Anak Kedua

Tentang anak kedua, berkali-kali aku mendengar mitos tentang anak kedua. Banyak yang mempercayai bahwa anak kedua dalam sebuah keluarga akan menjadi sosok yang paling berbeda dari saudara lainnya. Perbedaan ini bisa berupa perbedaan secara fisik maupun perilaku. Perbedaan secara fisik misalnya anak kedua ini bisa menjadi anak tercantik atau tertampan atau bahkan sebaliknya. Secara sifat tentunya bisa menjadi anak teralim atau sebaliknya daripada anak lainnya. Ini sebenarnya bisa jadi mitos belaka, namun anehnya ini terjadi di keluarga temanku dan juga keluargaku.

Aku memiliki tiga saudara perempuan, artinya kami empat bersaudara. Sebenarnya orang tuaku memiliki tiga anak yang kemudian menjadi empat karena anak ketiga adalah anak kembar (my sister and I),  aku memiliki dua kakak perempuan. Kakak pertama sudah menikah dan memiliki anak, begitupun dengan kakakku yang kedua. Kakakku yang kedua memang paling terlihat berbeda diantara kami. Secara fisik sudah dapat dibedakan, ia terlahir menjadi anak tercantik di keluarga kami. Paras wajahnya memiliki kemiripan yang dominan dengan ibu kami. Berbeda secara fisik, berbeda pula secara sifat.

Sejak kecil, kakak keduaku ini memang paling unik. Jika kami yang lain ketika kecil adalah anak yang cukup penurut, maka kakak keduaku adalah anak yang sangat aktif dan sangat penuntut. Apabila ia melihat iklan mie instan di televisi yang menggambarkan orang sedang makan mie yang terlihat begitu nikmat dan enak, maka ia akan langsung teriak dan minta mie instan yang persis seperti di televisi tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana kewalahannya orang tua kami menuruti keinginan kakak keduaku ini. Padahal, rumah kami terletak di desa yang cukup jauh dari perkotaan.

Sudah menjadi budaya dalam keluarga kami, bahwa setiap kami lulus SD, maka orang tua kami akan memberikan pilihan apakah kami akan melanjutkan sekolah ke SMP atau memilih untuk ke pesantren. Hal ini dilakukan oleh orang tua kami agar kami menjalankan pendidikan bukan berdasarkan paksaan dari orang tua, tetapi atas kehendak sendiri, sehingga kami akan lebih bersemangat jika berdasarkan pilihan sendiri.

Kami memilih untuk melanjukan pendidikan ke SMP, kecuali kakak keduaku. Dia memilih melanjutkan ke pesantren yang paling terkenal di Madura, yakni pesantren Al-Amien. Ketika aku ikut mengantarkan kakak keduaku ke pesantrennya, aku sangat terpukau. Sebab, pesantrennya begitu besar dan tertata rapi. Ketika pendaftaran pertama, begitu banyak keluarga yang mengantarkan anaknya untuk menimba ilmu di Al-Amien. konon, santri di sini tak hanya dari Madura saja, namun dari seluruh Indonesia. Aku sangat bangga karena kakak keduaku merupakan bagian dari santri di tempat ini.

Beberapa hari berselang dari hari pertama mengantar tersebut, kami mendapat telpon bahwa kakak keduaku ini jatuh sakit, sehingga kami harus menemuinya. Pesantren Al-Amien ini terletak di kabupaten sebelah, yakni di Sumenep, sedangkan kami di Pamekasan. Setelah tiba di klinik pesantren, kami mendapati kakak keduaku sakit panas, sepertinya dia homesick karena ia menjadi terlihat sehat ketika melihat kedatangan kami, hal ini wajar terjadi selama proses adaptasi. Setelah menemaninya cukup lama, kami pulang ke rumah.

Anehnya, panggilan dari pesantren selanjutnya hampir selalu datang setiap minggu, dan hampir setiap minggu kami harus menemui kakak keduaku ini ke pesantren. Bermacam-macam alasan yang diutarakan, tapi umumnya adalah sakit. Sampai akhirnya kami mengetahui bahwa kakak keduaku ini tidak betah di pesantren. Fakta ini diperkuat dengan hasil rapotnya yang nilainya dibawah rata-rata. Akhirnya setelah melalui pertimbangan yang panjang, orang tua kami memutuskan untuk memulangkan saja kakak keduaku dari pesantren.

