Pada Akhirnya, Sendiri

Beberapa hari terakhir ini aku dilanda rasa gamang dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Terasa seperti ada gap antara jumlah kegiatan dengan waktu yang aku miliki. Jika dulu aku merasa bahwa kegiatanku begitu banyak dan waktuku terbatas, ini justru merasa sebaiknya. Aku merasa waktu luangku banyak, sedangkan kegiatanku lebih cenderung sedikit. Mungkin saja ini salah satu dampak positif dari pesan keluarga Gen Halilintar yang kemudian aku terapkan dalam keseharianku. Apa itu?

Ketika keluarga Gen Halilintar diundang dalam sebuah acara talkshow, mereka bercerita banyak hal terutama tentang kesibukan mereka selama bulan ramadhan. Bapak Halilintar menjelaskan bahwa justru kesibukan mereka semakin bertambah ketika memasuki bulan ramadhan, bukan malah sebaliknya. Sebab menurut beliau, puasa di bulan ramadhan itu berfungsi sebagai penahan nafsu. Misal, menahan nafsu untuk tidak tidur lagi setelah shalat shubuh, karena tidur setelah subuh itu dapat mendatangkan kefakiran.

Mendengar pernyataan tersebut, aku merasa tertampar. Malu rasanya ketika aku mengharapkan diberikan kelapangan rizki sedangkan di sisi lain, menahan nafsu untuk tidak tidur setelah shalat subuh saja aku tak mampu. Tidur setelah shalat subuh itu rasanya begitu nikmat sekali, sebab suasana pagi hari yang masih dingin begitu mendukung untuk menarik selimut kembali dan melanjutkan tidur, toh masuk kerja masih jam 08.00 WIB. Namun, ini tak bisa terus dibiarkan. Akibat selama ini memiliki kebiasaan tidur tersebut, pekerjaan rutinanku (seperti mencuci banju, nyetrika, dan masak) menjadi tak terpegang. Hal ini menyebabkan waktuku hanya habis untuk kegiatan rutinan saja. Bisa jadi inilah yang disebut kondisi “terjebak pada kegiatan rutinan”.

Pelan-pelan, aku mulai belajar untuk mengurangi jam tidurku dengan cara bangun pagi sebelum subuh dan memutuskan untuk tidak tidur lagi. Jam pagi yang biasanya aku pakai untuk tidur ini, aku pakai untuk mencuci, menyetrika, atau memasak. Sehingga kegiatan rutinanku tak menumpuk lagi. Akupun menjadi tak pernah telat lagi ke kantor. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan porsi waktuku menjadi berlebih dari aktivitasku.

Awalnya aku coba isi dengan kegiatan belajar bahasa inggris secara mandiri. Beberapa hari berjalan dengan semangat berapi-api. Namun, makin lama, aku mengalami kebosanan yang amat sangat. Meskipun aku mempunyai waktu luang, aku tak berminat menggunakannya untuk belajar bahasa inggris. Mungkin hal itu disebabkan karena aku memilih untuk belajar ‘structure’ terlebih dahulu yang artinya teori banget. Dan akhirnya setelah aku membaca sebuah artikel, aku akan mulai merubah cara belajarku menjadi metode ‘listening’.

Keluangan waktu yang aku miliki ini membuatku merefleksi diri. Aku menjadi ingat bagaimana aku yang dulu dan akhirnya aku yang kini. Dulu aku dan adikku tinggal bersama nenek. Kami tumbuh dengan baik dan penuh kasih sayang dari nenek yang telah kami anggap ibu kami. Nenekku amat sangat baik, sangat penyabar dan sangat apa adanya. Akibat semua kasih sayang yang beliau limpahkan, aku menjadi anak yang ‘tak bisa jauh’ dari nenek. Mungkin bahasa kerennya ‘mother complex’.

Aku tak pernah bisa menginap semalampun di rumah tante atau pamanku yang bahkan jaraknya dekat dengan rumahku apabila tanpa nenekku. Pernah suatu ketika, pamanku mencoba mengajak aku dan adikku menginap di rumahnya yang letaknya cukup jauh (beda kabupaten). Aku merasa amat tersiksa melalui hari-hari di rumah pamanku terutama ketika malam hari karena aku ingat nenekku. Sampai akhirnya, tangisku pecah ketika beberapa hari menginap di sana. Aku menjadi menyiksa pamanku secara tidak langsung karena aku menangis tengah malam dan mau tidak mau, pamanku harus mengantarku pulang.

Peristiwa lain terjadi ketika aku harus masuk SMA, dimana aku tak mau tinggal di asrama karena aku takut tidak ‘kerasan’ di sana. Sampai akhirnya aku masuk asrama ketika kelas 2 SMA (karena tuntutan akademik). Suatu ketika, aku harus balik ke asrama karena hari libur telah usai. Saat di perjalanan air mataku tak berhenti mengalir karena aku ingat ibuku. Aku paksakan sampai tiba di asrama. Namun, ketika sampai di tempat tidur asrama, hatiku tetap saja tak tenang. Akhirnya aku memutuskan pulang kembali ke rumah. Untung saja jarak asrama dari rumah tak teralalu jauh (masih satu kabupaten).

