Travelling (Bagian 2)

Mendapatkan kabar bahwa acara jalan-jalan kami batal oleh orang yang merencanakan jalan-jalan ini sebelumnya, membuat aku, Dita dan Ulfi tidak terima. Setelah datang menjenguk adik-adik SMA dan “guru tersayang” mereka, Dita dan Ulfi mengatakan bahwa Arya tidak mau ikut jalan-jalan, dia bilang males. Tentu saja aku tidak terima dengan pernyataan dan alasannya, sebab aku telah membatalkan beberapa agenda demi jalan-jalan ini. Lah… bagaimana bisa dibatalkan hanya demi alasan males? -alasan ditolak-. Karena Ulfi dan Dita sudah angkat tangan terhadap Arya, akhirnya aku yang harus turun tangan mengatasi anak yang satu ini. Setelah mengirimkan beberapa sms, Arya pun meg-ia-kan, dan jalan-jalan pun jadi -yeeeiii-
             Sebenarnya aku merasa tidak enak hati karena terkesan memaksa, tapi yang sebenarnya mengajak kami ke tempat ini adalah si Arya. Tapi menjelang H-1 keberangkatan, eh dia malah membatalkan rencana ini. ya udahlah…yang penting kami akhirnya pergi juga ke tempat ini. tempat yang kami kunjungi adalah “curug seribu” curug artinya air terjun, seribu karena batunya banyak -ribuan-. Kata Arya, kami ke curug seribu bertujuan untuk melatih fisik agar nanti jika kami naik gunung, tidak kaget.
            Letak curug seribu tidak terlalu jauh dari kampus kami, curug ini terletak di kaki Gunung Salak. Jadi kami memutuskan pergi ke sana menggunakan motor dengan helm yang sama -haha-. Di tengah jalan, kami sempat tersesat karena sang penunjuk jalan (Arya) tiba-tiba hilang. Sambil menunggu bertemu dengannya, kami makan soto mie dulu karena laper banget. Oya, soto mie-nya enak bangeeet, kayaknya soto mie terenak yang pernah aku makan di Bogor -uenak tenaan-. Sepanjang perjalanan, si Arya jelas-jelas terlihat sangat terpaksa pergi bersama kami. Tapi kami berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, biar dia tidak semakin menjadi-jadi.
            Untuk masuk ke daerah curug seribu ini, kami harus melewati jalan yang penuh dengan batu. Alhasil, motor kami meliuk-liuk tak karuan dan benar-benar seram. Setelah memarkir motor, kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki. Ternyata kami harus masuk hutan. Medannya naik, turn, naik lagi dan turun lagi, sehingga harus benar-benar hati-hati. Sepanjang perjalanan menuju curug tersebut, Dita, Ulfi dan Aku selalu bercanda dan tertawa untuk menghilangkan rasa lelah. Namun, si Arya masih didominasi sikap diam, dia hanya berbicara ketika mengingatkan kami agar hati-hati.
            Awalnya aku kira, lokasi curug cukup dekat. Ternyata lumayan jauh, setiap kali kami bertanya kepada Arya tempatnya jauh apa tidak, dia akan selalu bilang masih jauh #huft. Dia bilang, “jika kita sudah sampai di curug yang kecil, berarti separuh perjalanan lagi ke curug yang besar”. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya sampailah kami di sebuah air terjun yang menurutku lumayan besar. Namun ternyata, itu adalah curug yang kecil. Padahal aku sudah merasa berjalan sangat jauh, berarti masih setengah perjalanan lagi. 

