Tak Hanya Sekedar Simbol

Sore itu kami (temanku dan aku) memutuskan untuk mengahdiri sebuah acara knowledge sharing di perpustakaan kantor, yakni Pusat Sumber Belajar (PSB). Awalnya aku tak terlalu antusias karena aku belum pernah tau track record dari pembicara yang diundang. Ketika tiba di tempat acara aku melihat seorang perempuan kecil duduk diantara para penonton. Ternyata beliaulah pembicara acara knowledge sharing hari itu.

Namanya kak Rina, awalnya aku kira sharing yang akan ia sampaikan akan monoton dan tidak menarik.  Ketika memulai membuka acara tersebut, terlihat tak ada yang istimewa. Suaranya tak terlalu keras dan cara bicaranya biasa saja. Namun, suasana menjadi berbalik 180 derajat ketika ia mulai mencaritakan perjalanan hidupnya ke beberapa negera  dalam beberapa slide sederhana yang ia buat.

Kak Rina telah banyak berpetualang beberapa negara di dunia, bahkan ia juga pernah berkunjung ke negara yang sedang terlibat konflik. Dia menuliskan satu persatu negara yang ia kunjungi dan selalu ada cerita menarik dari setiap negara yang ia jelaskan. Dari sekian banyak pengalaman dan cerita menarik dari berbagai negara, aku begitu tertarik dengan ceritanya tentang negara konflik yang ia kunjungi, yakni Pakistan.

Ada apa dengan Pakistan? Awalnya kak Rina bercerita bahwa Pakistan adalah negara yang sangat cantik pemandangan alamnya. Namun ada satu hal yang kurang baik dari negara ini yang semoga menjadi pelajaran dan tak terjadi di Indonesia. Seperti kita ketahui bahwa Pakistan adalah negara muslim. Pada suatu ketika, kak Rina akan melaksanakan shalat karena telah memasuki waktu shalat. Ia kemudian bertanya kepada temannya untuk menunjukkan tempat shalat. Namun salah satu dari temannya yang juga muslim bertanya:

“where are you going Rina?”

“I am going to pray” jawab kak Rina

“again?” tanya temannya lagi

“again? What do you mean? We pray five times a day” kak Rina menjawab dengan penuh keheranan.

Berdasarkan peristiwa tersebut, kak Rina kemudian merenung. Ya.. mungkin hal inilah yang menyebabkan negara ini (Pakistan) porak-poranda dan penuh konflik. Sebab agama seolah hanya dijadikan simbol. Sedangkan shalat yang merupakan tiang agama tak mereka tunaikan. Sedangkan di sisi lain, mereka (orang-orang Pakistan) akan sangat marah ketika ada fenomena yang menurut mereka seolah menghina agama Islam, padahal sebenarnya tidak. Misalnya, bagi mereka banyaknya makanan cepat saji sepeti K*C atau M*D merupakan bentuk penghinaan terhadap islam. Kemudian mereka akan sangat marah berapi-api dengan fenomena seperti itu. Salah satu temanku kemudian menyebutnya “sumbu pendek”, yakni mereka yang mudah tersulut.

Cerita ini sebenarnya bukan bertujuan untuk menilai negatif orang-orang Pakistan, tidak sama sekali. Sebab aku sangat yakin, tak semua orang Pakistan seperti orang yang ditemui oleh kak Rina. Namun, pesan baik yang dapat diambil dari kisah ini adalah pentingnya kita sebagai ummat muslim menjadikan agama tak hanya sebagai simbol, namun menjadikannya sebagai pedoman hidup dalam sendi-sendi kehidupan.  Semoga kisah kak Rina dari negara lain tersebut dapat kita ambil hikmahnya dan dapat memotivasi kita untuk lebih baik lagi ke depannya :).

Advertisements