Seolah Tak Punya Peran

image

Pagi hari sekitar jam 03.00 WIB aku tersontak bangun tidur karena kesakitan. Tiba-tiba saja kaki kananku kram, sakiiit sekali rasanya. Langsung saja aku memutuskan untuk berdiri dan menegakkan kaki agar rasa sakit kram itu hilang. Setelah beberapa saat, alhamdulillah sakit kramku hilang. karena sedang tidak shalat, setelah kejadian tersebut, aku langsung ke kamar mandi dan dilanjutkan dengan melipat baju untuk packing mudik idul adha kali ini.

Aku berangkat ke stasiun agak siang yakni jam 08.00 WIB (biasanya setelah shalat subuh langsung berangkat) karena jadwal keretaku masih sore, sekitar jam 15.45 WIB.ย  Tak disangka, jalan yang aku prediksi akan sangat macet lumayan lancar. Ditambah lagi bapak supir angkotnya cekatan banget, jadi bisa nyelap nyelip di jalan.

Ketika hampir tiba diterminal, ada segerombolan polisi berompi hijau stabillo sedang melakukan razia. Jujur saja, aku muak sekali dengan tingkah para polisi ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa razia biasanya hanya menjadi kedok mereka untuk meminta uang kepada masyarakat. Mungkin perkataanku terasa terlalu kasar, namun dipercaya atau tidak, memang begitulah kenyataannya di lapangan. Aku juga tak menutup mata bahwa ada juga polisi yang jujur dan amanah, namun sayangnya yang jujur dan amanah ini menjadi rusak karena beberapa polisi lain yg tidak jujur dan justru bertindak seolah pemalak masyarakat.

Sudah beberapa kali aku berurusan dengan polisi yang tidak jujur ini. Oh ya, bukan hanya aku, tapi temanku juga. dari beberapa kejadian yang aku alami, hanya akan aku ceritakan satu saja. Suatu ketika, aku dan sepupuku sedang belajar mengendarai mobil. Setelah selesai belajar, kami pulang dengan melewati alun-alun kota. Saat berbelok ke kanan sebelum alun-alun, ada seorang polisi mengejar kami dan meminta kami berhenti. Suami sepupuku dan aku turun dan menemui polisi tersebut. Dari muka-mukanya aku sudah menebak bahwa polisi ini ingin meminta uang, tapi aku menepis anggapan itu. Mungkin saja ini adalah polisi jujur, batinku.

Si polisi menjelaskan bahwa kami melanggar marka jalan karena mobil pribadi seharusnya lurus dan tidak boleh belok kanan. Aku berusaha menjelaskan bahwa kami tidak melihat marka dan kebetulan sepupuku ini baru tiba di kotaย  kami, jadi belum tau betul marka jalan yang ada.

“Apakah tidak bisa diberi peringatan saja pak? “ aku berusaha menego

“Oh… ga bisa mba,, kalau mba cuma diberi peringatan, nanti semua yang melanggar minta diberi peringatan juga” pak polisi menjelaskan

“Tapi pak… kalau di acara 86 kok orang yang tidak pakai helm saja, bisa cuma dikasih peringatan, kenapa kami yg tidak sengaja melanggar marka jalan langsung ditilang?” Aku menego lagi

“Ga bisa mba, karena pelanggaran yang mba lakukan ini sangat fatal, saya tilang ya, kalau ke pengadilan minimal 500ribu” ucap polisi mulai memberi kode

“Tapi pak…” aku masih tak terima, karena indikator fatal yang polisi tersebut katakan terlalu mengada-ngada. Dan aku tau bahwa polisi ini sebenarnya mau minta uang.

“sudah…sudah… kamu masuk mobil sana…biar aku aja yang urus” suami sepupuku sepertinya tak mau melihat aku berdebat lama karena sudah tau arah pembicaraan polisi ini akan kemana.

Aku hanya bisa ngedumel dalam hati. Rasanya kesaaaalll… sekalii… karena aku tak bisa mencegah kemungkaran yang dilakukan polisi tersebut. Ya aku memang merasa bahwa kami salah, tapi kenapa tak menjalankan tugas dengan benar. Jika memang mau menilang kami, ya silahkan saja tak usah menawarkan untuk memberi sogokan padanya. Aku menjadi berpikir, apakah tugas polisi sebenarnya? hanya menilangkah? Meminta uangkah?. Jika kembali pada fungsi yang seharusnya, bukankah polisi berfungsi melindungi masyarakat? Menjadi panutan untuk menaati peraturan, kemudian memberikan penjelasan jika masyarakat belum mengerti peraturan di jalan. Kemudian ditindak apabila tidak mempan diperingatkan.

Polisi sendiri yang merusak nama dan citra mereka sendiri. Jangan salahkan kami sebagai masyarakat jika kami tidak menjadikan polisi sebagai pihak yang dapat kami andalkan ketika kami mengalami kesulitan, karena kenyataannya kami justru akan menyembunyikan agar polisi tidak mengetahui karena bukan menyelesaikan, justru masalah akan semakin rumit jika polisi terlibat. Jangan salahkan kami jika kami menakut-nakuti anak kecil dengan ucapan ‘awas ada polisi… iiih’ karena polisi memang menjadi figur yang cukup menakutkan bagi kami, bukan justru menjadi sosok super hero yang bisa melindungi kami.