                Sebenarnya melihat air terjun yang kecil saja hatiku sudah sangat bahagia, tapi kata Arya ada yang lebih besar lagi. Meskipun kakiku sudah sakit, aku paksakan untuk melanjutkan perjalanan. Tak seberapa jauh dari tempat air terjun yang kecil tadi, kami mendengar suara air yang deras. Tapi ini kan masih belum setengah perjalanan, apa ia Arya membohongi kami. Ternyata, dia memang membohongi kami. Air terjun yang besar itu dekat -alhamdulillah-           

            Melihat air terjun yang besar ini hatiku berdecak kagum. Ini adalah kali pertama aku melihat air terjun dan sebesar ini. airnya jatuh dari tempat yang sangat tinggi dengan volume air yang besar, sehingga menimbulkan suara gemuruh yang menyejukkan. Allahuakbar… maha besar engkau ya Allah yang telah menciptakan air terjun seindah ini. Aku merasakan kedamaian dalam hati karena tempat ini masih sangat sepi, hanya ada rombonganku dan satu rombongan yang lain. Suara air terjun yang bergemuruh yang kemudian mengalir melewati batu-batu menimbulkan suara gemercik yang sangat menyejukkan dan menenangkan hati. Aku memutuskan untuk turun namun tak terlalu jauh karena berbahaya. Semua kelelahan baik fisik maupun hati sebelumnya menjadi terbayar ketika sampai di tempat ini. Sungguh…tempat ini benar-benar indah.
            Setelah cukup menikmati keindahan air terjun tersebut, kami memutuskan untuk kembali. Berbeda dengan proses menuju air terjun tadi, dimana kami selalu bercanda dan tertawa sepanjang perjalanan, sekarang kami bertiga lebih banyak diam. Rasanya semua bercandaan menjadi tidak lucu karena kami sangat kelelahan. Tak disangka dan tak diduga, Arya justru lebih ceria sekarang. Dengan muka heran, kami bertanya kenapa dia terlihat begitu bahagia. Tanpa rasa bersalah dia bilang “haha…aku bahagia jika kalian menderita”. Benar-benar orang aneh, tapi dalam hati, kami bersyukur karena orang ini menjadi ceria kembali seperti sedia kala.
            Di tengah perjalanan, kami kehabisan air minum karena hanya Arya yang membawa bekal air minum. Kami pun mengisi air minum dengan air dari air terjun yang kecil tadi. Awalnya kami was-was, tapi setelah kami coba minum. Subhanallah… nyesss… airnya sejuk bangeeet dan lebih enak dari air mineral terkenal seperti Aq**. Setelah minum sepuasnya dan mengisi botol minum, kami meneruskan perjalanan. Kaki ini terasa benar-benar sakit. Setelah sampai di rumah penduduk, kami memutuskan untuk makan mie rebus rasa soto dan kari. Obrolan hangat pun mengalir ditemani dengan mie reebus hangat, kerupuk dan bebrapa biskuit. Setelah semua kenyang, kami shalat dzuhur dulu di warung tempat kami makan. Setelah itu, kami pulang dengan rasa puas dan hati yang sangat bahagia, serta tentunya rasa syukur yang semakin tinggi terhadap ciptaan Allah SWT.
Advertisements

Travelling (Bagian 1)

Menyadari bahwa hidup itu tidak bisa dilalui seorang diri, maka aku putuskan dalam hidupku ini, aku harus punya tim. Di tulisan sebelumnya mungkin aku telah menceritakan tentang tim karya tulisku. Maka beberapa waktu yang lalu aku membentuk tim baru lagi, yakni tim travelling. Sesuai dengan namanya, tim ini adalah tim yang dikhususon untuk melakukan kegiatan jalan-jalan. Kemana? Kemana saja, pokoknya dengan tim inilah aku akan jalan-jalan nantinya. Anggota tim ini tidak banyak, hanya 5 orang –boleh ditambah kalau mau-. Untuk sementara ada aku, Dita, Ulfi, Utari, dan Arya (those we are). Untuk selanjutnya mungkin akan segera aku bentuk tim Rumah tangga #eaaaa.
Beberapa minggu yang lalu, aku dan teman-teman tim travelling-ku memutuskan untuk jalan-jalan ke kota kembang, Bandung. Rencana awalnya ingin jalan-jalan ke kawah putih, gunung tangkuban perahu, dan tempat wisata lainnya di sana. Eh ia, tak lupa pula kami juga ingin berkeliling di universitas Teknik yang katanya paling kece disana, yakni Institut Tani Bogor Institut Teknologi Bandung (ITB).
            Perjalanan menuju Bandung tak tau kenapa penuh dengan cobaan. Bayangkan saja, perjalanan Bogor-Bandung yang seharusnya ditempuh dalam waktu 3-4 jam saja, kami tempuh sampai sekitar 7 jam. Biasanya sih ya, aku tertidur sekali saja, ketika bangun udah sampai di Bandung, tapi kali ini aku tidur, bangun, tidur, dan bangun lagi tetap aja masih di jalan *lamaaa bangeet. Ini semua karena kami salah naik bus. Bus yang seharusnya kami tumpangi adalah bus warna biru berlabel MGI, eh malah naik bus lain (lupa apa labelnya) yang sudah agak penuh, niatnya ingin menghemat waktu agar tidak terlalu lama nunggu penumpang. Tapi ternyata justru menyiksa kami. Bayangkan saja, AC busnya mati, sehingga para penumpang marah-marah karena merasa kekurangan oksigen di dalam bus. Setelah udara agak dingin dan mendekati Bandung, Hujan pun turun. Para penumpang semakin kesal karena busnya bocor,,, tepat di dekat tempat dudukku. Okee…sabarrr,,,, aku dan timku mencoba sabar, berbeda dengan bapak-bapak yang akhirnya bersama 2 anaknya memilih turun dan naik bus lain. Memang, hidup adalah pilihan.

