Tunjukkan Agar Mereka Menghormati

Pernah tidak kalian agak enggan atau bahkan malu dianggap alim? Jujur, aku pernah. Ada suatu masa dimana aku selalu membantah dan menolak jika teman-teman menilaiku alim. Padahal kan apa masalahnya coba? Dianggap alim bukannya justru positif ya?

Dulu, aku beranggapan bahwa penilaian alim dari orang lain dapat membatasiku. Aku khawatir nantinya ketika aku melakukan hal yang kurang baik, maka mereka akan berkata “lho kok yang katanya alim malan begitu?” Aku khawatir mereka akan kecewa. Di sisi lain anggapan alim aku pikir dapat menimbulkan riya’ dalam diriku.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, aku sadar bahwa label yang orang berikan tak lepas dari apa yang kita tunjukkan dalan keseharian kita. Mulai dari penampilan, tutur kata dan juga tingkah laku. Konsistensi tindak tanduk kita dalam keseharian akan sangat mempengaruhi respon orang lain kepada kita. Respon ini dapat berupa respect atau disrespect. Jika kita konsisten terhadap prinsip yang kita pegang, orang lain akan respect dan bahkan akan mengikuti aturan main kita yang mungkin di awal berbeda dengan kebiasaan mereka.

Sederhananya akan aku ceritakan seperti apa yang aku alami di rumah (semoga dapat diambil hikmahnya yaa). Aku adalah anak ketiga dari 4 bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Kakak keduaku adalah anak yang ditunjuk ibu untuk tinggal di rumah bersama ibu karena ketiga anak lainnya merantau. Ketika kakakku menikah, dia dan suaminya tinggal di rumah ibuku. Dalam aturan islam, kakak ipar tetap dihitung sebagai orang asing, jadi aku harus tetap menutup auratku ketika ia berada di rumah.

Ketika aku sedang pulang ke rumah, sepanjang hari (baik siang maupun malam) aku akan selalu memakai kerudung jika ada kakak ipar di rumah. Awal-awal bersikap seperti ini tentu tak nyaman. Bayangkan saja, rumah yang seharusnya menjadi tempat bebas berekspresi dan bebas berpenampilan menjadi agak terkekang karena ada orang baru. Tapi aturan tetap aturan, jadi tetap harus dan kudu dilaksanakan.

Ketidaknyamanan bukan hanya dari dalam diri, namun juga dari anggota keluarga yang lain. Mulai dari ibuku sampai kakakku semuanya mengomentari, komentar mereka misalnya “kamu ga gerah pake kerudung terus?” Atau “Buka aja sih kerudungnya, sama keluarga ini kok”. Komentar mereka aku jawab kadang hanya dengan penjelasan singkat atau senyum saja. Aku berusaha untuk tetap konsisten dengan sikap ini. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Kondisi menjadi berbalik. Mereka yang awalnya menyuruhku tak usah memakai kerudung di rumah menjadi yang paling mengingatkan. Aku biasanya tidak memakai kerudung ketika kakak iparku tidak di rumah. Ibuku, kakakku bahkan keponakanku yang masih di bawah umur saat itu akan langsung mengingatkanku untuk segera memakai kerudung ketika mereka mendengar kakak iparku sudah pulang. “Mba… pake kerudungnya mas sudah datang”. MasyaAllah… aku terharu sekali terhadap sikap mereka. Ternyata benar, ketika kita menunjukkan pilihan sikap atau prinsip kita, maka orang lain akan melabel kita seperti itu dan mereka akan menghormati itu.

Jadi, jangan heran jika orang lain memberikan penilaian kepada kita berdasarkan apa yang sering mereka lihat pada diri kita. Jika ingin dinilai rapi, tunjukkan kalau kita rapi. Jika ingin dinilai rajin, tunjukkan kalau kita rajin. Pun jika ingin dinilai sebagai pribadi yang menjaga diri, tunjukkanlah sikap seperti itu, konsisten dengan sikap itu, maka orang lain akan menghormati terhadap pilihan sikap kita. 🙂

Advertisements
By pradilamaulia Posted in Belajar