Pengalaman temanku mungkin adalah pengalaman yang begitu unik dengan polisi yang tidak jujur. Suatu ketika dia akan ditilang karena tidak memakai helm, namun anehnya orang lain yang juga tidak memakai helm justru dilepaskan tanpa ditilang oleh polisi karena mengaku sebagai keponakan bapak polisi X. Temanku yang seorang sangat kritis ini kemudian dengan nekatnya langsung saja bilang

“Pak, kenapa orang itu tidak ditilang meskipun tidak memakai helm karena mengaku punya keluarga polisi. Saya tidak terima, saya sudah merekam kejadian tadi di hape saya” ucapnya berapi-api

Padahal ia tak merekam apa-apa di hapenya. Kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya karena ia diperlakukan secara tidak adil. Namun anehnya, para polisi ini ketakutan dan untungnya mereka tak memeriksa video yang ada di hape temanku ini.

Setelah melalui perdebatan panjang yang melibatkan mulut dan urat leher, dicapai kesepakatan bahwa temanku ini tak akan ditilang asalkan video yang sebenarnya tak ada itu dihapus. Untung saja, di hape temanku ini ada 2 file video, dia kemudia menghapus salah satunya. Sangat terlihat bukan, bagaimana kelakuan dan ketidak jujuran aparat polisi di negara kita. Setelah kejadian tersebut, temanku menuliskan kisahnya di note facebook, kemudian ada banyak polisi yang memberikann komentar padanya melalui pesan fb. Temanku mengakui bahwa ia menulisnya dalam keadaan emosi, jadi tulisannya seolah menggiring pembaca untuk berpikir bahwa semua polisi tidak jujur, padahal masih ada juga yang jujur dan amanah.

Kembali pada kejadian angkot tadi pagi, aku begitu kessal melihat tingkah laku polisi-polisi itu, terutama polisi yang menilang angkot kami.
Polisi tersebut datang dengan gaya sok tegas. Menanyakan kelengkapan surat-surat bapak angkot. Dengan muka yang terlihat gugup, bapak sopir angkot mengatakan bahwa surat-surat mobilnya hilang. Ia kemudian menunjukkan surat kehilangan yang ia miliki. Namun, pak polisi menyuruh bapak sopir mengikutinya ke mobil polisi. “Aah… sudah ketebak… si*lll…” batinku dalam hati.

Aku terus saja melihat bapak sopir angkot yang mengikuti bapak polisi. Aku mendengar ucapan bapak angkot “mohon bantuannya pak” *huft…. kemudian aku melihat bapak angkot menyelipkan uang ke saku polisi itu, lalu dengan gampangnya si polisi langsung saja serta merta memberikan kembali surat-surat yang tadi ia ambil dari bapak angkot.

Rendah sekali… receh sekali… kelakuan polisi yang tidak jujur tersebut. Bertitel polisi yang bertugas melindungi, namun berkelakukan seolah preman pemalak uang. Aku sadar betul bagaimana sulitnya bapak angkot mengumpulkan uang demi mengejar setoran, namun hasil yang ia dapat dengan mudahnya diambil oleh si polisi dengan dalih menegakkan peraturan.

Aku begitu heran, apakah gaji polisi begitu kecil hingga mereka harus mencari tambahan penghasilan dengan cara seperti itu?, apakah pendidikan kepolisian tidak mampu menyampaikan value-value kejujuran kepada semua polisi yang dididik? Yang justru mampu dilakukan oleh pak ignatius jonan. Fyi, value kejujuran bahkan sampai kepada tukang pel stasiun kecil di jawa tengah karena value yang ditanamkn begitu kuat. Petugas cleaning service toilet di salah satu stasiun kecil di Jawa Tengah menolak diberi uang oleh seorng ibu (ibu ini bercerita kepadaku, ia terkesan karena toiletnya bersih dan wangi) karena petugas tersebut sadar bahwa tindakan menerima uang itu perbuatan yg tidak mulia, sungguh berbeda dengan polisi yang justru meminta uang.

Peran polisi seharusnya dikembalikan pada peran awalnya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Sebab jika masih bertingkah seperti pemalak dan tak mau berubah. Rasanya, tak salah jika aku mengatakan bahwa polisi seolah tak punya peran (maafkan pemikiran ini). Semoga polisi segera berbenah dan memperbaiki diri, amiin…

*ditulis di kereta dari Jakarta ke Surabaya ๐Ÿ˜€

Advertisements

26 comments on “Seolah Tak Punya Peran

  1. semoga polisi kita jadi lebih baik ke depannya.. gpp sih kalo benci sama kelakuannya yang ngga bener, asal ngga sama personnya,. nanti dapat jodoh polisi loh.. ๐Ÿ˜€

      • Sama Dil, kirain cuma di Sumut aja lho yg begitu oh ternyata, buat bosen n sebal deh sama tingkah oknum yg model begituan.
        Kadang kalo di daerah aku mereka memang sengaja sembunyi2 diparkiran supermarket trus tarik stang motor n cabut kunci lgsg, kalo liat yg beginian udh tau la akhirnya apa yg diminta ๐Ÿ˜ง

  2. seperti film-film India, selalu ada yang baik dan buruk.
    Demikian juga di korp mereka, yang masih tentu masih ada, tinggal berapa persentase nya mungkin lebih kecil.

    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s