            Kami baru sampai di terminal Bandung sekitar magrib akhir sudah hampir isya’. Alhasil sampai disana tidak ada damri. Karena malam itu malam minggu, kami memutuskan untuk naik taksi karena jika naik angkot maka dapat dibayangkan kemacetannya akan seperti apa. Alhamdulillah, setelah sekitar 20 menit perjalanan, kami sampai di tempat tinggal teman kami (baca: kost). Kami bersyukur karena punya teman-teman yang masih bersedia menampung kami dan menjadi tour guide kami. Mereka tak lain dan tak bukan adalah teman-teman SMA kami, atau adik kelas kami, atau kakak kelas kami.hehehe. setelah shalat, kami makan malam bersama di sebuah warung dan di tempat inilah teman kami menjelaskan tempat-temapat wisata yang akan kami kunjungi esok hari. Dengan sangat piawai dia menceritakan detail rute yang akan kami tempuh, padahal usut punya usut teman kami yang satu ini juga belum pernah ke tempat yang akan kami kunjungi besok -__- weleh…weleh… bagai bergantung di akar rapuh. Tapi, kami yakin, besok insyaAllah menyenangkan. Amin,,,
            Keesokan harinya adalah tour yang sesungguhnya, tapi sayangnya aku dan adikku datang paling terlambat, sehingga mereka semua harus menunggu kami #maaf. Total orang yang ikut dalam perjalanan kali ini adalah 13 orang. Setelah sarapan di kantin salman ITB, kami naik angkot menuju tempat wisata pertama, yakni Kawah putih. Sekitar 2-3 jam perjalanan, kami sampai disana. Untuk mencapai tempat kawah putih sendiri, kami harus naik kendaraan khusus lagi karena medannya yang lumayan sulit untuk angkot biasa, nama kendaraannya untang-anting. Selama di untang anting, kami selalu tertawa karena ada teman kami yang pandai melawak, yakni si Utari. Perjalanan kali ini menjadi semakin seru saja.
            Setelah sekitar 15 menit, kami sampai di kawasan kawah putih. Subhanallah…tempatnya keren bangeeet…. seperti kawasan yang ada di film-film (katanya sih tempat syuting film love love gitu #lupa). Ada danau dengan pasir yang putih kehijauan. Ranting ranting tanpa daun yang menghitam telihat sempurna berpadu dengan putihnya pasir yang berair hijau, indaaah bangeet. Oh ia, tempat ini juga dikelilingi tebing tinggi yang semakin menambah keindahan tempat ini. Ritual yang pasti kami lakukan adalah foto-foto, setelah puas foto-foto, kami pun berkeliling. Tapi lama-kelamaan dadaku sesak, napasku tidak enak. Ini pertanda bahwa aku dan teman-temanku harus segera enyah dan keluar dari tempat ini. sebab kata petugas, maksimal kami boleh di tempat ini hanya 15 menit saja. Jika telah terasa napas tidak enak, maka harus cepat keluar. Kamipun berduyun-duyun keluar dari tempat ini.


