Memang Harus pada Tempatnya

Suatu ketika, saat tergabung dalam sebuah pelatihan, seorang pembicara memberikan tugas kepada kami untuk menjelaskan makna dari 3 kata. Kami dibagi kedalam 3 kelompok, jadi setiap kelompok mendapat bagian untuk menjelaskan satu kata. Tiga kata tersebut antara lain Tidak egois, jujur dan disiplin. Perwakilan kelompok pertama menjelaskan tentang makna dari kata tidak egois. Beliau adalah seorang bapak berbadan besar dan bertampang cukup sangar (hehe). Dengan gaya santainya, dia menjelaskan tentang kata tidak egois menurut kelompoknya.

Menurut bapak yang satu ini, kata tidak egois merupakan sikap yang tidak mementingkan diri sendiri. Namun, menurut beliau sikap ini tak boleh diaplikasikan dalam semua kondisi. “Sebab, boleh jadi  kita sendiri yang akan tersisih akibat dari sikap ini” kata si bapak. Hmm… benar juga, tapi kondisi seperti apa ya yang bapak tadi maksud, sehingga kita dibolehkan untukk bersikap egois?. Ah… sudahlah… mungkin saja si bapak telah banyak makan asam garam dimana dia dipertemukan dengan banyak kondisi dan ia diharuskan untuk bersikap egois.

Suatu ketika di kondisi yang lain, aku dan beberapa rekanku bepergian untuk menghadiri acara pernikahan teman sekantor. Tempat acaranya cukup jauh, butuh waktu sekitar 5-6 jam dengan mengendarai mobil pribadi. Perjalanan menjadi semakin menyenangkan karena salah satu teman kami adalah orang yang sangat well prepared ketika bepergian, terutama soal makanan. Maka jadilah kami sangat makmur dengan berbagai makanan yang ia bawa (alhamdulillah).

Perjalanan menuju tempat acara berjalan begitu menyenangkan. Berbeda dengan perjalanan pulangnya. Salah satu rekan kami tak punya tumpangan pulang karena rombongan yang ia tumpangi sebelumnya akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Melihat kondisi ini, tentulah kami sangat khawatir. Namun, kami tak dapat berbuat apa-apa karena mobil rombongan kami sudah full. Tiba-tiba salah satu penumpang dari mobil kami dengan inisiatif pribadinya menawarkan tumpangan pada rekan kami ini karena mobil rombongan laki-laki (mobil lain)  masih ada satu kursi kosong. Kami semua ikut membantu agar teman kami ini dapat tumpangan.

Namun, ternyata ia bersama anak dan istrinya. Sehingga hanya ia yang dapat menumpang di mobil tersebut, anak dan istrinya tidak. Kami sangat paham jika mereka (penumpang mobil laki-laki) hanya dapat menampung satu orang, sebab ini perjalanan jauh, tidak bisa dipaksa berdesak-desakan. Temanku yang penuh inisiatif tadi menggendong anak teman kami ke arah mobil kami, sepertinya ia akan membawa anak teman kami bersama kami. namun ternyata tak hanya itu, ia membawa istri teman kami juga untuk menumpang di mobil kami. Semua penumpang dalam mobil hanya saling berpandangan dengan muka keberatan yang berusaha ditutupi.

Sebenarnya kami sangat keberatan jika harus ada tambahan penumpang lagi, termasuk anak kecil. Apalagi kalau ditambah dengan orang dewasa. Sebab mobil kami sudah sangat full dan perjalanan ini adalah perjalanan jauh, jadi posisi duduk harus benar. Namun sayangnya, teman kami yang satu ini tetap memaksa. bayangkan saja mobil keluarga standar, di kursi tengahnya yang seharusnya diisi 3 orang, justru diisi empat orang dewasa dan dua orang anak-anak dengan menempuh perjalanan 6 jam.

Setelah turun dari kendaraan, temanku lainnya yang juga duduk di kursi tengah mengeluhkan sakit pinggang dan badannya lelah luar biasa. Melihat kondisi ini, rasanya aku ingin marah saja pada temanku yang penuh inisiati itu. Tapi, aku urungkan niatku karena jika aku marah, mungkin saja aku puas. Namun, tindakan tersebut justru akan merusak hubungan kami. aku dan temanku yang lain hanya berkomentar antara kami berdua bahwa mungkin bagi temanku yang penuh inisiatif itu, tindakannya menolong tersebut adalah tindakan yang benar karena ia tidak egois , menolong orang yang tak dapat tumpangan. Namun, seandainya ia menyadari bahwa dia justru egois kepada kami  karena mementingkan sifat ketidak egoisannya itu. Jadilah peristiwa ini mengingatkanku pada pernyataan si bapak tempo hari tentang sifat tidak egois yang tak harus selalu dilakukan di semua tempat, tetapi harus tau tempat. Karena memang benar, semua harus ada tempatnya.

Advertisements