa yang didapatkan Roger hari ini adalah hasil dari kekonsistenan (keistiqomahan) Roger dalam melakukan kegiatan yang sama dan berualng-ulang selama 13 tahun. Tentu ini bukan merupakan waktu yang sebentar. Roger dengan gayanya yang unik dan ceria membuat banyak mahasiswa tertawa dari generasi ke generasi. Tak mudah menjaga mood agar selalu tampak ceria dan bahasia seperti apa yang dilakukan Roger selama ini. Maka, tak heran jika ia kemudian memetik hasilnya hari ini dari dari orang-orang yang pernah ia buat senang hatinya. Akhirnya keinginan Roger untuk umroh (bahkan naik Haji tak hanya sendiri, namun bersama keluarga) dapat tercapai.

Inilah sebenarnya pesan mendalam yang aku tangkap dari peristiwa unik penggalangan dana untuk Roger. Pelajaran untuk senantiasa konsisten atau istiqomah. Kalimat yang mudah diucapkan namun sangat sulit dalam pengamalannya, karena membutuhkan kesabaran tinggi untuk mengamalkannya. Jika ingin menjadi ahli dalam satu hal, maka kerjakan satu hal tersebut secara konsisten (istiqomah). Sebab, pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang rasional. Rasional dalam arti “seeing is believing” , manusia akan percaya ketika melihat track record kita, apa yang telah kita lakukan, apa saja yang telah kita hasilkan dan semua itu akan baik apabila kita melakukan satu hal  secara konsisten (istiqomah). Benar-benar pengingat bagiku untuk ke depannya. 🙂

12791088_514090305445383_8623844219269000319_n

Sumber Gambar: kitabisa.com

12805962_514090742112006_7565496840411502220_n

Sumber Gambar: kitabisa.com

Advertisements

Akankah Akan Menjadi Ibu-Ibu?

gosip-ngerumpi-keburukan-orang-lain

Sumber Gambar: http://i2.wp.com/www.satujam.com

 

Pagi ini aku pergi berbelanja sayur dan kebutuhan masak ke warung belakang kosan. Tak seperti biasanya, tempat belanja kali ini dipenuhi oleh ibu-ibu yang juga memiliki tujuan sama, yakni belanja. Rasa was-was pun terjadi setiap bertemu dengan situasi seperti ini. Apakah itu?

Berdasarkan pengalaman yang telah aku alami sejak masih jaman kuliah, biasanya ibu-ibu yang belanja di tempat sayur dan kebutuhan masak dapur tak pernah mengenal kata antri. Berbekal kekuatan keakraban dan saling kenal dengan si pedagang, ibu-ibu ini mampu membuat pedagang melayaninya terlebih dahulu. Atau, ada trik lain yang mereka lakukan dengan cara bilang:

“bang, saya Cuma beli bawang aja bang…”

Secara psikologis, si abang atau ibu penjual sayur akan melayaninya karena  berpikir bahwa jika ibu-ibu tersebut dilayani maka ia akan mengurangi kerumunan dan memberikan kesempatan kepada yang lain. Namun  biasanya, setelah bawang dilayani, maka si ibu-ibu akan bilang

“oh ya, sekalian sama cabe, tomat, beras… blablabla”

Lalu apa yang aku lakukan melihat kondisi seerti itu? Diam. Yan, aku hanya mampu diam menahan rasa kesal. Sebab mana berani aku melawan kekuatan ibu-ibu tersebut. Hal serupa juga terjadi pagi ini. Jam 06.00 pagi aku berusaha dengan keras melawan rasa malas dengan harapan dapat berbelanja lalu memasak untuk bekal ke kantor. Tapi, beberapa ibu-ibu telah berkerumun di penjual sayur mendahuluiku.

Beberapa ibu-ibu yang memang datang sebelumnku sudah mulai menyelesaikan belanjaannya. Aku menunggu dengan sabar karena aku tak suka jika ada yang menyelaku, maka akupun tak boleh menyela orang lain. Tiba-tiba satu orang ibu-ibu yang baru datang dengan gaya khas ibu-ibunya menyela kerumunan kami. Herannya itu hal yang biasa bagi yang lain. Aku diam saja karena ibu-ibu yang sebelumnku saja membiarkannya. Aku berusaha menahan diri. Hingga akhirnya ibu-ibu yang sudah datang sebelumnku angkat suara dan bilang bahwa ia sudah dari tadi tapi tak dilayani.

“bu, ini punya saya dong dihitung belanjaannya… saya dari tadi gapapa sih disela, tapi ini udah telat”

Alamaaak… memangnya sudah jam berapa? Aku melirik ke jam yang tergantung dalam mushollah dekat penjual sayur menunjukkan jam 06.30. karena kurang yakin, aku membuka hp.ku dan benar saja sudah jam 06.30.

aku harus segera selesai nih…” aku berkata dalam hati

Saat ibu-ibu sebelumku hampir selesai dilayani, ada ibu-ibu muda yang tiba-tiba dengan seenakknya ingin menyela, ini mulai membuatku merasa kesal. Lalu dari sisi yang lain ada ibu-ibu yang lebih senior juga meminta untuk didahulukan. Tidak… tidak bisa seperti ini. Aku harus angkat bicara… aku tak boleh hanya diam dan membiarkan ibu-ibu ini menyelaku. Dengan mengumpulkan keberanian dan sedikit rasa kesal aku langsung berkata pada ibu-ibu penjual sayur.

“bu… saya dulu,,, setelah teteh ini tolong hitung belanjaan saya” ucapku dengan nada agak keras yang diapaksakan

oh,,, ia neng…” akhirnya si ibu penjual sayur menyadari kalau aku yang harus didahulukan

Bahkan karena diliputi rasa kesal dan rasa bangga karena mampu mengalahkan ibu-ibu yang lain (hahaha), aku menjadi lupa apa saja tambahan belanjaan yang harus aku beli -payah-. Sehingga ada beberapa barang yang harus aku beli menjadi tak aku beli, bahkan aku lupa membeli sayur, aku hanya membeli ikan dan bumbu saja. Benar-benar kekuatan ibu-bu.

Kejadian tadi pagi membuatku berpikir tentang sesuatu. Yakni, apa ia nanti ketika aku menjadi ibu-ibu aku akan memiliki sikap seperti itu? Artinya power ibu-ibu yang cenderung merasa benar dan seenanknya sediri.  Bahkan sekarang sudah menjadi tren di masyarakat bahwa yang dijuluki “Raja Jalanan” bukan lagi preman jalanan, tapi ibu-ibu yang naik motor matic. Sebab, ada beberapa kasus yang bahkan banyak terekam kamera bahwa ada ibu-ibu yang menggunakan lampun sen ke kiri, namun malah berbelok ke kanan. Ini tentu sangat membahayakan. Namun, banyak orang yang tak mampu melakukan apa-apa, sebab apabila si ibu ditegur, maka ia yang akan lebih keras memarahi si penegur, sehingga tetap saja si Ibu-ibu merasa benar.

Aku takut saja, saat ini aku merasa kurang suka dengan sikap ibu-ibu seperti itu. Namun ketika aku telah menjadi ibu-ibu, aku malah bersikap seperti itu, bahkan lebih parah. Maka dari itu, aku menuliskan tulisan ini agar menjadi pengingatku nanti ketika aku telah menjadi ibu nanti. Pengingat agar aku tak bersikap seenaknya, merasa selalu benar, dan tak mengenal antri. Semoga saja menjadi ibu yang baik dan memiliki tata krama yang baik. Amiiin 😀

By pradilamaulia Posted in unik