Wanita-Wanita di Sekelilingku

wanita

sumber: http://mauliadesign.wordpress.com

Saat pulang untuk liburan kemarin, aku menyempatkan diri untuk menjenguk Omku yang sedang sakit. Beliau adalah kakak pertama ibuku. Percaya atau tidak, beliau adalah salah satu paman yang paling ditakuti oleh aku dan beberapa sepupuku ketika kami masih kecil. Bagaimana tidak, penampilan beliau tinggi besar, kumis tebal, dan suara tegas dan keras khas bapak-bapak polisi karena beliau memang berprofesi sebagai seorang polisi. Satu hal lagi yang membuat aku dan anak kecil lainnya takut berada dekat dengan beliau karena beliau suka memakai kapas yang telah dilumuri minyak angin cap kap*k kemudian dimasukkan ke lubang hidung -hiii…

Aku dan kakak pertamaku diutus oleh ibu karena ibuku sedang berhalangan untuk menjenguk beliau (ibuku rutin sekali menemui kakak pertamanya, bahkan untuk sekedar menemani mengobrol atau memijitnya). Aku dan kakakku memasuki rumahnya yang sepi, susasana rumah agak gelap karena saat itu sedang mati lampu. kemudian kami memasuki kamar tempat Omku biasa beristirahat. Betapa kagetnya aku, astaghfirullahal ‘adzim… aku hampir saja tak mengenali sosok yang sedang terbarig lemah di depanku.

Omku sudah tak berpenampilan seperti dulu lagi. badannya dulu yang tegap dan tinggi besar telah menjadi sangat kurus nampak tulang. kumisnya yang dulu hitam lebat dan terlihat menyeramkan telah menjadi memutih dan tipis, begitu pula rambutnya yang telah dipenuhi uban. “ya Allah… sesungguhnya fisik yang kadang dibanggakan oleh manusia pada akhirnya akan rusak termakan usia” gumamku dalam hati. Kata ibuku, Omku terserang penyakit diabetes yang membuatnya tak mampu berjalan, hanya berbaring di atas kasur saja. Aku perhatikan perawakan Omku saat ini sudah sangat mirip dengan perawakan kakekku dulu (orangtua dari Om dan Ibuku).

Setelah mencium tangan Omku, kami duduk di samping beliau. Kemudian Omku menceritakan banyak hal. mulai sari kondisi saat ini sampai mengenang masa lalu. sepertinya beliau hanya butuh ditemani saja, sebab ketika kami datang beliau terlihat ceria dan sangat bersemangat ketika bercerita. satu hal yang tak berubah, yakni suara beliau, hanya itulah yang kemudian meyakinkanku bahwa beliau adalah Omku yang dulu.

Cukup lama kami menemani beliau, mungkin sekitar 2-3 jam. Dari sekian banyak cerita yang beliau ceritakan pada kami, ada satu hal yang menarik perhatianku. yakni beliau bercerita tentang kesabaran dan ketabahan istrinya dalam merawat beliau.

Om ini harus banyak bersyukur punya istri yang sabar seperti tante kamu. Tante kamu harus merawat Om dan harus mengerjakan semuanya sendiri. Sebenarnya sakit Om ini malu-maluin… masa yang mengerjakan semuanya malah tante kamu, bukan Om sebagai kepala keluarga” curhatnya pada kami.

Aku dan kakakku hanya bisa menanggapi seperlunya seperti “ia Om…” atau “yang sabar Om” sebab kami paham bahwa beliau hanya ingin didengarkan saja, maka kami memposisikan sebagai pendengar yang baik.