 
              Keluar dari kawasan kawah, kami memutuskan untuk shalat dulu, setelah shalat kamipun naik untang-anting lagi menuju tempat angkot kami yang tadi. Sesampainya di bawah, kami sangat lapar, dan mulai mencari makanan. Ada yang membeli bakso, jagung bakar, strowberry, blackberry (ini buah ya), sampai bandrek. Setelah semua puas dan semua kenyang..kami melanjutkan perjalanan. Cap cusss…
            Tempat wisata kedua adalah situ patenggang yang tak lain dan tak bukan adalah danau yang ditengah-tengahnya ada pulau kecil, dimana di pulau kecil itu ada batu cinta. Katanya sih, kalau menulis namamu dan pasanganmu di batu itu, bakal jodoh, ah ia? Aku tak percaya, aku hanya bisa menggeleng saja dalam hati, bagiku orang yang corat-coret di batu itu adalah orang alay -tititk-. Perjalanan menuju tempat ini benar-benar indah bangeeet… kami melewati hamparan kebun teh yang sedang hijau. Akhirnya, aku bisa merasakan juga lewat di tempat ini. padahal biasanya aku hanya bisa melihat hamparan kebun teh ini di tv #hehe. Hati kecilku dengan jujur berkata Bandung memang indah. Di situ patenggang ini kami naik perahu bersama-sama, menyenangkan sekali rasanya karena kami memilih perahu yang didayung, bukan yang bermesin.
Keadaan semakin seru sekali ketika melihat teman-teman berteriak jika perahu agak oleng. Sebenarnya aku juga takut sih, tapi berusaha tetap tegar dan berwibawa di depan teman-teman #tsaahhh. Ada satu teman yang sangat ketakutan ketika perahu kami oleng sedikit, dia secara spontan akan membaca shalawat, kalimat tahlil, dan lain sebagainya jika perahu agak oleng. Orang itu tak lain adalah anggota timku sendiri #memalukan ya, dia Arya. Tak kusangka, dia yang anak Fakultas kehutanan yang kami harapkan melindungi kami ternyata takut air -ckckck- katanya sih dia trauma karena pernah mengalami pengalaman buruk dengan air *kasihan juga sih sebenarnya.
 Keindahan danau ini makin terasa ketika tiba-tiba suasananya semakin berkabut, bayangkan saja, kabut tiba-tiba menyelimuti sekeliling kami ketika kami naik perahu, lalu suasana menjadi agak gelap. Tapi untungnya kami sudah hampir menepi. jadi ketika kami menepi, ada tetesan-tetesan air yang membasahi kami, seruuu sekali rasanya. Kali ini mestakung bagi kami, karena setelah kami selesai naik perahu dan menepi kembali, hujanpun turun dengan derasnya #alhamdulillah…

 
            Hari sudah mulai beranjak sore setelah kami dari situ patenggang, maka kami putuskan untuk pulang saja karena takut terlalu malam di jalan. Entah kenapa, liburan kali ini rasanya menyenangkan sekali, mungkin ini pelampiasan tingkat akhir kali ya, setelah semua beban rasanya sesak di dalam dada, maka liburan kali inilah menjadi media penyaluran beban kami. Rasanya bebas sekali meskipun beberapa hari kemudian kami harus menghadapi ujian tengah semester, ujian skripsi, dan ujian hidup #fiuhhh….
            Keesokan harinya, yakni hari senin kami harus pulang kembali ke dunia nyata di Bogor. Sebenarnya masih ingin berlama-lama di Bandung, jalan-jalan dan makan-makan. Tapi teman kami yang bernama Arya –lo lagi lo lagi- menjadi ketua Qurban di Fakultasnya, jadi dia harus menjaga kambing-kambing di Fakultasnya yang akan disembelih pada hari raya idul adha esok lusa (hari selasa). Demi menghargai teman kami yang satu ini dan demi kekompakan tim, kamipun ikut pulang. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami akhirnya memilih menunggu bus kedua yang berlabel MGI untuk pulang ke Bogor. Alhamdulillah busnya dingin berAC dan kami sampai tepat waktu di Bogor.
Kemanakah kita selanjutnya kawan? Let see… ^.^

