Terbuka atau Tersisih

Hidup di Jawa Timur ternyata tak sefleksibel di Jawa Barat. Setelah sekian lama merantau di Jawa Barat, aku baru menyadari bahwa kemajuan teknologi sangat diterima di sini, berbeda dengan di Jawa Timur. Loh kok? Serius… ini hanya berdasarkan pengalaman pribadiku saja sebenarnya (tidak mengeneralisasi), semoga bisa jadi pelajaran bagi teman-teman sekalian (ce’ileeh).

Seperti biasanya, ketika akan balik ke Bogor, aku naik bus Patas dari Pamekasan-Madura menuju Surabaya. Karena jalur bus tidak melewati stasiun, maka aku memilih turun di jalan Kedinding, Surabaya setelah jembatan Suramadu. Nah… dari tempat ini ke stasiun, biasanya aku dijemput kakakku atau naik taksi (jika ada teman, agar hemat). Sejak adanya Gojek, aku memilih untuk naik gojek karena lebih murah dan lebih aman. Namun…

Siang tadi terjadi hal yang tak mengenakkan ketika aku order Gojek. Saat abang Gojeknya datang dengan atribut lengkap (jaket gojek, helm gojek dan smua terlihat baru), kami berdua dicegat oleh gerombolan abang-abang pangkalan ojek 😱. Mereka memaksa abang Gojek yang aku pesan untuk menurunkan penumpang (yakni aku). Hadeeeh… sebbelnya minta ampun.

Awalnya aku biarkan saja abang Gojek berdebat dengan abang-abang pangkalan ojek. Aku diam saja di atas motor dengan muka datar. Abang Gojek minta maaf karena dia masih baru dan tidak tahu jika ada peraturan seperti itu. Di sisi lain, abang-abang pangkalan ojek tetap kekeuh ingin merebut penumpang (haduuh… aku diperebutkan #plak).

 Abang-abang pangkalan ojek beralasan kalau mereka sudah mangkal sejak jam 5 pagi tapi belum mendapat penumpang. “Lah masa… mas baru datang lalu tinggal ngambil penumpang… jangan gitu lah… ini kan berarti mengambil lahan kami untuk mencari nafkah” kata mereka.

Sikap cuekku tak bertahan lama rupanya, ditambah lagi jam sudah menunjukkan jam 12.00 WIB, masa ia… aku ketinggalan kereta karena ngeladenin perdebatan abang-abang ini *huft. Tak tahan lagi dengan ulah mereka, akhirnya aku turun. “Pak… jadinya gimana solusinya?” Tanyaku pada gerombolan bapak-bapak ini. “Ya mba harus batalin Gojeknya lalu naik ojek disini”kata salah satu abang ojek.

 “Berapa dari sini ke stasiun gubeng?”

“20.000”

Dengan spontannya aku langsung bilang “mahal banget pak” soalnya kalo gojek cuma 8.000 hehe

“Ya emang biasanya segitu mba”

Yah… mau gimana lagi “yaudah deh… pak tolong di cancel ya pak… saya minta maaf karena order disini” ucapku pada abang Gojek

“Ia gapapa mba… kan sama-sama ga tau ini sebenarnya” kata abang Gojek dengan muka memelas.

Akupun naik ojek pangkalan. Selama di perjalanan, aku hanya diam. Malas sekali rasanya mengajak ngobrol abang ojek ini. Pikiranku justru berputar-putar memikirkan kalimat pamungkas yang aku sampaikan kepada abang ojek ini jika nanti aku turun di stasiun. Aku membayangkan jika seandainya nanti abang ojek ini meminta maaf atas kejadian tadi, aku ingi bilang

“yang bapak lakuakan tadi itu jahat” ga jadi ah… jadi kayak Cinta dan Rangga.

Kalimat lain yang aku pikirkan “kalau bapak seperti itu terus… rezeki bapak tidak akan barokah” ga jadi, karena aku takut malah memicu pertengkaran.

Kalimat lainnya “seharusnya bapak tidak seperti itu, jika bapak ingin bersaing, bersainglah secara sehat dengan berinovasi” hallah… ini terdengar terlalu akademis.

