Tak Ada yang 100%

Suatu ketika, keponakanku ditegur oleh ibunya. Persoalannya adalah tentang penampilan. Ada apa dengan penampilannya? Tak ada masalah besar si, hanya saja dia sudah terlihat terlalu gemuk. Fyi, keponakanku ini laki-laki, ketika masih duduk di bangku SMP badannya ideal karena dia sering bermain futsal. Namun, ketika memasuki bangku SMA, dia tak bergabung lagi dengan tim futsalnya. Porsi makannya masyaAllah buanyaaak banget, nasinya menggunung ditambah lauk makin menggunung. Sebenarnya porsi makannya memang dari dulu seperti itu, namun karena tidak diimbangi olahraga, jadilah ia membengkak (tinggi besar hahaha).

Tak hanya ibunya yang ngomel, ibuku, saudara-saudaraku serta akupun juga sering mengomentari agar dia olahraga. Sebab terlalu gemuk juga berbahaya untuk kesehatan.

“Viant… kamu tuh jadi ga kelihatan gantengnya kalo terlalu gemuk gitu” komen ibunya suatu ketika

Keponakanku dengan santainya langsung menjawab 

“Ga ada manusia yang sempurna bu”

Hahahaa…. aku tertawa dalam hati mendengar jawaban kocak keponakanku. Mendengar jawaban tersebut, ibunya langsung terdiam. Jawaban keponakanku memang benar, namun penggunaannya yang keliru. 

Berbicara tentang “tak ada manusia yang sempurna” aku jadi teringat nasehat ibu dan juga beberapa tanteku tentang kriteria pendamping hidup (duh,,, maap yak,,, tiba-tiba nyambungnya kesini hehe).

“Nak… kalo misal ada laki-laki baik yang datang, jika misal nilai untuknya 50-75% lebih baik diterima ya, karena tidak akan ada yang 100%” kata tanteku suatu ketika

Mendengar nasehat itu, aku hanya manggut-manggut agak loading karena dulu belum terlalu paham. Aku mulai paham ketika ibuku pernah memberikan nasehat seperti ini.

“Kalau kamu mencari yang sama persis seperti kriteria kamu, ya akan sulit,,, sebab tidak ada manusia yang benar-sempurna. Pasti ada saja kekurangannya”

Setelah direnungkan kembali, ternyata memang benar nasehat-nasehat tersebut. Jangankan orang lain, terkadang kita sendiri merasa tidak puas dengan diri kita sendiri. Misal, kita pernah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya hal tersebut tidak kita sukai. Sehingga ketika telah selesai mengucapkan atau melakukan hal tersebut baru sadar “lho,,, kok aku bilang kayak gitu tadi ya,,,” kemudian timbul rasa sesal.

Benar ya, memang tak ada yang benar-benar ada yang 100% sesuai dengan ekspektasi kita. Pasti ada saja kekurangannya, sebab sejatinya kekurangan itulah yang nantinya akan membuat kita belajar untuk saling bersabar dalam menerima kekurangan masing-masing. 😀

*ditulis di ruang kantor yang telah sepi (udah pada pulang)

By pradilamaulia Posted in Belajar