Jadilah Figuran yang Baik

Malam itu aku menghadiri sebuah acara yang melelahkan namun sangat menyenangkan. Aku baru menyadari bahwa menjadi fotografer dalam sebuah acara bukanlah yang mudah, dan itulah peranku di sini *fiyuuh. Namun semua rasa lelah terbayar ketika acara yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, yakni penampilan seni.  Tiga kelompok mahasiswa terpilih akan menampilkan penampilan seni dari daerah mereka masing-masing. Aku tak akan menceritakan tentang detail penampilan seni para mahasiswa itu, sebab ada hal lain yang lebih menarik perhatianku.

Kelompok ketiga yang berasal dari Samarinda (jika tidak salah) menampilkan sebuah drama yang menceritakan tentang investor-investor yang merusak kelestraian alam. Investor ini digambarkan begitu kejam dan menindas rakyat kecil. Dua orang berpuisi dengan penuh penghayatan dan diiringi teriakan rakyat kecil yang ditindas oleh para investor. Namun anehnya, kami sebagai penonton yang seharusnya ikut sedih melihat penampilan ini justru tertawa terbahak-bahak. Kenapa? sebab si rakyat kecil (diperankan seorang mahasiswi) terasa begitu mendominasi dengan teriakannya yang begitu dibuat seolah benar-benar tertindas. “aah… aah…” teriaknya, tak lama berselang ia teriak lagi “aah… aaah….”. setipa kali ia berteriak, kami semakin tertawa terpingkal-pingkal.

Setelah semua kelompok tampil, tibalah perwakilan juri memberikan penilaian dan review terhadap penampilan semua kelompok. Ketika mengomentari kelompok tiga, sang juri berkata

“saya paham… bahwa dalamsebuah penampilan atau pertunjukan, semua orang ingin eksis dan ingin dilihat oleh penonton. Tapi pahamilah peran kalian”

Sampai di pernyataan itu, aku mulai menebak-nebak ke manakah pernyataan ini ia arahkan. Sang juri kemudian melanjutkan

“jika kalian seorang figuran, ya jadilah figuran yang baik. Tadi saya sangat suka dengan penghayatan puisi dari kelompok tiga, namun konsentrasi saya terpecah ketika ada yang teriak-teriak karena ditindas tadi. Penonton lainpun menjadi tertawa terbahak-bahak melihat itu semua. Ketika mendapatkan peran sebagai figuran, ya berperanlah layaknya figuran. Jangan sampai mengalahkan pemeran utama yang sedang melakukan penampilan….”

Komentar di atas disampaikan dengan cara yang santai dan diselingi oleh banyak bercandaan oleh sang juri. Para penonton tertawa puas mendengar komentar sang juri, bahkan sang figuran tadi juga tertawa (aku melihatnya sekilas).

Peristiwa ini memberikan pelajaran berharga bagiku. Masa sekarang ini memang banyak orang yang ingin eksis atau menonjolkan diri (aku mungkin termasuk salah satunya). Namun, perlu dipahami bahwa semua telah memiliki peran masing-masing. Ada yang menjadi pemeran utama, ada pula yang berperan menjadi figuran. Menjadi apapun kita, yang terpenting adalah persembahkan yang terbaik dalam peran kita. Peristiwa ini mengajariku bahwa tak perlu memaksakan diri untuk menjadi pemeran utama, jika tempat kita bukan di situ. Mungkin saja kita tak menjadi pemeran utama dalam kondisi tersebut, namun mnjadi pemeran utama di kondisi yang lain. Ketika menjadi figuran menjadi peran yang harus kita ambil, mari berikan yang terbaik, toh figuranpun juga peran bukan. 😀

Advertisements

2 comments on “Jadilah Figuran yang Baik

  1. sukak banget sama pesannya… aku jadi ikutan ketawa pas baca bagian yang tertindas itu. tapi sedikit saran, judul tulisannya jadi semacam kesimpulan, jadi udah ketauan kemana arah tulisannya. kalau boleh saran, judulnya buatlah yang bikin agak penasaran sm isi ceritanya. tapi overall, menghibur lah 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s