Karena mengalami trauma dari pesantren dan kesalahan pengelolaan pendidikannya, kakak keduaku tidak melanjutkan sekolahnya. Jadilah ia hanyamemiliki ijazah SD saja. Sedangkan di sisi lain, kami bertiga menyelesaikan pendidikan kami sampai perguruan tinggi. Sediih sekali… rasanya mengetahui kenyataan ini. Kakakku yang paling cantik tidak dapat mengenyam pendidikan seperti kami yang lain. Memang titel dari hasil pendidikan bukanlah yang terpenting bagi kami, yang terpenting adalah pola pikir yang kemudian terbentuk dari hasil pendidikan itulah yang kami harapkan. Yang paling menyesakkan dada adalah ketika ada perkumpulan keluarga besar, selalu saja ada yang membanding-bandingkan kami berempat. Tentu hal tersebut sangat menyakiti hati kakakku. Meskipun ia selalu berusaha terlihat tegar, aku dapat melihat kesedihannya dari puisi-puisi yang ia buat dan aku baca secara diam-diam.

Seiring berjalannya waktu, ia yang cantik, tumbuh menjadi wanita yang semakin cantik. Banyak pemuda yang ingin melamarnya dan adapula yang berusaha menjadi perantara baginya. Namun sayangnya, pemuda yang datang tidak sesuai dengan yang keluarga kami harapkan. pemuda-pemuda tersebut memiliki track record yang kurang baik di mata masyarakat, tentunya kami tak ingin memiliki anggota keluarga yang memiliki kelakuan yang kurang baik di masyarakat. Beberapa penolakan yang dilakukan oleh keluarga kami mulai tersebar di masyarakat, tak tau siapa yang telah menyebarkannya. Ibuku merasa tak enak hati dengan kabar tersebut, sehingga ibu meminta agar kakak keduaku ini tak terlalu sering keluar rumah jika tak ada keperluan mendesak.

Ketika aku kuliah, aku merasakan kesedihan yang amat sangat jika mengingat kakak keduaku ini. Sering kali aku dan adikku berdiskusi dan berusaha menemukan cara agar kakak keduaku dapat lebih produktif. Sebab kami dapat membayangkan, bagaimana bosan dan jenuhnya menjalani kegiatan rutinitas di rumah tanpa ada tujuan masa depan yang jelas. Sampai suatu ketika, tante kami menawarkan agar kakak keduaku ini bekerja di kota, di sebuah toko accessoris. Meskipun gajinya tidak besar, setidaknya ia memiliki kesibukan dan bertemu dengan banyak teman. Mendengar kabar tersebut, aku langsung setuju agar kakak keduaku tersebut dapat lebih produktif.

Kakak keduaku ini memang tak memiliki pola pikir yang terlalu kritis, namun yang aku lihat, ia selalu menjalani kehidupannya dengan penuh ceria dan rasa syukur. Maka, tak heran jika Allah terus menambah nikma baginya karena kesyukurannya itu. Setelah beberapa bulan bekerja di toko accessoris, usut punya usut, kakakku ini disukai oleh pemuda pemilik toko helm sebelah tempat ia bekerja. Pemuda tersebut adalah seorang pengusaha helm yang umurnya lebih muda dua tahun dari kakakku. Meskipun berumur lebih muda, ia memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari kakakku. Pemuda ini tak berlama-lama menyimpan rasa sukanya, ia langsung datang ke rumah dan menyampaikan niat baiknya kepada orang tua kami untuk melamar kakak keduaku. Singkat cerita akhirnya mereka menikah dan sekarang telah memiliki satu anak perempuam yang cantik dan lucu. MasyaAllah….