struggle to UNAIR

PART (FINAL)

aku, Dita, n Ulfi sampai di st.jakarta kota dengan perasaan bercampur aduk (ya ia lah…tiketnya uda habis). ketika sampai di sana, kami langsung bertemu dengan utari dkk. mereka telah memegang tiket kereta bisnis terakhir tujuan Surabaya. ternyata, pada saat itu telah berlaku peraturan baru untuk kereta ekonomi (tidak ada tiket berdiri, dan tiket kereta ekonomi bisa  dipesan seminggu sebelumnya). yah…nyesel deh kenapa ga up date info dari kemaren (penyesalan memang datangnya selau di akhir ya… *huft)

duh…kalian gmana nih…tiketnya udah habis tadi” dengan perasaan penuh simpati, utari menunjukkan rasa khawatirnya.

aku dan teman-temanku hanya bisa diam karena kami bingung. lalu Dani salah satu anggota kelompok utari nyeletuk

eh…gimana kalo kalian naik tanpa tiket aja,,,nanti pas diperiksa pasang muka melas aja sama petugasnya…kita kan cewe, pasti bapaknya ga tega

hm,,,bener juga. tapi tiba-tiba kami mendapatkan info bahwa penumpang yang naik tanpa tiket akan diturunkan dari kereta secara paksa (ih,,,seren juga kao gitu mah…)

ah…ga ah…kalo kami diturunin di tempat yang tidak kami kenal gmana? ngaco aja kamu dan“aku tidak menyetujui ide konyol Dani

lalu, Ulfi yang telah putus asa menyarankan agar kami naik kereta eksekutif. sebenarnya kau sih mau-mau aja, tapi masalahnya aku ga bawa uang yang cukup. ke Surabaya ini aja pas-pasan buat naik kereta ekonomi, apalagi naik kereta ksekutif yang harganya bisa sampe 10 kali lipat kereta ekonomi. lalu, dengan pertimbangan yang matang (ce’ileh..) aku memutuskan untuk naik kereta eksekutif setelah aku menelpon Mbakku di Surabaya untuk mentransfer uang untukku (untunglah mbakku baik,,,hehehe). lalu salah satu dari kami ke loket pembelian tiket, tapi ternyata… hal yang kami takutkan terjadi kembali,,,tiket eksekutif juga udah habis,,, (tidak…). haduh,,,harus gimana lagi yah??? bingung… dengan perasaan penuh kebingungan, aku menelpon ibuku, tapi bukan menyelesaikan masalah malah makin memperumit masalah. ibuku memarahiku karena keteledoran dan ketidak teraturanku. beliau memang telah berkali-kali menasehatiku agar jangan teledor, tapi tetap aja aku seperti biasa lupa akan nasehat itu… ya udah terima aja dimarahi. ibuku sangat kaget dan khawatir ketika aku bercerita bahwa kami kehabisan tiket ke Surabaya. yang paling membuat beliau kepikiran adalah karena kami adalah perempuan, jadi takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kami (yah..begitulah orang tua pada anaknya…). untuk meminimalisir kekhawatiran ibuku aku bilang saja kalau masih ada tiket susulan (padahal boong,,,hehehe).

