Zakatnesia, Berkah untuk Indonesia

Pagi ini tak seperti biasanya, aku tiba di kantor lebih pagi. Saat turun dari angkot, masih terlihat siswa-siswa berbaris rapi mengikuti apel pagi. Padahal biasanya, aku tiba di kantor saat siswa telah masuk ke kelas. Aku berangkat lebih pagi karena hari ini ada jadwal pelatihan di daerah Sawangan, Depok. Namun ketika memasuki ruangan, sepi… sekali. Ya, aku adalah yang pertama tiba di ruang kerja pagi ini. Setelah memberi kabar di grup bahwa aku telah tiba di kantor, aku agak kesal karena teman yang akan pergi bersamaku masih di rumahnya -otw-.

                Namun, semua kekesalan rasanya luntur ketika tiba di tempat pelatihan. Setelah registrasi, panitia memberiku dua buku. Satu buku kecil merupakan buku saku, lau lainnya merupakan buku tentang jurnalisme profetik. Aku terterik membaca buku saku karena terlihat lebih ringan. Tulisan pertama dibuka dengan judul yang cukup unik ‘Wangsit dari Gunung Kidul’, dari judulnya aku kira tulisan ini akan bercerita tentang kekuatan gaib atau sejenisnya. Namun ketika dibaca, isinya begitu menggugah.

                Tulisan tersebut bercerita bagaimana awal mula Dompet Dhuafa didirikan. Salah satu lembaga pengelola Ziswaf terbesar di Indonesia ini ternyata lahir melalui pemikiran para jurnalis, tentunya dengan ridho Allah SWT. Jurnalis senior yang mendapatkan ‘wangsit’ tersebut bernama Parni Hadi yang ternyata menjadi pemateri yang akan mengisi pelatihan kali ini. Buku lainnya yang berjudul Jurnalisme Profetik ternyata juga merupakan tulisan beliau.

                Setelah memberikan materi yang begitu un-usual tentang komunikasi efektif dari bapak Parni Hadi, kami kemudian diberi penjelasan tentang tema Dompet Dhuafa tahun ini, yakni Zakatnesia. Pertama kali mendengar tema ini, aku pikir kata Zakatnesia ini merupakan sebuah akronim dari kata Zakat dan Indonesia. Kata yang unik dan informatif menurutku. Namun, dibalik keunikan namanya, secara filosofis Zakatnesia mengandung arti yang begitu dalam dan menggugah. Itulah yang aku tangkap ketika pak Bambang menjelaskannya kepada kami.

                Zakatnesia memiliki tagline berkah untuk Indonesia. Kenapa menggunakan kata berkah? Apa sebenarnya arti berkah? Apakah berkah bisa diukur?. Berkah diartikan oleh pak Bambang sebagai segala hal yang tidak masuk akal terjadi, namun itu nyata terjadi. Beliau mengambil contoh kisah satpam. Seorang satpam yag bergaji 750.000 sebulan dapat mencukupi kebutuhannya dan keluarganya serta menyekolahkan ketiga anaknya. Sepertinya itu hal yang tidak mungkin terjadi, namun nyata terjadi. Kok bisa? Ya itu namanya berkah.

                Selama setahun bekerja di lembaga ini, aku memang banyak menemukan hal-hal yang tak biasa. Kadang aku menyebutnya sebagai dunia lain. Sebab, banyak hal-hal yang tak biasa aku temukan sebelumnya di dunia nyata, dunia yang aku temui sebelumnya. Beberapa hari yang lalu aku berbincang dengan seorang bapak yang bertugas membersihkan akuarium ikan di kampung wisata Zona Madina milik Dompet Dhuafa. Beliau merupakan orang yang memiliki pemikiran yang sederhana dan sangat tulus.

                Aku tak sempat menanyakan nama beliau karena kami sangat asik berbincang. Aku bertanya pada beliau apakah pengunjung kampung wisata Zona Madina telah banyak pengunjungnya atau tidak. Beliau menjawab sudah lumayan banyak. Aku kemudian bercerita pada si bapak bahwa di tempat tak jauh dari kampung wisata Zona Madina, terdapat sebuah wahana wisata yang lebih besar dan memiliki gapura lebih besar dan menarik daripada Zona Madina.

Gapuranya besar loh pak, jadi orang-orang akan langsung ngeh kalau itu wahana wisata. Sedangkan disini kan kecil ya” ucapku pada si bapak.

                Aku pikir, si bapak akan menjadi lebih minder dengan tempat kerjanya di Zona Madina karena tak memiliki Gapura yang besar seperti wahana wisata yang aku ceritakan tadi. Atau mungkin ia akan mengeluh karena tempat kerjanya tak menyedian fasilitas semegah wahana wisata tersebut. Namun, dugaanku jauh meleset. Jawaban si bapak sangat berbeda.

tapi kan di sini bisa sekaligus mba, tak hanya berwisata tapi juga bersedekah” kata si bapak

“maksudnya?” aku bertanya balik keheranan pada si bapak.

ya gini mba… kalau kita pergi ke wahana di sana, ya udah kita hanya dapat senang-senang saja karena disana dibangun murni untuk bisnis. Sedangkan kalau berwisata disini kan sudah sekaligus bersedekah karena uang yang dibayarkan untuk berwisata sebagian untuk sedekah kita. Jadi lebih baik di sini menurut saya.” Si bapak menjelaskan.

                Aku malu mendengar penjelasan si bapak. Malu, karena aku tak berpikir sejauh dia. Aku hanya berpikir dari apa yang aku lihat dari kacamata duniawi saja. Sedangkan beliau memandang lebih dalam tentang value  zakat, infaq dan sedekah. Beliau kemudian bercerita bahwa beliau tidak memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga beliau hanya bekerja membantu membersihkan kolam ikan di kampung belakang.

“meskipun hanya sebagai tukang bersih kolam ikan, saya yakin kok mba jika saya bekerja sungguh-sungguh, saya tidak akan disia-siakan. Selalu ada aja rezeki. Alhamdulillah sekarang saya udah ditarik ke Zona Madina ini untuk bantu-bantu membersihkan akurium ikan hias. Saya seneng kerja di sini karena kan bisa beramal juga, karena ini lembaga zakat.” Tutur bapaknya.

Mungkin ini yang namaya berkah. Gaji yang didapat si bapak memang tak seberapa, namun ia mendapatkan kepuasan batin dalam pekerjaannya. Melalui gaji yang tidak seberapa itu, ia dapat menghidupi diri dan keluarganya. Itulah berkah.

Berkah tak dapat dihitung menggunakan rumus matematika. Berkah terkadang juga tidak sesuai dengan logika. Ya… itulah berkah. Hal-hal yang sebenarnya tidak mungkin terjadi, namun nyata terjadi. Semoga tema Zakatnesia yang diangkat oleh Dompet Dhuafa tahun ini dapat benar-benar menjadi berkah untuk Indonesia dan semakin memberikan manfaat labih banyak dan lebih luas lagi.

WhatsApp-Image-20160513

sumber gambar: dokumentasi pribadi

Advertisements
By pradilamaulia Posted in Belajar

9 comments on “Zakatnesia, Berkah untuk Indonesia

    • Salam kenal mba helga/mas 😁

      Zona madina itu di parung. Jadi itu satu kawasan gt ada kampung wisata jampang, RST.Dompet Dhuafa, dan SMART ekselensia Dompet Dhuafa Pendidikan 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s