Kehidupan kakak keduaku ini sekarang cukup makmur dan sejahtera. Bahkan dapat dikatakan lebih makmur (jika indikatornya materi) daripada kakak pertamaku. Sebab, suaminya seorang pengusaha, bukan pegawai yang pendapatannya lebih terbatas. Rencana Allah memang selalu indah bagi hambanya yang mau bersabar dan bersyukur. Jika orang lain hanya melihat hasilnya saat ini pada kakakku, mereka bisa saja berkata bahwa enak sekali menjadi kakakku, tak perlu sekolah tinggi-tinggi, tak perlu bekerja, tinggal fokus menjadi ibu rumah tangga. Namun, ketika kembali melihat prosesnya, aku yakin tak semua orang mampu melaluinya, bahkan akupun tak mampu. Bagaimana ia bersabar dari kejenuhan dan ketidak pastian sampai akhirnya ia memetik buah dari kesabarannya itu.

Itulah cerita anak kedua di keluarga kami. Anak kedua yang paling berbeda. Anak kedua yang bahkan membuat ibuku selalu mengulang-ulang kepadaku bahwa ia-lah yang paling membuat ibuku kepikiran hingga ibuku tak bisa tenang jika ia belum mendapatkan kehidupan yang baik. Anak kedua yang begitu sabar dan menerima takdir Allah, yang bahkan berkata bahwa ia akan menjadi penjaga anak-anak kami (ketiga saudaranya) apabila nanti kami hidup sejahtera, sedangkan ia tidak. Anak kedua yang paling rajin mencuci baju, dan menjaga kebersihan rumah. Anak kedua yang justru sekarang paling dekat dengan orang tua kami karena ia tinggal serumah dengan orang tua kami, sedangkan kami bertiga menjadi perantau jauh dari orang tua. Anak kedua yang bahkan aku seakan ingin hidup normal seperti dia, menjadi ibu rumah tangga, bermasyarakat dan hidup di kampung yang damai (ah… aku tak boleh begitu, karena akupun memiliki kisahku sendiri, yang aku yakin insyaAllah juga indah bagiku). Anak kedua yang sekarang…paling rajin ke makam bapak (T.T). Ya… itulah anak kedua keluarga kami.

img_20140803_155146

urutan anak 1- 4 dari kanan ke kiri

img_20150718_102706

Formasi Keluarga Lengkap, Idul Fitri 1436 H (minus kakak ipar pertama). kakak keduaku yang memakai baju pink di sebelahku 🙂

*ditulis menggunakan handphone untuk kesekian kalinya agar idenya tak lekas menguap 😁

Advertisements

Seolah Tak Punya Peran

image

Pagi hari sekitar jam 03.00 WIB aku tersontak bangun tidur karena kesakitan. Tiba-tiba saja kaki kananku kram, sakiiit sekali rasanya. Langsung saja aku memutuskan untuk berdiri dan menegakkan kaki agar rasa sakit kram itu hilang. Setelah beberapa saat, alhamdulillah sakit kramku hilang. karena sedang tidak shalat, setelah kejadian tersebut, aku langsung ke kamar mandi dan dilanjutkan dengan melipat baju untuk packing mudik idul adha kali ini.

Aku berangkat ke stasiun agak siang yakni jam 08.00 WIB (biasanya setelah shalat subuh langsung berangkat) karena jadwal keretaku masih sore, sekitar jam 15.45 WIB.  Tak disangka, jalan yang aku prediksi akan sangat macet lumayan lancar. Ditambah lagi bapak supir angkotnya cekatan banget, jadi bisa nyelap nyelip di jalan.

Ketika hampir tiba diterminal, ada segerombolan polisi berompi hijau stabillo sedang melakukan razia. Jujur saja, aku muak sekali dengan tingkah para polisi ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa razia biasanya hanya menjadi kedok mereka untuk meminta uang kepada masyarakat. Mungkin perkataanku terasa terlalu kasar, namun dipercaya atau tidak, memang begitulah kenyataannya di lapangan. Aku juga tak menutup mata bahwa ada juga polisi yang jujur dan amanah, namun sayangnya yang jujur dan amanah ini menjadi rusak karena beberapa polisi lain yg tidak jujur dan justru bertindak seolah pemalak masyarakat.