Setelah mendengar semua cerita dari Omku, tak lama kemudian tanteku datang menggunakan motor. Beliau baru saja datang membeli pakan ayam di pasar. Ia membawa pakan ayam seberat setengah kwintal sendirian dari pasar dalam cuaca yang cukup terik saat itu. Lebih sedihnya lagi, ternyata tanteku bercerita bahwa beliau terjatuh di jalan karena melewati jalan berlubang. Tanteku terburu-buru karena ia ingin saegera sampai di rumah karena mengkhawatirkan Omku akan menunggu makanan yang dipesannya terlalu lama. –MasyaAllah…

Aku dan kakakku kemudian berpamitan pulang pada Om dan Tante kami karena kami harus pergi membeli sesuatu. Saat berpamitan, Omku sempat berpesan pada kami:

ya hati-hati di jalan… semoga kalian menjadi istri yang berbakti pada suami seperti tante kalian

Amiiin… terima kasih Om atas doa baiknya. Selama di perjalanan, aku banyak memikirkan pernyataan dari Omku tentang istrinya. Setelah aku pikirkan lebih jauh, ternyata aku banyak dikelilingi oleh wanita-wanita sabar, dan penuh ketaatan kepada suami mereka.

Siapa saja mereka? aku ambil contoh mulai dari nenekku. Beliau adalah wanita yang sangat berbakti dan setia kepada suaminya (read: kakekku). Bayangkan saja, kakekku terserang penyakit stroke yang menyebabkan beliau lumpuh total. Mulai dari tak bisa bergerak (hanya tidur di atas kasur) dan tidak dapat berbicara. Banyak yang heran kenapa kakekku terserang penyakit ini, sebab beliau adalah orang yang rajin bekerja dan aktif bergerak, namun itulah takdir kakekku, semoga sakit yang Allah beri dapat meluruhkan dosa-dosa beliau.

Kakekku mengalami kelumpuhan selama kurang lebih 3-4 tahun. Berbagai metode oengobatan telah dilakukan, namun tak ada yang berhasil. Selama menderita sakit tersebut, nenekku menjadi perawat yang begitu telaten pada kakekku. mulai dari memandikan, kemudian membopong kakekku untuk duduk di depan rumah agar mendapat sinar matahari menyuapi, bahkan membuang kotoran saat kakekku sedang buang hajat. Jika diibaratkan, nenekku seperti merawat bayi, namun bayi besar. Nenekku begitu sabar merawat kakekku hingga ajal menjemput kakekku. Banyak sekali orang-orang yang memuji kesabaran dan ketabahan nenekku dalam merawat kakekku, bahkan mereka menyampaikan kekaguman mereka pada nenekku kepadaku.

Kemudian Ibuku, beliau juga merupakan seorang wanita yang kuat dan sabar. Bagiku, ibuku adalah sosok wanita yang cerdas. Bahkan meskipun ia tak berpendidikan tinggi, kecerdasannya melebihi orang lain yang pendidikannya lebih tinggi dari beliau. Ibuku adalah wanita yang sangat berbakti pada suami (read: bapakku). Bagaimana tidak, ia tak pernah mengeluh ketika harus bekerja sendiri membiayai kehidupan keluarga ketika usaha bapakku mengalami kebangkrutan. Ibuku tak pernah menuntut apapun, ketika aku bertanya kenapa ibuku tak pernah menuntut pada bapak, ibuku berkata:

Nak,,, bahkan bapakmu sekarang belum bekerjapun sudah membuat ia malu akan keadaaannya, lalu apakah ibu tega menambah rasa malu bapakmu dengan menuntut banyak padanya? bapakmu dulu tak pernah seperti ini, hanya kondisi sekaranglah yang membuatnya terpaksa menganggur karena usahanya bangkrut”

Ibuku dengan begitu setia merawat bapakku dan menahan kantuknya di Rumah Sakit ketika bapakku harus bolak balik masuk Rumah Sakit. Ibuku yang denga setia menyuapi makan bapakku, memandikannya di ruang ICU, ibuku yang tetap dengan sabar merawat bapakku meskipun emosi sedang tidak stabil di ruang ICU, ibuku yang bahkan tak meneteskan air mata sedikitpun saat bapakku meninggal. Duh ibu… bisakah aku sekuat dan setegar dirimu, bahkan ketika aku menuliskan ini semua, air mataku tetap saja tak terbendung.

