Pentingnya Latar Belakang

lbSebagai seorang yang menyukai dunia desain grafis (bagi yang mau melihat karyaku bisa dibuka di mauliadesign.wordpress.com) aku menyadari betul pentingnya latar belakang atau background. Aku tak tau ini berlaku bagi orag lain atau tidak, ketika harus membuat sebuah desain seperti poster, maka mood dan semangat akan semakin tinggi ketika background untuk poster terasa keren. Seolah perkara pembuatan poster telah selesai 75% ketika background telah selesai. Buatlah background yang keren dan dan kece, maka hasil desainmu pun akan demikiaan. Apakah kalian (para desainer grafis) juga merasa demikian?

Perkara latar belakang ternyata tak hanya berlaku di bidang desain grafis loh… dalam kehidupan juga berlaku. Misalnya dalam menentukan masa depan, seperti yang aku alami ini. Akhirnya… setelah mengalami kegalauan dan proses berpikir yang panjang, aku memutuskan benar-benar memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Kenapa benar-benar? Apakah sebelumnya main-main? Tak berarti begitu juga si -hehe-. Setelah lulus dari S1, aku memang memutuskan untuk tak langsung melanjutkan ke S2, sebab aku ingin merasakan dunia kerja yang sebenarnya. Berbeda dengan adikku yang memang telah memiliki tekad  bulat dan kuat untuk melanjutkan ke S2. Maka setelah lulus, dia sambil lalu mencicil syarat-syarat untuk s2 dan mencari beasiswa, alhamdulillah… berkat doa dan usaha yang dia lakukan akhirnya dia mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan s2 ke salah satu perguruan tinggi negeri berlambang gajah.

Aku memilih tak langsung melanjutkan S2 karena aku tak ingin melanjutkan pendidikan karena ikut-ikutan orang lain. Alih-alih melanjutkan S2 sedang banyak digandrungi, lalu aku latah mengikuti trend tersebut, aku tak mau. Atau fenomena pelarian diri misalnya, aku melihat fenomena beberapa orang yang melanjutkan S2 karena alasan ‘daripada nganggur’ yaudah S2 aja. Tentu aku tak mau mengeneralisasi orang-orang yang sekolah S2, ini hanya oknum saja yang kebetulan aku temui.

Ketika memutuskan untuk S2, maka  aku harus tau latar belakang aku melakukan itu, lalu setelah S2 mau kemana. Jika begitu, lantas apa yang membuatku memutuskan melanjutkan S2? apa latar belakangnya?. hm… baiklah akan aku ceritakan. Saat ini aku berkarir di lembaga zakat bernama Dompet Dhuafa. Lembaga ini telah banyak memberikan manfaat kepada banyak penerima manfaatnya. Baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, penanggulangan bencana, dll. Berkarir di tempat ini memberikanku banyak sekali pengetahuan dan pengalaman. Namun setelah hampir berkarir dua tahun di lembaga ini, aku merasa pengetahuanku masih sangat terbatas, aku butuh peningkatan kapasitas.

Lalu kenapa tidak pindah kerja saja? jika pindah kerja, pengalaman memang bertamah, tapi kapasitas diri belum tentu bertambah. Sebab bisa jadi hal-hal atau pekerjaan yang dilakukan akan tak jauh berbeda dari sebelumnya. Salah satu pertimbangan kuat kenapa aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan adalah agar pola pikirku dapat semakin luas, dapat melihat permasalahan tak hanya dari satu sudut pandang. Melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dapat memberikanku kesempatan untuk bertemu, bersosialisasi dan belajar dengan orang-orang yang memiliki keilmuan dan pemikiran yang lebih kritis, lebih baik dan lebih berpengalaman. Nah, dengan belajar bersama mereka aku berharap pola pikirku akan semakin baik dan semakin luas dari sebelumnya.

Kalau hanya soal pola pikir, apa ia harus banget S2? ngga juga si, dalam kehidupan sosial lainnya juga bisa, namun dalam sekolah (termasuk S2) terdapat sistem yang fokus dalam hal yang ingin kita dalami secara khusus. Jadi, pola pendidikan sebenarnya menjadi sebuah media percepatan. Analogi lain misalnya, kenapa kita perlu sekolah TK, SD, dst…? sebab di sekolah ada sistem yang menghususkan kita untuk mempelajari hal-hal secara khusus. Di dunia luar mungkin dapat dipelajari juga, namun terlalu luas dan banyak error yang sebenarnya tak kita perlukan.