Sudah beberapa kali aku berurusan dengan polisi yang tidak jujur ini. Oh ya, bukan hanya aku, tapi temanku juga. dari beberapa kejadian yang aku alami, hanya akan aku ceritakan satu saja. Suatu ketika, aku dan sepupuku sedang belajar mengendarai mobil. Setelah selesai belajar, kami pulang dengan melewati alun-alun kota. Saat berbelok ke kanan sebelum alun-alun, ada seorang polisi mengejar kami dan meminta kami berhenti. Suami sepupuku dan aku turun dan menemui polisi tersebut. Dari muka-mukanya aku sudah menebak bahwa polisi ini ingin meminta uang, tapi aku menepis anggapan itu. Mungkin saja ini adalah polisi jujur, batinku.

Si polisi menjelaskan bahwa kami melanggar marka jalan karena mobil pribadi seharusnya lurus dan tidak boleh belok kanan. Aku berusaha menjelaskan bahwa kami tidak melihat marka dan kebetulan sepupuku ini baru tiba di kota  kami, jadi belum tau betul marka jalan yang ada.

“Apakah tidak bisa diberi peringatan saja pak? “ aku berusaha menego

“Oh… ga bisa mba,, kalau mba cuma diberi peringatan, nanti semua yang melanggar minta diberi peringatan juga” pak polisi menjelaskan

“Tapi pak… kalau di acara 86 kok orang yang tidak pakai helm saja, bisa cuma dikasih peringatan, kenapa kami yg tidak sengaja melanggar marka jalan langsung ditilang?” Aku menego lagi

“Ga bisa mba, karena pelanggaran yang mba lakukan ini sangat fatal, saya tilang ya, kalau ke pengadilan minimal 500ribu” ucap polisi mulai memberi kode

“Tapi pak…” aku masih tak terima, karena indikator fatal yang polisi tersebut katakan terlalu mengada-ngada. Dan aku tau bahwa polisi ini sebenarnya mau minta uang.

“sudah…sudah… kamu masuk mobil sana…biar aku aja yang urus” suami sepupuku sepertinya tak mau melihat aku berdebat lama karena sudah tau arah pembicaraan polisi ini akan kemana.

Aku hanya bisa ngedumel dalam hati. Rasanya kesaaaalll… sekalii… karena aku tak bisa mencegah kemungkaran yang dilakukan polisi tersebut. Ya aku memang merasa bahwa kami salah, tapi kenapa tak menjalankan tugas dengan benar. Jika memang mau menilang kami, ya silahkan saja tak usah menawarkan untuk memberi sogokan padanya. Aku menjadi berpikir, apakah tugas polisi sebenarnya? hanya menilangkah? Meminta uangkah?. Jika kembali pada fungsi yang seharusnya, bukankah polisi berfungsi melindungi masyarakat? Menjadi panutan untuk menaati peraturan, kemudian memberikan penjelasan jika masyarakat belum mengerti peraturan di jalan. Kemudian ditindak apabila tidak mempan diperingatkan.

Polisi sendiri yang merusak nama dan citra mereka sendiri. Jangan salahkan kami sebagai masyarakat jika kami tidak menjadikan polisi sebagai pihak yang dapat kami andalkan ketika kami mengalami kesulitan, karena kenyataannya kami justru akan menyembunyikan agar polisi tidak mengetahui karena bukan menyelesaikan, justru masalah akan semakin rumit jika polisi terlibat. Jangan salahkan kami jika kami menakut-nakuti anak kecil dengan ucapan ‘awas ada polisi… iiih’ karena polisi memang menjadi figur yang cukup menakutkan bagi kami, bukan justru menjadi sosok super hero yang bisa melindungi kami.

