Wanita-Wanita di Sekelilingku

wanita

sumber: http://mauliadesign.wordpress.com

Saat pulang untuk liburan kemarin, aku menyempatkan diri untuk menjenguk Omku yang sedang sakit. Beliau adalah kakak pertama ibuku. Percaya atau tidak, beliau adalah salah satu paman yang paling ditakuti oleh aku dan beberapa sepupuku ketika kami masih kecil. Bagaimana tidak, penampilan beliau tinggi besar, kumis tebal, dan suara tegas dan keras khas bapak-bapak polisi karena beliau memang berprofesi sebagai seorang polisi. Satu hal lagi yang membuat aku dan anak kecil lainnya takut berada dekat dengan beliau karena beliau suka memakai kapas yang telah dilumuri minyak angin cap kap*k kemudian dimasukkan ke lubang hidung -hiii…

Aku dan kakak pertamaku diutus oleh ibu karena ibuku sedang berhalangan untuk menjenguk beliau (ibuku rutin sekali menemui kakak pertamanya, bahkan untuk sekedar menemani mengobrol atau memijitnya). Aku dan kakakku memasuki rumahnya yang sepi, susasana rumah agak gelap karena saat itu sedang mati lampu. kemudian kami memasuki kamar tempat Omku biasa beristirahat. Betapa kagetnya aku, astaghfirullahal ‘adzim… aku hampir saja tak mengenali sosok yang sedang terbarig lemah di depanku.

Omku sudah tak berpenampilan seperti dulu lagi. badannya dulu yang tegap dan tinggi besar telah menjadi sangat kurus nampak tulang. kumisnya yang dulu hitam lebat dan terlihat menyeramkan telah menjadi memutih dan tipis, begitu pula rambutnya yang telah dipenuhi uban. “ya Allah… sesungguhnya fisik yang kadang dibanggakan oleh manusia pada akhirnya akan rusak termakan usia” gumamku dalam hati. Kata ibuku, Omku terserang penyakit diabetes yang membuatnya tak mampu berjalan, hanya berbaring di atas kasur saja. Aku perhatikan perawakan Omku saat ini sudah sangat mirip dengan perawakan kakekku dulu (orangtua dari Om dan Ibuku).

Setelah mencium tangan Omku, kami duduk di samping beliau. Kemudian Omku menceritakan banyak hal. mulai sari kondisi saat ini sampai mengenang masa lalu. sepertinya beliau hanya butuh ditemani saja, sebab ketika kami datang beliau terlihat ceria dan sangat bersemangat ketika bercerita. satu hal yang tak berubah, yakni suara beliau, hanya itulah yang kemudian meyakinkanku bahwa beliau adalah Omku yang dulu.

Cukup lama kami menemani beliau, mungkin sekitar 2-3 jam. Dari sekian banyak cerita yang beliau ceritakan pada kami, ada satu hal yang menarik perhatianku. yakni beliau bercerita tentang kesabaran dan ketabahan istrinya dalam merawat beliau.

Om ini harus banyak bersyukur punya istri yang sabar seperti tante kamu. Tante kamu harus merawat Om dan harus mengerjakan semuanya sendiri. Sebenarnya sakit Om ini malu-maluin… masa yang mengerjakan semuanya malah tante kamu, bukan Om sebagai kepala keluarga” curhatnya pada kami.

Aku dan kakakku hanya bisa menanggapi seperlunya seperti “ia Om…” atau “yang sabar Om” sebab kami paham bahwa beliau hanya ingin didengarkan saja, maka kami memposisikan sebagai pendengar yang baik.

Setelah mendengar semua cerita dari Omku, tak lama kemudian tanteku datang menggunakan motor. Beliau baru saja datang membeli pakan ayam di pasar. Ia membawa pakan ayam seberat setengah kwintal sendirian dari pasar dalam cuaca yang cukup terik saat itu. Lebih sedihnya lagi, ternyata tanteku bercerita bahwa beliau terjatuh di jalan karena melewati jalan berlubang. Tanteku terburu-buru karena ia ingin saegera sampai di rumah karena mengkhawatirkan Omku akan menunggu makanan yang dipesannya terlalu lama. –MasyaAllah…

Aku dan kakakku kemudian berpamitan pulang pada Om dan Tante kami karena kami harus pergi membeli sesuatu. Saat berpamitan, Omku sempat berpesan pada kami:

ya hati-hati di jalan… semoga kalian menjadi istri yang berbakti pada suami seperti tante kalian

Amiiin… terima kasih Om atas doa baiknya. Selama di perjalanan, aku banyak memikirkan pernyataan dari Omku tentang istrinya. Setelah aku pikirkan lebih jauh, ternyata aku banyak dikelilingi oleh wanita-wanita sabar, dan penuh ketaatan kepada suami mereka.