Saat mengetahui bahwa bapakku sudah tutup usia, perasaanku tak dapat didefinisikan. semacam ada rasa tak percaya dan ada ruang di hati dan pikiran yang rasanya tiba-tiba menjadi kosong. Selama di perjalanan pulang, aku tak dapat berhenti menangis bukan karena memikirkan bapakku. Tapi aku berpikir tentang ibuku, aku tak dapat membayangkan bagaimana nanti aku melihat wajahnya. Apakah nanti ibuku akan begitu berduka? menangis? terpukul? aku tak dapat membayangkan semua itu. Tapi… masyaAllah… ketika aku tiba di rumah, bukan tangisan yang aku dapatkan tapi muka tabah dan tegar itu yang menyambutku. Percayalah kawan, ibuku tak sedikitpun menangis. Ekspresi tegar ibukulah yang membuat kami semua kuat dan tabah.

“InsyaAllah bapakmu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT” ucap ibuku.

Terima kasih…terima kasih ya Allah telah menghidupkan aku diantara wanita-wanita penyayang, sabar, tabah, kuat, tegar dan taat pada suami seperti mereka. Jadikanlah aku dan saudara-saudaraku dapat meneladani sikap baik mereka agar kami nantinya juga dapat menjadi teladan bagi anak-anak kami. amiiin…

*ditulis di kantor saat menjelang akhir tahun 2016 -kantor sepi bangeeet-

Advertisements

Terbuka atau Tersisih

Hidup di Jawa Timur ternyata tak sefleksibel di Jawa Barat. Setelah sekian lama merantau di Jawa Barat, aku baru menyadari bahwa kemajuan teknologi sangat diterima di sini, berbeda dengan di Jawa Timur. Loh kok? Serius… ini hanya berdasarkan pengalaman pribadiku saja sebenarnya (tidak mengeneralisasi), semoga bisa jadi pelajaran bagi teman-teman sekalian (ce’ileeh).

Seperti biasanya, ketika akan balik ke Bogor, aku naik bus Patas dari Pamekasan-Madura menuju Surabaya. Karena jalur bus tidak melewati stasiun, maka aku memilih turun di jalan Kedinding, Surabaya setelah jembatan Suramadu. Nah… dari tempat ini ke stasiun, biasanya aku dijemput kakakku atau naik taksi (jika ada teman, agar hemat). Sejak adanya Gojek, aku memilih untuk naik gojek karena lebih murah dan lebih aman. Namun…

Siang tadi terjadi hal yang tak mengenakkan ketika aku order Gojek. Saat abang Gojeknya datang dengan atribut lengkap (jaket gojek, helm gojek dan smua terlihat baru), kami berdua dicegat oleh gerombolan abang-abang pangkalan ojek 😱. Mereka memaksa abang Gojek yang aku pesan untuk menurunkan penumpang (yakni aku). Hadeeeh… sebbelnya minta ampun.

Awalnya aku biarkan saja abang Gojek berdebat dengan abang-abang pangkalan ojek. Aku diam saja di atas motor dengan muka datar. Abang Gojek minta maaf karena dia masih baru dan tidak tahu jika ada peraturan seperti itu. Di sisi lain, abang-abang pangkalan ojek tetap kekeuh ingin merebut penumpang (haduuh… aku diperebutkan #plak).

 Abang-abang pangkalan ojek beralasan kalau mereka sudah mangkal sejak jam 5 pagi tapi belum mendapat penumpang. “Lah masa… mas baru datang lalu tinggal ngambil penumpang… jangan gitu lah… ini kan berarti mengambil lahan kami untuk mencari nafkah” kata mereka.