“Hmm… apa aku sinisin aja bapaknya ya” gumamku dalam hati.

Sibuk memikirkan berbagai kalimat yang akan aku ucapkan, tak terasa kami telah sampai di depan stasiun Gubeng. Aku turun dari ojek, ngasih helm, lalu bayar 20.000 dan bapak nya pergi, udah gitu aja. Hapaaah??? Percuma saja aku memikirkan berbagai kalimat pamungkas tadi, tak berguna. Setidaknya aku harap si bapak sadar bahwa aku tak suka dengan tingkahnya, setidaknya dia sadar ketika aku hanya diam membisu di jalan tadi.

Sesampainya di stasiun… pikiranku mulai berpikir liar. Apa jangan-jangan kejadian tadi hanya settingan ya??? Apa mungkin abang Gojek itu bekerjasama dengan abang-abang ojek , sehingga akibat perbuatan mereka, aku rugi dua kali. Pertama aku membayar uang Gojek sebesar 8.000 (otomatis kepotong karena aku bayar pakai Gopay), kemudian aku juga harus membayar ojek 20.000. Aku berpikir seperti itu bukan tanpa alasan, sebab ini terasa aneh saja. Dulu aku juga pernah pesan Gojek dan abang Gojeknya tak memakai atribut lengkap karena dia tau disana rawan dipalak ojek pangkalan. Tapi, abang yang satu ini pakai semua atribut Gojek lengkap dan terlihat sangat ngejrenggg.

Selain itu, perdebatab antara abang Gojek dan abang ojek tadi terlihat sangat kalem, maksudnya mereka berdebat namun terasa begitu penuh sopan santun, saling minta maaf lah… apa lah… ya gitu lah…

No…no… jika memang itu settingan, maka aku doakan semoga uang yang mereka dapat tidak barokah. Tapi jika memang abang Gojek tak terlibat, doa tadi hanya untuk abang ojek *efek emosi.
Setiap peristiwa selalu ada hikmahnya, begitu pula kejadian ini.  Peristiwa ini mengajariku bahwa mau tak mau… siap atau tak siap… kemajuan teknologi dan inovasi pasti akan terjadi. Semua bergantung kita, akan berpikiran terbuka dan berusaha belajar atau kekeuh dengan pengetahuan lama dan kemudian akan tersisih. Sama seperti abang ojek yang menggunakan peraturan sendiri dan terkesan ‘memaksa’ atas ketidak terbukaan mereka terhadap kemajuan teknologi. Silahkan pertahankan cara tersebut, karena sejatinya mereka tak akan bertahan lama dan kemudian juga akan tersisih.

Pelajaran lainnya adalah… tak selamanya hidup itu lancar-lancar saja, seperti yang aku alamai tadi, tak selamanya pesan Gojek itu mudah dan lancar, ada kalanya tiba-tiba dicegat abang-abang ojek, lalu dipaksa naik ojek pangkalan dengan tarif lebih mahal. Terima kasih ya Allah atas pengalam ini, setidaknya aku mendapat pengalaman berharga yang kemudian dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain agar taka mengalami hal yang sama di tempat yang sama  -hehe- 😁

Pesan untuk abang ojek: “Sebenarnya yang merebut pendapatan itu buka abang Gojek, tapi kalian lah yang telah merebut pendapatan abang Gojek dan memaksa penumpang membayar uang kepada kalian. Pikirkan kembali siapa siapa yang mendzolimi siapa”

*ditulis di stasiun Gubeng dinajutkan di kereta Jayabaya menuju Jakarta

Advertisements

10 comments on “Terbuka atau Tersisih

  1. Hihihi saya suka pada bagian imajinasi untuk memberikan ‘petuah’.

    Anyway, perilaku semena-mena macam itulah yang membuat ojeg pangkalan mulai ditinggalkan.

    Ojeg pangkalan di sekitaran tempat tinggal saya sudah mulai beralih ke ojeg online (gojeg, grab, uber).

    Lucunya mulai tumbuh pangkalan gojeg dan grab. Jadi semacam siklus memutar. Pengkalan – ojeg online – mangakal lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s