Jujur Saja, Jangan Terjebak Persepsi

jujur aja

Sumber Gambar: desain pribadi

Persepsi, satu hal inilah yang terkadang membuatku terjebak. Aku terjebak karena terkadang persepsi pikiranku jauh berbeda dengan kondisi yag sebenarnya terjadi. Satu contoh misalnya, dulu saat masih sekolah SD, ibuku sering melarangku untuk main hujan. ‘’takut sakit” kata ibuku. Tapi yah namanya juga anak-anak, apabila pulang sekolah kebetulan hujan, aku akan secara otomatis ikut bermain hujan-hujanan bersama teman-temanku yang lain.

Saat akan pulang ke rumah, aku telah berpersepsi bahwa ibuku akan marah karena aku bermain hujan dan tentunya basah kuyup. Karena persepsi ini, aku akan merasa was-was dan takut sekali untuk pulang. Tapi, karena aku harus pulang, aku paksakan melawan rasa takutku untuk menemui ibu. Aku sudah membayangkan ibu akan memarahiku. Namun, ternyata sangat berbeda dari persepsiku sebelumnya. Ibuku tak marah sedikitpun. Bahkan ibuku menyuruhku cepat berganti baju agar tidak kedinginan dan sakit.

Sepertinya aku tak belajar dari pengalamanku ketika kecil. Sampai kuliahpun, aku masih saja terjebak dengan persepsi. Melalui tulisan ini aku harap dapat menjadi pelajran pada yang lain bahwa jujur merupakan jalan keluar terbaik. Jangan terjebak oleh persepsi pribadi yang kadang memang menyesatkan (hehehe).

Saat duduk di tingkat 3 (sekitar semester 6) di kampus, aku terkena musibah. Motor yang aku pinjam dari adik kelasku dicuri maling di siang bolong saat bulan ramadhan. Motornya warna merah dan merknya mio –ngga ngiklan ya-. Aku shock sekali saat kejadian siang itu. Ditambah lagi karena saat hilang, aku masih mendengar bunyi motor yang dibawa kabur si maling. Ya, berarti saat membuka pintu kamar kost, motor yang dibawa maling masih berada di depan pagar kosan.

Akibat dari peristiwa ini. Aku dan temanku harus mengganti motor adik kelas kami dengan uang sebanyak 8 juta. Karena yang menghilangkan adalah kami berdua. Jadi aku membayar 4 juta rupiah. Angka yang lumayan besar sebenarnya untuk anak yang masih kuliah sepertiku saat itu. Namun, karena aku tak mau membuat orangtuaku shock, aku memutuskan untuk menyembunyikan kejadian ini dari mereka. Aku kemudian berusaha mencari uang agar dapat membayar ganti rugi tersebut kepada adik kelasku.

Satu tahun berlalu dari kejadian hilangnya motor. Aku berniat untuk tak menyembunyikan lagi kejadian tersebut dari orang tuaku. Aku berharap, orang tuaku senang karena aku mampu menyelesaikan masalahku sendiri dan aku tak membuat mereka shock saat kejadian hilangnya motor. Itu persepsiku.

Lalu apa tanggapan orang tuaku? Diluar persepsiku. Ibuku marah besar. Beliau marah bukan karena aku menghilangkan motornya. Beliau marah karena aku tidak jujur. Aku tidak jujur dan tidak menceritakan pada ibuku bahwa aku mengalami musibah itu. Padahal aku tak pernah berniat seperti itu. Niatku adalah tak mau membuat orangtuaku sedih dan banyak pikiran. aku tak mau menambah beban mereka. Namun, kata ibuku, aku salah.

kenapa kamu tidak jujur saja cerita sama ibu, kalau kamu mengalami musibah itu? Kalau kamu seperti itu, berarti kamu ga jujur” kata ibuku.

tapi kan… saya ga mau orang rumah kepikiran” aku membela diri.

iya… ngerti… tapi kan seharusnya kamu ceritakan kalau ada musibah seperti ini. Agar keluarga bisa membantu. Kamu dan adikmu (alias kembaranku) memang ga seperti kakak-kakakmu. Kalian ga mau terus terang sama orang tua. Bla…bla…bla…(sengaja aku singkat karena lupa hehe)” ibuku menasehatiku panjang lebar

Aku hanya bisa menyesal setelah kejadian itu. Seandainya aku ceritakan saja. Seandainya aku jujur saja. Seandainya… dan seandainya lainnya…. ternyata memang benar, terkadang kita selalu terjebak pada persepsi pribadi. Berpersepsi sendiri tentang orang lain, lalu menyimpulkannya sendiri. Setelah beberapa kejadian sejenis yang aku alami akibat persepsi dan ketidak jujuranku, aku berharap untuk selanjutnya aku bisa lebih jujur dan tak terjebak dengan persepsi. Karena berani jujur itu hebat (kayak kenal tagline ini).

Advertisements

4 comments on “Jujur Saja, Jangan Terjebak Persepsi

  1. berarti sepakat nyembunyiin kejadian hilang motor ini si kembar?
    terang aja orangtua marah, beliau pasti kepikiran lah gimana kesusahan anaknya waktu itu, gimana2 yang lain. Padahal sama, saat anak ngga mau orangtua terbebani, orangtua juga ngga mau anaknya nanggung semuanya sendiri.

    • Ia mas… itu hasil kesepakatan kami 😁

      Ya sepertinya seprti itu mas, ini benar2 jadi pelajaran agar tak hanya berpikir dari kami saya aja. Tapi dari sisi orang tua juga 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s