Sikap cuekku tak bertahan lama rupanya, ditambah lagi jam sudah menunjukkan jam 12.00 WIB, masa ia… aku ketinggalan kereta karena ngeladenin perdebatan abang-abang ini *huft. Tak tahan lagi dengan ulah mereka, akhirnya aku turun. “Pak… jadinya gimana solusinya?” Tanyaku pada gerombolan bapak-bapak ini. “Ya mba harus batalin Gojeknya lalu naik ojek disini”kata salah satu abang ojek.

 “Berapa dari sini ke stasiun gubeng?”

“20.000”

Dengan spontannya aku langsung bilang “mahal banget pak” soalnya kalo gojek cuma 8.000 hehe

“Ya emang biasanya segitu mba”

Yah… mau gimana lagi “yaudah deh… pak tolong di cancel ya pak… saya minta maaf karena order disini” ucapku pada abang Gojek

“Ia gapapa mba… kan sama-sama ga tau ini sebenarnya” kata abang Gojek dengan muka memelas.

Akupun naik ojek pangkalan. Selama di perjalanan, aku hanya diam. Malas sekali rasanya mengajak ngobrol abang ojek ini. Pikiranku justru berputar-putar memikirkan kalimat pamungkas yang aku sampaikan kepada abang ojek ini jika nanti aku turun di stasiun. Aku membayangkan jika seandainya nanti abang ojek ini meminta maaf atas kejadian tadi, aku ingi bilang

“yang bapak lakuakan tadi itu jahat” ga jadi ah… jadi kayak Cinta dan Rangga.

Kalimat lain yang aku pikirkan “kalau bapak seperti itu terus… rezeki bapak tidak akan barokah” ga jadi, karena aku takut malah memicu pertengkaran.

Kalimat lainnya “seharusnya bapak tidak seperti itu, jika bapak ingin bersaing, bersainglah secara sehat dengan berinovasi” hallah… ini terdengar terlalu akademis.

“Hmm… apa aku sinisin aja bapaknya ya” gumamku dalam hati.

Sibuk memikirkan berbagai kalimat yang akan aku ucapkan, tak terasa kami telah sampai di depan stasiun Gubeng. Aku turun dari ojek, ngasih helm, lalu bayar 20.000 dan bapak nya pergi, udah gitu aja. Hapaaah??? Percuma saja aku memikirkan berbagai kalimat pamungkas tadi, tak berguna. Setidaknya aku harap si bapak sadar bahwa aku tak suka dengan tingkahnya, setidaknya dia sadar ketika aku hanya diam membisu di jalan tadi.

Sesampainya di stasiun… pikiranku mulai berpikir liar. Apa jangan-jangan kejadian tadi hanya settingan ya??? Apa mungkin abang Gojek itu bekerjasama dengan abang-abang ojek , sehingga akibat perbuatan mereka, aku rugi dua kali. Pertama aku membayar uang Gojek sebesar 8.000 (otomatis kepotong karena aku bayar pakai Gopay), kemudian aku juga harus membayar ojek 20.000. Aku berpikir seperti itu bukan tanpa alasan, sebab ini terasa aneh saja. Dulu aku juga pernah pesan Gojek dan abang Gojeknya tak memakai atribut lengkap karena dia tau disana rawan dipalak ojek pangkalan. Tapi, abang yang satu ini pakai semua atribut Gojek lengkap dan terlihat sangat ngejrenggg.

Selain itu, perdebatab antara abang Gojek dan abang ojek tadi terlihat sangat kalem, maksudnya mereka berdebat namun terasa begitu penuh sopan santun, saling minta maaf lah… apa lah… ya gitu lah…

No…no… jika memang itu settingan, maka aku doakan semoga uang yang mereka dapat tidak barokah. Tapi jika memang abang Gojek tak terlibat, doa tadi hanya untuk abang ojek *efek emosi.
Setiap peristiwa selalu ada hikmahnya, begitu pula kejadian ini.  Peristiwa ini mengajariku bahwa mau tak mau… siap atau tak siap… kemajuan teknologi dan inovasi pasti akan terjadi. Semua bergantung kita, akan berpikiran terbuka dan berusaha belajar atau kekeuh dengan pengetahuan lama dan kemudian akan tersisih. Sama seperti abang ojek yang menggunakan peraturan sendiri dan terkesan ‘memaksa’ atas ketidak terbukaan mereka terhadap kemajuan teknologi. Silahkan pertahankan cara tersebut, karena sejatinya mereka tak akan bertahan lama dan kemudian juga akan tersisih.

