Akankah Akan Menjadi Ibu-Ibu?

gosip-ngerumpi-keburukan-orang-lain

Sumber Gambar: http://i2.wp.com/www.satujam.com

 

Pagi ini aku pergi berbelanja sayur dan kebutuhan masak ke warung belakang kosan. Tak seperti biasanya, tempat belanja kali ini dipenuhi oleh ibu-ibu yang juga memiliki tujuan sama, yakni belanja. Rasa was-was pun terjadi setiap bertemu dengan situasi seperti ini. Apakah itu?

Berdasarkan pengalaman yang telah aku alami sejak masih jaman kuliah, biasanya ibu-ibu yang belanja di tempat sayur dan kebutuhan masak dapur tak pernah mengenal kata antri. Berbekal kekuatan keakraban dan saling kenal dengan si pedagang, ibu-ibu ini mampu membuat pedagang melayaninya terlebih dahulu. Atau, ada trik lain yang mereka lakukan dengan cara bilang:

“bang, saya Cuma beli bawang aja bang…”

Secara psikologis, si abang atau ibu penjual sayur akan melayaninya karena  berpikir bahwa jika ibu-ibu tersebut dilayani maka ia akan mengurangi kerumunan dan memberikan kesempatan kepada yang lain. Namun  biasanya, setelah bawang dilayani, maka si ibu-ibu akan bilang

“oh ya, sekalian sama cabe, tomat, beras… blablabla”

Lalu apa yang aku lakukan melihat kondisi seerti itu? Diam. Yan, aku hanya mampu diam menahan rasa kesal. Sebab mana berani aku melawan kekuatan ibu-ibu tersebut. Hal serupa juga terjadi pagi ini. Jam 06.00 pagi aku berusaha dengan keras melawan rasa malas dengan harapan dapat berbelanja lalu memasak untuk bekal ke kantor. Tapi, beberapa ibu-ibu telah berkerumun di penjual sayur mendahuluiku.

Beberapa ibu-ibu yang memang datang sebelumnku sudah mulai menyelesaikan belanjaannya. Aku menunggu dengan sabar karena aku tak suka jika ada yang menyelaku, maka akupun tak boleh menyela orang lain. Tiba-tiba satu orang ibu-ibu yang baru datang dengan gaya khas ibu-ibunya menyela kerumunan kami. Herannya itu hal yang biasa bagi yang lain. Aku diam saja karena ibu-ibu yang sebelumnku saja membiarkannya. Aku berusaha menahan diri. Hingga akhirnya ibu-ibu yang sudah datang sebelumnku angkat suara dan bilang bahwa ia sudah dari tadi tapi tak dilayani.

“bu, ini punya saya dong dihitung belanjaannya… saya dari tadi gapapa sih disela, tapi ini udah telat”

Alamaaak… memangnya sudah jam berapa? Aku melirik ke jam yang tergantung dalam mushollah dekat penjual sayur menunjukkan jam 06.30. karena kurang yakin, aku membuka hp.ku dan benar saja sudah jam 06.30.

aku harus segera selesai nih…” aku berkata dalam hati

Saat ibu-ibu sebelumku hampir selesai dilayani, ada ibu-ibu muda yang tiba-tiba dengan seenakknya ingin menyela, ini mulai membuatku merasa kesal. Lalu dari sisi yang lain ada ibu-ibu yang lebih senior juga meminta untuk didahulukan. Tidak… tidak bisa seperti ini. Aku harus angkat bicara… aku tak boleh hanya diam dan membiarkan ibu-ibu ini menyelaku. Dengan mengumpulkan keberanian dan sedikit rasa kesal aku langsung berkata pada ibu-ibu penjual sayur.

“bu… saya dulu,,, setelah teteh ini tolong hitung belanjaan saya” ucapku dengan nada agak keras yang diapaksakan

oh,,, ia neng…” akhirnya si ibu penjual sayur menyadari kalau aku yang harus didahulukan

Bahkan karena diliputi rasa kesal dan rasa bangga karena mampu mengalahkan ibu-ibu yang lain (hahaha), aku menjadi lupa apa saja tambahan belanjaan yang harus aku beli -payah-. Sehingga ada beberapa barang yang harus aku beli menjadi tak aku beli, bahkan aku lupa membeli sayur, aku hanya membeli ikan dan bumbu saja. Benar-benar kekuatan ibu-bu.

Kejadian tadi pagi membuatku berpikir tentang sesuatu. Yakni, apa ia nanti ketika aku menjadi ibu-ibu aku akan memiliki sikap seperti itu? Artinya power ibu-ibu yang cenderung merasa benar dan seenanknya sediri.  Bahkan sekarang sudah menjadi tren di masyarakat bahwa yang dijuluki “Raja Jalanan” bukan lagi preman jalanan, tapi ibu-ibu yang naik motor matic. Sebab, ada beberapa kasus yang bahkan banyak terekam kamera bahwa ada ibu-ibu yang menggunakan lampun sen ke kiri, namun malah berbelok ke kanan. Ini tentu sangat membahayakan. Namun, banyak orang yang tak mampu melakukan apa-apa, sebab apabila si ibu ditegur, maka ia yang akan lebih keras memarahi si penegur, sehingga tetap saja si Ibu-ibu merasa benar.

Aku takut saja, saat ini aku merasa kurang suka dengan sikap ibu-ibu seperti itu. Namun ketika aku telah menjadi ibu-ibu, aku malah bersikap seperti itu, bahkan lebih parah. Maka dari itu, aku menuliskan tulisan ini agar menjadi pengingatku nanti ketika aku telah menjadi ibu nanti. Pengingat agar aku tak bersikap seenaknya, merasa selalu benar, dan tak mengenal antri. Semoga saja menjadi ibu yang baik dan memiliki tata krama yang baik. Amiiin 😀

Advertisements
By pradilamaulia Posted in unik

2 comments on “Akankah Akan Menjadi Ibu-Ibu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s