Latar belakan lainnya karena aku berniat untuk pulang ke kampung halamanku di Madura. Jika aku hanya mempunyai bekal pendidikan S1, aku merasa ilmuku belum ada apa-apanya, pun jaringan yang aku miliki masih sangat terbatas. Sedangkan untuk kembali dan membangun daerah, kemampuan bersosialisasi dan jaringan yang luas sangat diperlukan. Melalui ikhtiar S2 ini, aku harapkan nantinya ilmu yang aku dapatkan akan dapat aku aplikasikan, semakin meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan penyelesaian masalah, serta semakin memperluas jaringan untuk bekalku membangun daerahku. Itulah beberapa latar belakang yang menguatkan tekadku untuk melanjutkan pendidikan S2.

Setelah dipikir-pikir ulang… memang semua dilandasi latar belakang ya. misalnya, ketika membuat skripsi, maka latar belakang juga merupakan hal yang sangat penting. Ketika latar belakang selesai, maka 50% skripsi terasa telah selesai -hehe-. Bahkan ketika orang mau menikah misalnya, salah satu hal yang dianggap penting adalah latar belakang -ia kaan?-. wow… ternyata latar belakang memang penting banget ya 😀

*mohon doanya ya teman-teman… semoga aku dapat memperoleh beasiswa untuk melanjutkan S2 ke luar negeri (pengennya ke Malaysia) amiin…

Advertisements

Pilihan Wanita

wanitaPerbincangan saat jam makan siang saat itu begitu berbeda. Aku dan seniorku (senior di kampus dan di kantor) berbincang tentang prediksi seniorku tentang 2 temanku yang akhirnya benar-benar memutuskan untuk menikah. Beberapa waktu sebelumnya, seniorku ini memprediksi bahwa dua temanku ini pasti akan jadi menikah. Aku kurang setuju dan tak yakin dengan prediksi itu, sebab aku kenal dekat sekali dengan mereka. Benar-benar tak ada tanda-tanda bahwa mereka saling memiliki perasaan (hebat sekali interaksi mereka ini). Secara pribadi, aku sangat bahagia mereka memutuskan menikah tanpa dinodai interaksi yang dilarang sebelum menuju ke pernikahan.

mas, ternyata bener loh mereka akan menikah” aku memulai percakapan dengan nada berapi-api

yaa.., itu udah keliatan kali Dilll…” jawab seniorku dengan sangat santai

aku ga nyangka loh mas… mereka ga keliatan saling suka selama ini, kayak teman akrab aja” ucapku dengan bersemangat

kalo aku sih udah nyangka dari agak lama” kata seniorku

hmm… emangnya si X (si perempuan) suka ya sama si Y (si laki-laki)?” ucapku dengan pelan, tapi seniorku sepertinya mendengarnya

lah… emang perempuan menjadikan rasa suka sebagai pertimbangan ya? Bukannya yang datang melamar duluan dan baik, dia yang akan diterima. Kalau laki-laki mah memang menjadikan unsur suka sebagai salah satu pertimbangan” ucapnya

hmm….” aku sempat terdiam lalu berbisiksemoga aku bisa berjodoh dengan orang yang aku sukai. amiiin” aku berdoa sambil mengangkat tangan sejenak.

hahahahaha” seniorku terbahak-bahak melihat tingkah lakuku.

            Percakapan tadi memang sangat sederhana dan hanya sekilas saja. Namun, percakapan yang sebentar tersebut memenuhi pikiranku seharian penuh. Apa memang benar ya perempuan tidak punya pilihan? Mengapa terasa seperti tidak adil, mengapa laki-laki boleh memilih sedangkan perempuan harus menerima saja. Tidak, tidak seperti itu. Aku yakin Allah adalah dzat yang maha adil. Mungkin pemahamanku saja yang terbatas, sehingga kesimpulanku pun juga tak benar. Tapi, aku belum menemukan jawaban yang tepat untuk menyangkal kesimpulan yang salah itu, tentang kenapa wanita hanya menerima sedangkan laki-laki boleh memilih?.

            Hingga malam tiba, aku tak menemukan jawaban yang pas. Sampai akhirnya sekitar jam 7 malam,  teman kosanku yang naik ke ruang atas untuk nonton tv bersama kami. Tumben sekali mbak yang satu ini ikut nonton, biasanya beliau hanya di kamar saja. Tanpa kami duga-duga, ternyata beliau bermaksud untuk menceritakan rencana beliau yang akan menikah akhir bulan ini. “waaaahhh….” begitulah mungkin kata yang dapat mewakili keterkehutan semua penghuni kos.