ia,,,ia…bu…tenang aja…masih ada tiket kok,,ga usah kepikiran” dengan suara enteng aku bilang begitu pada ibuku

kamu tuh,,,selalu kayak gini,…kebiasaan menganggap enteng setiap sesuatu…kalo udah kayak gini gmana? inget…kamu itu perempuan,,,harus hati-hati…bla…bla…

seperti itulah kira-kira cuplikan percakapanku dengan ibuku. nah…setelah beberapa saat berdiskusi dengan teman-teman, ada pengumuman bahwa kereta bisnis jurusan Surabaya akan segera berangkat, itu artinya Utari dkk akan berangkat (hiks… ). Utari dkk lalu berpamitan untuk berangkat, dengan perasaan sedih, kami berpisah (udah kayak film india aja,,,hehe). setelah mereka pergi, kami mendapat info bahwa ada tiket kereta jurusan kroya (kalau tidak salah terletak di jawa tengah) yang dibuka, tanpa basa-basi kami pun membeli tiket itu, sebab kami pikir kami bisa melanjutkan perjalanan dari jateng ke Surabaya. Alhamdulillah dapet tiketnya (Dita yang ngantri…:D)kereta ini baru berangkat jam 9 malam, jadi kami putuskan untuk makan dulu.
setelah kereta datang, kamipun naik di salah satu gerbong. di tempat duduk, kami tak henti-hentinya merasa was-was apakah kami bisa sampai tepat waktu apa tidak sebab berdasarkan perhitungan kami, seharusnya kami sampai di sana sehari sebelum presentasi karena kami harus mengikuti rangkaian acara sehari sebelumnya untuk technical meeting dsb. ya sudah,,,tak apa-apalah, yang penting bisa presentasi nanti (tetap semangat :D). selama di kereta kami menyempatkan menyempurnakan slide yang masih belum kelar 100%, setelah slide selesai kami pun latihan presentasi selama di kereta. kami berencana turun di Bandung karena petugas menyarankan begitu, sebab dari stasiun Bandung akan banyak kereta yang ke Surabaya (oke…kami ikuti saja…)tapi, penumpang lain mengatakan turun di st.kiara condong aja biasanya juga ada kereta yang ke Surabaya (waduh…kami jadi bingung nih…) kami meilih mengikuti petugas. kami tiba di stasiun Bandung jam 01.00 dini hari. keadaan st.Bandung begitu sepi dan menyeramkan, apalagi kami adalah perempuan semua (menakutkan banget lah pokoknya…hi,,,)
petugas stasiun tidak mengizinkan kami berada di dalam stasiun, harus duduk di luar katanya. loket tiket baru dibuka jam 7  pagi (huft,,,masih lama banget nunggunya). aku dkk menunggu di luar da berniat untuk tidak tidur, tapi tetap aja tidak tahan. akhirnya kami pun tidur di kursi stasiun 