Pelajaran lainnya adalah… tak selamanya hidup itu lancar-lancar saja, seperti yang aku alamai tadi, tak selamanya pesan Gojek itu mudah dan lancar, ada kalanya tiba-tiba dicegat abang-abang ojek, lalu dipaksa naik ojek pangkalan dengan tarif lebih mahal. Terima kasih ya Allah atas pengalam ini, setidaknya aku mendapat pengalaman berharga yang kemudian dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain agar taka mengalami hal yang sama di tempat yang sama  -hehe- 😁

Pesan untuk abang ojek: “Sebenarnya yang merebut pendapatan itu buka abang Gojek, tapi kalian lah yang telah merebut pendapatan abang Gojek dan memaksa penumpang membayar uang kepada kalian. Pikirkan kembali siapa siapa yang mendzolimi siapa”

*ditulis di stasiun Gubeng dinajutkan di kereta Jayabaya menuju Jakarta

Jangan Terburu-buru Menyimpulkan

Sumber: mauliadesign.wordpress.com

Salah satu stasiun televisi di Indonesia dengan konsistennya menayangakan sinetron-sinetron dari negeri tetangga, sebut saja A*TV. Mulai dari sinetron Turki sampai India. Sebelumnya aku tak begitu tertarik untuk mengikuti ceritanya. Namun karena ada teman kost yang suka nonton, aku menjadi penasaran akan ceritanya. Lalu… jadilah aku sekarang justru menjadi penonton setia setiap malam. Huft…

Sinetron yang aku ikuti adalah sinetron india berjudul Mohabbatein. Eitss… jangan salah, sinetron ini tidak diperankan oleh Syahrukh Khan ya. Karena ini sinetron, semua pemainnya berbeda dengan Movienya. Aku tertarik mengikuti sinetron ini karena ceritanya tak biasa (tak mudah ditebak) dan banyak pelajaran yang bisa dipetik dari setiap konfliknya (hallah… bisaan aja kalo udah suka mah ya… hahaha).

Mohabbatein ini menceritakan tentang kisah keluarga (khas banget dengan budaya orang timur). Keluarga tersebut terdiri dari pasangan suami istri, yakni Raman dan Ishita. Raman merupakan seorang duda beranak dua yang ditinggalkan oleh mantan istrinya yang selingkuh dengan bos Raman. Sedangkan Ishita adalah seorang dokter gigi yang ditinggalkan oleh calon suaminya karena Ishita tak dapat memiliki anak disebabkan kelainan genetik yang ia miliki. Mereka berdua yang sama-sama pernah gagal dalam kisah cinta akhirnya dipertemukan dalam mahligai rumah tangga dengan perantara Ruhi, anak perempuan Raman yang begitu dicintai oleh Ishita.

Seiring berjalannya waktu, setelah 1.5 tahun berlalu Raman dan Ishita mulai mengakui jika mereka saling mencintai satu sama lain. Berbagai masalah telah mereka lalui bersama. Mereka memang pasangan yang sering sekali berdebat, namun kesamaan antara keduanya adalah mereka sama-sama mengedepankan kepentingan keluarga.

Konflik tadi malam begitu dalam aku rasakan. Mungkin ini terasa cukup berlebihan, tapi itulah adanya. Raman sebagai anak tertua di keluarga berperan menjadi tulang punggung keluarga, karena ayahnya telah pensiun. Raman jatuh bangun membangun bisnis hingga ia mampu mendirikan perusahaannya sendiri. Dia memiliki orang yang sangat ia percaya bernama Mihir dan kemudian menjadi adik iparnya karena menikah dengan adiknya yang bernama Rinki.