Siapa saja mereka? aku ambil contoh mulai dari nenekku. Beliau adalah wanita yang sangat berbakti dan setia kepada suaminya (read: kakekku). Bayangkan saja, kakekku terserang penyakit stroke yang menyebabkan beliau lumpuh total. Mulai dari tak bisa bergerak (hanya tidur di atas kasur) dan tidak dapat berbicara. Banyak yang heran kenapa kakekku terserang penyakit ini, sebab beliau adalah orang yang rajin bekerja dan aktif bergerak, namun itulah takdir kakekku, semoga sakit yang Allah beri dapat meluruhkan dosa-dosa beliau.

Kakekku mengalami kelumpuhan selama kurang lebih 3-4 tahun. Berbagai metode oengobatan telah dilakukan, namun tak ada yang berhasil. Selama menderita sakit tersebut, nenekku menjadi perawat yang begitu telaten pada kakekku. mulai dari memandikan, kemudian membopong kakekku untuk duduk di depan rumah agar mendapat sinar matahari menyuapi, bahkan membuang kotoran saat kakekku sedang buang hajat. Jika diibaratkan, nenekku seperti merawat bayi, namun bayi besar. Nenekku begitu sabar merawat kakekku hingga ajal menjemput kakekku. Banyak sekali orang-orang yang memuji kesabaran dan ketabahan nenekku dalam merawat kakekku, bahkan mereka menyampaikan kekaguman mereka pada nenekku kepadaku.

Kemudian Ibuku, beliau juga merupakan seorang wanita yang kuat dan sabar. Bagiku, ibuku adalah sosok wanita yang cerdas. Bahkan meskipun ia tak berpendidikan tinggi, kecerdasannya melebihi orang lain yang pendidikannya lebih tinggi dari beliau. Ibuku adalah wanita yang sangat berbakti pada suami (read: bapakku). Bagaimana tidak, ia tak pernah mengeluh ketika harus bekerja sendiri membiayai kehidupan keluarga ketika usaha bapakku mengalami kebangkrutan. Ibuku tak pernah menuntut apapun, ketika aku bertanya kenapa ibuku tak pernah menuntut pada bapak, ibuku berkata:

Nak,,, bahkan bapakmu sekarang belum bekerjapun sudah membuat ia malu akan keadaaannya, lalu apakah ibu tega menambah rasa malu bapakmu dengan menuntut banyak padanya? bapakmu dulu tak pernah seperti ini, hanya kondisi sekaranglah yang membuatnya terpaksa menganggur karena usahanya bangkrut”

Ibuku dengan begitu setia merawat bapakku dan menahan kantuknya di Rumah Sakit ketika bapakku harus bolak balik masuk Rumah Sakit. Ibuku yang denga setia menyuapi makan bapakku, memandikannya di ruang ICU, ibuku yang tetap dengan sabar merawat bapakku meskipun emosi sedang tidak stabil di ruang ICU, ibuku yang bahkan tak meneteskan air mata sedikitpun saat bapakku meninggal. Duh ibu… bisakah aku sekuat dan setegar dirimu, bahkan ketika aku menuliskan ini semua, air mataku tetap saja tak terbendung.

Saat mengetahui bahwa bapakku sudah tutup usia, perasaanku tak dapat didefinisikan. semacam ada rasa tak percaya dan ada ruang di hati dan pikiran yang rasanya tiba-tiba menjadi kosong. Selama di perjalanan pulang, aku tak dapat berhenti menangis bukan karena memikirkan bapakku. Tapi aku berpikir tentang ibuku, aku tak dapat membayangkan bagaimana nanti aku melihat wajahnya. Apakah nanti ibuku akan begitu berduka? menangis? terpukul? aku tak dapat membayangkan semua itu. Tapi… masyaAllah… ketika aku tiba di rumah, bukan tangisan yang aku dapatkan tapi muka tabah dan tegar itu yang menyambutku. Percayalah kawan, ibuku tak sedikitpun menangis. Ekspresi tegar ibukulah yang membuat kami semua kuat dan tabah.

“InsyaAllah bapakmu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT” ucap ibuku.

Terima kasih…terima kasih ya Allah telah menghidupkan aku diantara wanita-wanita penyayang, sabar, tabah, kuat, tegar dan taat pada suami seperti mereka. Jadikanlah aku dan saudara-saudaraku dapat meneladani sikap baik mereka agar kami nantinya juga dapat menjadi teladan bagi anak-anak kami. amiiin…

*ditulis di kantor saat menjelang akhir tahun 2016 -kantor sepi bangeeet-

Advertisements

9 comments on “Wanita-Wanita di Sekelilingku

  1. Wah bener banget tuh. Wanita harusnya seperti gambaran fi atas. Jangan terlalu banyak nuntut suami karena sesungguhnya lelaki itu pasti berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan istri dan anak2nya. Cuma ya kadang keinginan lelaki itu tidak bisa terealisasi karena keadaan semacam kebangkrutan atau sakit2 an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s