            “Prosesnya cepat sekali mba… bliau nanya alamat untuk silaturrahim. Menyatakan niatnya untuk menikahi saya kepada orang tua, 13 hari kemudian orang tuanya datang untuk menentukan tanggal pernikahan. Alhamdulillah… mohon doanya ya… aku sebenarnya belum banyak tau tentang beliau.” cerita teman kosku.

            Kemudian semua teman kosku mulai mengeluarkan berbagai pertanyaan tentang kenal darimana, gimana orangnya, blablabla… aku pun ingat pertanyaan yang menggelayut di pikiranku dari tadi pagi.

            “mba… kalau memang mba belum banyak kenal sebelumnya, lalu… apa mba pernah punya perasaan khusus kepada orang lain sebelumnya?” tanyaku

hmm,,, itu manusiawi mba, tentu ada. Tapi… sebagai seorang wanita, sebaiknya kita menjadi yang ‘menentukan’, bukan yang ‘memilih’.” Temanku mulai menjelaskan

Kenapa mba?” tanyaku antusias, sebab ini sepertinya akan menjawab pertanyaan hatiku sejak pagi hari.

sebab secara naluriah, laki-laki itu memiliki ingatan yang lebih kuat dan cenderung bertahan lama. Jika dia menyukai atau mencintai seseorang, maka itu akan tertanam di memorinya dalam waktu yang lama. Ada beberapa kasus dari teman dan kasus yang aku alami sendiri mba. Ada seorang wali siswa yang kemudian terang-terangan bercerita kepada saya bahwa ia bercerita kepada anaknya bahwa ia mencintai temannya dulu, namun bukan istrinya sekarang. Hingga memiliki anakpun, si bapak tetap merasa berdesir dan jantungnya berdegup kencang ketika bertemu dengan wanita yang ia sukai dulu. Cerita lainnya, aku memiliki teman laki-laki yang katanya menaruh hati padaku mba. Kemudian ia menikah dengan seorang wanita, namun yang aku heran beliau masih berusaha menghubungiku via sms untuk menanyakan kapan aku akan menikah dan dia mengatakan masih menaruh hati padaku, bahkan disaat istrinya sedang hamil. Padahal, Aku tak pernah merespon apapun sms dari beliau.  Kisah ekstrim lainnya adalah ada laki-laki (A) yang menyukai wanita (B), si A kemudian hendak menikahi si B. Namun, tiba-tiba ada teman si A menawarkan wanita lain (C) yang katanya lebih ‘wah’ dari si B. Akhirnya si A menikahi si C. Namun, ternyata perasaan si A tetap pada si B. Meskipun si A telah menikah dengan si C, ia tetap saja terus berusaha menghubungi si B dan mengatakan selalu membayangkan si B -nauzubillah-, padahal kan apabila suami istri berhubungan, kemudian si suami membayangkan wanita lain, itu bisa jadi zina ya mba -astaghfirullah- ” temanku bercerita panjang lebar

“haaah? Beneran mba ada orang-orang seperti itu?” aku terheran-heran

iya mba, laki-laki berbeda dengan wanita. Seorang wanita lebih cenderung mudah luluh apabila ia disayangi dan diayomi, perasaannya mudah berubah. Makanya wanita mudah kagum kepada orang daripada laki-laki. Benar sekali tuh kalimat yang mengatakan lebih baik menikah dengan orang yang mencintaimu daripada yang engkau cintai. Yaah.. enaknya sih kalau sama-sama saling mencintai. Tapi kalau pilihannya adalah dicintai atau mencintai yaah lebih baik dicintai. Jika kita menikah dengan orang yang mencintai kita, maka ia akan dengan sepenuh hati akan menjaga kita dan bertanggungjawab terhadap kehormatan kita. Ketika ada orang yang telah datang melamar kita, berarti dia adalah orang yang sudah mempersiapkan diri untuk mencintai kita dan bertanggung jawab atas diri kita mba, maka kemudian kitalah yang akan menetukan apakah itu diterima atau tidak, bukan memilih.” Lanjutnya.