Pengalaman temanku mungkin adalah pengalaman yang begitu unik dengan polisi yang tidak jujur. Suatu ketika dia akan ditilang karena tidak memakai helm, namun anehnya orang lain yang juga tidak memakai helm justru dilepaskan tanpa ditilang oleh polisi karena mengaku sebagai keponakan bapak polisi X. Temanku yang seorang sangat kritis ini kemudian dengan nekatnya langsung saja bilang

“Pak, kenapa orang itu tidak ditilang meskipun tidak memakai helm karena mengaku punya keluarga polisi. Saya tidak terima, saya sudah merekam kejadian tadi di hape saya” ucapnya berapi-api

Padahal ia tak merekam apa-apa di hapenya. Kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya karena ia diperlakukan secara tidak adil. Namun anehnya, para polisi ini ketakutan dan untungnya mereka tak memeriksa video yang ada di hape temanku ini.

Setelah melalui perdebatan panjang yang melibatkan mulut dan urat leher, dicapai kesepakatan bahwa temanku ini tak akan ditilang asalkan video yang sebenarnya tak ada itu dihapus. Untung saja, di hape temanku ini ada 2 file video, dia kemudia menghapus salah satunya. Sangat terlihat bukan, bagaimana kelakuan dan ketidak jujuran aparat polisi di negara kita. Setelah kejadian tersebut, temanku menuliskan kisahnya di note facebook, kemudian ada banyak polisi yang memberikann komentar padanya melalui pesan fb. Temanku mengakui bahwa ia menulisnya dalam keadaan emosi, jadi tulisannya seolah menggiring pembaca untuk berpikir bahwa semua polisi tidak jujur, padahal masih ada juga yang jujur dan amanah.

Kembali pada kejadian angkot tadi pagi, aku begitu kessal melihat tingkah laku polisi-polisi itu, terutama polisi yang menilang angkot kami.
Polisi tersebut datang dengan gaya sok tegas. Menanyakan kelengkapan surat-surat bapak angkot. Dengan muka yang terlihat gugup, bapak sopir angkot mengatakan bahwa surat-surat mobilnya hilang. Ia kemudian menunjukkan surat kehilangan yang ia miliki. Namun, pak polisi menyuruh bapak sopir mengikutinya ke mobil polisi. “Aah… sudah ketebak… si*lll…” batinku dalam hati.

Aku terus saja melihat bapak sopir angkot yang mengikuti bapak polisi. Aku mendengar ucapan bapak angkot “mohon bantuannya pak” *huft…. kemudian aku melihat bapak angkot menyelipkan uang ke saku polisi itu, lalu dengan gampangnya si polisi langsung saja serta merta memberikan kembali surat-surat yang tadi ia ambil dari bapak angkot.

Rendah sekali… receh sekali… kelakuan polisi yang tidak jujur tersebut. Bertitel polisi yang bertugas melindungi, namun berkelakukan seolah preman pemalak uang. Aku sadar betul bagaimana sulitnya bapak angkot mengumpulkan uang demi mengejar setoran, namun hasil yang ia dapat dengan mudahnya diambil oleh si polisi dengan dalih menegakkan peraturan.

Aku begitu heran, apakah gaji polisi begitu kecil hingga mereka harus mencari tambahan penghasilan dengan cara seperti itu?, apakah pendidikan kepolisian tidak mampu menyampaikan value-value kejujuran kepada semua polisi yang dididik? Yang justru mampu dilakukan oleh pak ignatius jonan. Fyi, value kejujuran bahkan sampai kepada tukang pel stasiun kecil di jawa tengah karena value yang ditanamkn begitu kuat. Petugas cleaning service toilet di salah satu stasiun kecil di Jawa Tengah menolak diberi uang oleh seorng ibu (ibu ini bercerita kepadaku, ia terkesan karena toiletnya bersih dan wangi) karena petugas tersebut sadar bahwa tindakan menerima uang itu perbuatan yg tidak mulia, sungguh berbeda dengan polisi yang justru meminta uang.

Peran polisi seharusnya dikembalikan pada peran awalnya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Sebab jika masih bertingkah seperti pemalak dan tak mau berubah. Rasanya, tak salah jika aku mengatakan bahwa polisi seolah tak punya peran (maafkan pemikiran ini). Semoga polisi segera berbenah dan memperbaiki diri, amiin…

*ditulis di kereta dari Jakarta ke Surabaya 😀