Karena suatu peristiwa, Raman memutuskan untuk mengalihkan hak kuasa kepemilikan perusahaannya kepada istrinya, Ishita. Hal ini membuat Rinki marah karena menurutnya Mihir lebih pantas. Padahal Mihir sendiri tak pernah mengharapkan semua itu karena baginya Raman adalah orang yang sangat ia hormati. Ishitapun juga tak pernah berharap mendapatkan hak kuasa perusahaan karena baginya keluarga lebih penting.

Sifat Rinki yang tak dewasa membuatnya mengeluarkan kata-kata kasar pada Ishita. Semua orang heran dan menasehatinya, termasuk Mihir. Namun Rinki tak menggubris semua itu. Ishita yang dewasa tak emosi menanggapi Rinki. Lalu datanglah Raman, ia tak terima melihat Ishita dikasari oleh adiknya sendiri. Saat Raman menyuruh Rinki untuk menjaga kata-katanya, Rinki menjawab “aku bebas mengatakan apapun disini karena ini rumahku“. Saking emosinya, Raman langsung menimpali perkataan Rinki dan berkata “Aku yang bekerja keras untuk menghidupi rumah ini, jadi kalau kau tetap tidak mau menjaga omonganmu, pergi sana!“. Sayangnya, saat Raman mengeluarkan kalimat seperti itu, ayah Raman datang dan hanya mendengar kalimat Raman tanpa tau penyebab perdebatan Raman dan Rinki.

Ayah Raman merasa sangat tersinggung dengan perkataan Raman, dia membela Rinki dan memarahi Raman. Ayah Raman terlihat begitu tak bijak disini, ia tak memberi kesempatan kepada Raman untuk menjelaskan penyebab permasalahan antara ia dan Rinki. Ishita mencoba melerai dengan membawa Raman ke kamarnya.

Padahal, dibalik semua tindakan Raman, ia punya pertimbangan yang sangat matang. Raman sengaja mewariskan perusahaannya kepada Ishita karena ia memikirkan kehidupan orang tuanya. Raman yakin bahwa Ishita akan tetap dengan baik merawat kedua orang tua Raman seandainya Raman tak ada. Di sisi lain, Raman tengah mempersiapkan untuk mendirikan perusahaan bagi Mihir agar ia tak selalu dinilai sebagai bawahan Raman, namun sebagai mitra bisnis. Raman juga memberikan beberapa persen sahan perusahaan untuk Mihir karena ia paham, saat ini Mihir telah menikah dan tanggung jawabnya bertambah.

Namun… semua upaya dan rencana baik Raman tak dihargai karena saudara dan orang tuanya terlalu terburu-buru. Mereka terburu-buru untuk menyimpulkan apa yang merka lihat. Mereka terburu-buru untuk menikmati hasil yang bahkan sebenarnya sedang dipersiapkan oleh Raman. Mereka terburu-buru mengikuti hawa nafsu yang sebenarnya justru menjerumuskan mereka. Mereka telah tertipu dunia dan tak sadar bahwa mereka telah menghancurkan keluarga mereka sendiri. Raman sebagai anak tertua tak lagi dihargai oleh adik-adiknya. Ishita sebagai istri Raman dipandang sebagai orang yang telah mengubah Raman untuk melupakan saudaranya. Padahal seandainya mereka mengetahui, bahwa Raman justru menjadi lebih bijak dengan adanya Ishita. Ishita lah yang banyak memberikan saran kepada Raman agar ia selalu menjaga adik-adiknya dan keluarganya. Tapi… semua dinilai sebaliknya.