Ketika telah memasuki masa akhir kelas 3 SMA, seperti anak SMA pada umumnya, kami disibukkan dengan proses mendaftar kuliah. Aku tak masalah masuk universitas manapun, yang aku permasalahkan adalah jarak. Saat konsultasi dengan seorang guru yang dekat dengan kami (aku dan teman sekelasku), beliau menyarankan agar aku memilih universitas yang jauh. Aku sangat shock mendengar saran tersebut. Akhirnya jadilah aku menangis sejadi-jadinya di depan guru dan di depan teman-teman. Bahkan saat aku belum kuliahpun, aku tak mampu membayangkan bagaimana jika aku jauh dari nenek dan ibuku.

Benar saja, akhirnya aku yang tak pernah pergi kemana-mana, tak pernah jalan-jalan jauh dari rumah kemudian berkuliah di Bogor (dari ujung timur pulau jawa ke ujung barat pulau jawa). Ketika Allah telah berkehendak, pada akhirnya kita harus bisa menjalani itu semua. Suatu kondisi yang awalnya aku pikir tak mampu melaluinya, toh pada akhirnya sekarang aku bisa dan terbiasa dengan semua itu. Pada akhirnya aku bisa berada jauh dari mereka (orang tuaku).

Dilahirkan sebagai anak kembar, membuatku terbiasa hidup tak sendiri, termasuk urusan tidur. Sejak kecil aku tak pernah tidur sendirian. Saat kuliahpun aku juga selalu tinggal sekamar berdua dengan adikku. Bahkan ketika tingkat akhir, aku tinggal sekamar bersama adikku dan 2 orang sahabat kami (sekamar berempat). Satu persatu dari kami menamatkan studi kami dan kemudian berkarir di dunia pasca kampus. Meskipun aku bukanlah yang lulus atau mendapatkan pekerjaan yang terakhir, tapi aku ditakdirkan menjadi penghuni terakhir kamar kami.

Begitu sedih rasanya menjadi penghuni terakhir di kamar yang biasa menjadi tempat kumpul kami berempat. Bahkan saking susahnya move on dari kamar tersebut, aku merelakan menempuh perjalanan sekitar hampir 1 jam ke kantor (pulang pergi 2 jam) di jalan. Banyak yang menyarankan untuk tinggal di kost dekat kantor, tapi itu semua tak membuatku tertarik. Sampai akhirnya tiba waktu aku harus memutuskan untuk pindah ke dekat kantor karena masa kontrakku habis di kontrakan dekat kampus. Setelah memutuskan tinggal di kosan, perasaan yang katanya susah move on toh hilang dengan sendirinya. Aku sangat menikmati tinggal disini (di kost baru), meskipun tanpa adik dan sahabat-sahabatku. Ketika Allah telah menakdirkanku untuk tinggal di kosan dekat kantor, pada akhirnya aku memang harus tinggal disini dan tak ada masalah apapun yang aku alami. Pada akhirnya semua berjalan dengan normal dan baik-baik saja.

Aku tinggal di kosan ini tak sendiri, teman sekamarku adalah rekan kerjaku yang berasal dari padang. Bliau adalah seniorku, jadi aku memanggilnya ‘mbak’. Baik di kantor maupun di kosan, kami selalu berdua. Kami memasak bersama, makan siang di kantor bersama, bahkan pulang kerja bersama. Sampai akhirnya dia dilamar oleh kakak kelas yang aku kenal baik. Kami yang biasanya selalu bersama akhirnya harus berpisah karena ia tinggal bersama suaminya. Beberapa teman kantor mengejekku agar tak selalu nempel dengan mbakku ini karena kami telah tak tinggal bersama. Pada akhirnya aku pun mampu tak lagi harus kemana-mana bersama mbakku tersebut. Kami menjalani aktivitas kami masing-masing dengan baik meskipun intensitas bertemu kami tak seperti dulu.

Semua peristiwa yang aku alami sampai saat ini membuatku menyadari bahwa pada akhirnya aku akan sendiri. Ketika kecil dirawat orang tua, bersama orang tua, kemudian tumbuh menjadi remaja bersama teman-teman dan sahabat. Lalu menjadi dewasa, memiliki pasangan hidup, memiliki anak, membentuk keluarga. Pada akhirnya akan kembali menjadi sendiri. Pada hakikatnya, tak perlu takut menjadi sendiri karena pada dasarnya kita diciptakan untuk kembali sendiri. Ditinggalkan atau meninggalkan dan kemudian pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan semuanya sendiri.

*ditulis di kosan, sendiri.

Advertisements

17 comments on “Pada Akhirnya, Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s