            Pertanyaan yang menggelayut di pikiranku terjawab sudah, bahwa ini bukan soal adil atau tidak, ketika wanita sebaiknya tak jadi yang ‘memilih’. Sebab kodratnya memang berbeda. Laki-laki dan perempuan memang berbeda, semua memiliki porsi masing (inilah keadilan Allah). Laki-laki punya kecenderungan mengingat dalam waktu lama, sedangkan wanita lebih mudah terpengaruh dan perasaannya mudah berubah. Maka bagi wanita sebaiknya menjadi yang ‘menentukan’ bukan yang ‘memilih’. Kalau kamu, mau menjadi pemilih atau penentu? 🙂

*Sabtu, 02.07 WIB begadang di kosan 😀

Tentang Masa Depan #1

Harbright-future-aheadi ini adalaha hari ke-21 dari upacara wisudaku pada tanggal 21 januari 2015 kemarin. Sudah resmilah diriku menjadi alumni dari Institut Pertanian Bogor yang aku cintai. Ditandai dengan pengembalian toga, pengembalian Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) serta pemberian Ijazah dan beberapa berkas penting lainnya yang aku terima. Bagaimana rasanya? Dulu aku juga begitu, sebelum merasakan berada pada titik ini, aku selalu merasa penasaran bagaimana rasanya wisuda, bagaimana rasanya telah lulus dan resmi menjadi alumni dan tak berkutat lagi dengan skripsi dan mengejar-ngejar dosen untuk konsultasi ataupun untuk mendapatkan tanda tangan.

Lalu, bagaimana rasanya ketika mengalaminya sendiri? Sejauh ini, yang aku rasakan adalah tidak terlalu enak. Ya, memang tidak terlalu enak karena aku termasuk orang yang belum memiliki tujuan yang jelas untuk pasca kampus. Tujuan yang jelas ada, tapi mungkin usahanya yang kurang. Ketika sampai di titik ini, aku mulai mengerti bahwa hal yang paling tidak enak adalah berada di suatu kondisi dimana kita tidak memiliki status dan tidak memiliki kesibukan di masyarakat, atau lebih populer dengan istilah pengangguran. Mungkin dulu aku tak terlalu terpikirkan dengan status ini, karena aku selalu merasa aman dengan status pelajar yang aku emban. Tapi sekarang? Sekarang sudah tidak lagi kawan, status pelajarku sudah resmi dihapus bersama dengan proses wisuda itu.

Saat menjalani hari-hari menjadi mahasiswa dulu, kegiatan untuk esok hari, lusa, bahkan seminggu ke depan sudah terbayang untuk dilakukan. Ketika orang bertanya “besok mau kemana?” otakku sudah berputar membayangkan kegiatan yang akan aku lakukan, bahkan tak jarang ada agenda yang harus di tunda atau dibatalkan karena bentrok dengan agenda yang lain. Begitu banyak kesibukan saat itu. Berbeda sekali dengan sekarang, aku ingin sekali menghindari orang yang bertanya “besok mau kemana?” hal ini karena aku bingung harus menjawab apa, aku tak punya tujuan saat ini –I am still jobseeker now-, pekerjaanku sekarang adalah mencari pekerjaan -haha-. Herannya, semakin menghindar dari pertanyaan seperti itu, semakin banyak saja orang-orang yang menanyakan pertanyaan tersebut. Sebenarnya wajar saja orang lain bertanya seperti itu, tapi perasaanku lah yang tidak wajar :D.

Berbicara tentang perasaan, akhir-akhir ini perasaanku diselimuti rasa gelisah dan was-was. Sudah beberapa hari aku merasa –I am nothing– dan kualitas tidur kurang baik. Ya, ini memang sangat berkaitan dengan statusku sekarang, seorang jobseeker yang menyandang status sarjana. Setiap bangun tidur, selalu saja timbul perasaan menyesal kenapa begitu lama tidur, ketika selesai nonton film akan timbul rasa menyesal kenapa terlalu lama nonton film, ketika malam akan timbul rasa menyesal tentang apa saja yang dilakukan ketika siang, begitu pula sebaliknya.

Ketika malam hari, aku biasanya baru bisa tidur di tengah malam dan itupun butuh waktu agak lama agar benar-benar tidur, seperti ada yang dipikirkan tapi aku tak tau apa yang sedang aku pikirkan. Sialnya, ditambah lagi dengan adanya hewan di atas atap kamarku yang herannya akan gaduh ketika jam 00.00 ke belakang. Aku tak tau tepatnya hewan-hewan apakah itu, sejenis tikus atau hewan pengerat lainnya. Anehnya, hewan-hewan ini sepertinya tak takut dengan suara gagang sapu yang aku gedor-gedorkan ke atap untuk mengusir mereka, sebab mereka tak menghentikan aksi gaduh mereka. Puncaknya pada suatu malam, aku dan adikku sampai mengungsi ke ruang TV karena tak tahan dengan kegaduhan hewan-hewan itu. Continue reading