Setelah menonton sinetron india ini, aku hanya bisa bergumam dalam hati “Semoga mereka yang di sana juga menonton sinetron ini dan terbuka hatinya. Meskipun sayang… sudah terlambat”.  T.T

By pradilamaulia Posted in Belajar

Bangga Menjadi Melankolis

Dulu… tak tau karena pengaruh lingkungan atau lainnya, aku selalu merasa malu ketika orang-orang mengatakan aku adalah seorang yang melankolis (mellow). Tapi… sepertinya tak hanya aku yang merasa seperti itu. Kebanyakan teman-temanku, terutama yang laki-laki akan sangat terganggu ketika mereka disebut mellow. Bahkan ketika ada kesempatan nonton film bersama teman-teman, apabila ada cuplikan adegan yang menyedihkan dan salah satu dari kami larut dan ikut merasa sedih, maka yang lain akan mengatakan “iih…mellow…iiih…” lalu… orang yang disebut mellow akan segera mengubah ekspresi mukanya menjadi sok tegar dan mengatakan “nggak ah… biasa aja… aku ngga mellow ya…” (hayo siapa yang pernah seperti itu? Hahaha).

Sekarang istilah mellow berubah menjadi Baper (Bawa Perasaan). Orang yang baper biasanya akan menjadi bahan bully-an teman-teman yang lain. Penyangkalanku terhadap sifat mellow atau baper ini tetap aku pertahankan bahkan sampai aku lulus kuliah –hehe-. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang rekan kerja yang ‘asik’, serius… dia asik banget. Temanku yang satu ini asik banget untuk diajak diskusi, jalan-jalan dan foto-foto (hehe karena ia seorang fotografer). Aku belajar banyak hal dari bapak satu anak ini.

Aku melihat sifat unik darinya yang sebelumnya jarang aku temukan pada teman-temanku yang lain (terutama laki-laki). Dia akan dengan mudahnya meneteskan air mata ketika melihat atau membaca sesuatu yang menyentuh terutama tentang anak-anak. Beberapa kali dia mengkritik orang yang memposting gambar-gambar tentang penyiksaan anak-anak. Pernah pula suatu ketika aku menyodorkan sebuah bacaan tentang perjuangan anak-anak SMART Ekselensia Indonesia sebelum mengenyam pendidikan di sini. Dia terlihat membaca dengan sangat khusyuk, lalu ketika aku Tanya “gimana ceritanya mas?” dia melihatku dengan mata yang penuh linangan air mata. Hati temanku ini sangat mudah tersentuh.

Beberapa kali dia selalu mengulang-ulang bahwa dirinya adalah orang yang memiliki sifat melankolis. “aku ini mellow banget mba… ” ucapnya suatu ketika. Wow… orang ini benar-benar tak biasa bagiku, karena biasanya laki-laki akan sangat enggan dibilang mellow. Tapi perlu digaris bawahi, meskipun ia memiliki sifat mellow, bukan berarti dia lenjeh atau kemayu, tidak sama sekali. Jika pertama kali bertemu dengannya, ia terlihat lumayan sangar dengan gaya kocaknya ala anak komika -wkwkwk-. Oya, usut punya usut, ternyata ketika kuliah, dia adalah seorang ketua BEM –ga mungkin kemayu lah ya-.

Satu hal penting lagi yang aku pelajari setelah bertemu dengannya adalah… sekarang aku menjadi bangga menjadi seorang yang melankolis… aku mellow dan aku tak malu dengan ini. Baru aku sadari bahwa menjadi seorang yang mellow patut dibanggakan, sebab orang-orang seperti kami adalah orang-orang yang memiliki hati yang lembut karena kami akan dengan mudah tersentuh dengan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan, kasih sayang dan cinta. Lalu…untuk apa malu? Ini adalah anugerah yang begitu istimewa dari Allah subhanahu wata’ala yang tak semua orang memilikinya. Yaa…Aku bangga menjadi seorang melankolis.

melankolis1

*ditulis mengawali pagi yang ceria di kantor 😀