ini aku yang sedang tidur di kursi stasiun *Dita as photographer

ini Ulfi di tempat duduk yang lain di st. Bandung
aku dan Ulfi termasuk orang yang tak tahan menahan rasa kantuk, jadi kami tetap bisa tidur dalam keadaan apapun (hee,,,tapi Ulfi lebih parah :D). sedangkan Dita tidak bisa tidur karena rasa takutnya mengalahkan rasa ngantuknya. sebelum kami tidur, kami sempat berbincang-bincang dengan petugas dan menanyakan harga tiket kereta. petugas menjelaskan bahwa di st.Bandung tsb hanya ada kereta bisnis dan eksekutif, tidak ada kereta Ekonomi, beliau juga menambahkan bahwa daftar harga tiket bisa diliat di depan. kami pun melihat daftar tersebut, harga per tiket kira 250.000an (lupa tepatnya berapa…) karena uang kami kurang, akhirnya Ulfi mengambil uang di ATM. ketika menjelang pagi, aku dibangunkan secara mendadak oleh Dita n Ulfi, mereka terlihat sangat cemas. ternyata, semalam kami tidak membaca bahwa ada pengumuman tambahan bahwa harga tiket naik menjadi 400.000 per tanggal 1 Oktober 2011, aku lupa bahwa hari itu telah masuk tanggal 1 Oktober (tidakkk…). Ulfi terlihat sangat putus asa, begitu pula aku. sebab uang kami tidak mungkin cukup jika harga tiket semahal itu.
kita balik aja ke Bogor yuk,,,ga usah presentasi ke UNAIR” dengan nada hampir menangis Ulfi berkata seperti itu
balik??? jangan Ul…masa kamu rela perjuangan kita sudah sampai segini kamu udah mau menyerah…ayo,,,yakin kita pasti bisa, perjuangkan karya tulis kita” aku dan Dita berusaha meyakinkan Ulfi
aku pun langsung bertanya pada petugas apakah ada stasiun lain di dekat stasiun ini yang kira-kira dijual tiket kereta ekonomi jur.Surabaya. alhamdulillah ternyata ada, tapi harus naik angkot 2 kali. yah,,,padahal kami belum pernah ke Bandung sebelumnya, jadi kami tidak tau lingkungan di sini. akhirnya untuk mengefisienkan waktu, kami memutuskan untuk nauk taksi saja. kami pun menuju st.kiara condong (seperti instruksi petugas st.Bandung). Allah memang benar-benar sayang kami,,,tiket kereta ekonomi ke surabaya masih ada…kami pun berangkat ke Surabaya 😀 ternyata Bandung -Surabaya lebih jauh daripada Jakarta-Surabaya (ya ia lah….)
setelah berjam-jam di kereta sampe badan pegal linu semua, akhirnya kami sampai di stasiun Gubeng Surabaya pada tengah malam kira-kira jam 00.00. kami dijemput memakai mobil oleh anak-anak mahasiswa UNAIR panitia dari AIC 2011. mereka sangat baik, yah,,,meskipun mereka sempat mengejek kami karena kami sangat lama di perjalanan, ditambah lagi datangnya tengah malam gini, benar-benar menyiksa panitia (maaf ya…hehehe)
selamat datang di Surabaya mbak-mbak…sekarang jam menunjukkan pukul 12 malam..,”salah seorang panitia AIC menyeletukkan kalimat itu untuk mengajak kami bercanda.
hahahaha….” panitia yang lain menyambut dengan tertawaan candaan tersebut
di lain pihak, aku dkk hanya bisa tersenyum karena kami sudah tidak memilki tenaga cukup untuk bercanda. kami pun tekpar di dalam mobil. anak-anak UNAIR ini dengan logat jowonya yang sangat kental bicara ngalor ngidul dengan panitia yang lain, sebelum menuju asrama tempat kami istirahat nanti mereka masih membawa kami mampir membeli sesuatu di warung pesenan teman mereka (eh…ternyata yang mau dibeli ga ada :D). tiba di asrama, kami disambut panitia lain yang berjaga di asrama, mereka sangat baik,,,(salut buat anak-anak UNAIR). mereka menunjukkan kamar kami yang ternyata digabung dengan para peserta dari universitas lainnya. badanku masih terasa bergoyang-goyang (efek kelamaan di kereta mungkin ya…). lalu aku putuskan untuk mandi.
setelah mandi, aku dan Ulfi tidak bisa langsung istirahat karena kami harus memperbaiki produk selai yang kami bawa dari bogor yang telah rusak di perjalanan. ulfi telah menghubungi temannya yang kuliah di ITS (kebetulan ITS n UNAIR deket) untuk menjemput dan mengantarkan kami membeli bahan-bahan. jam 02.00 kami pun naik motor dan memperbaiki produk kami. kiran-kira jam 03.30 kami kembali ke asrama untuk istirahat karena jam 07.00 pagi akan dimulai acara presentasi. kami pun berusaha mengefisienkan waktu untuk istirahat (sebenarnya ga cukup sih…badan masih goyang-goyang…). jam 06.00 panitia mengumpulkan kami untuk sarapan. kami sarapan bersama-sama dengan anak-anak dari Universitas lainnya, kalau tidak salah ada yang dari UNS, UGM, UNY, ITS, UNAIR, dll (lupa…he). meskipun kami baru saja bertemu kami langsung akrab, apalagi mereka selalu heran karena aku dan Dita kembar 
kok mirip ya??? kembar ya mbak???” tanya salah satua anak dari UGM
ia…kembar” jawabku
“hah????….” muka mereka melongo…(biasa aja kali,,,, huft)
selau begitu…orang yang melihat kami selalu merasa heran. padahal aku merasa tidak kembar lho…hehe. setelah makan kami pun melanjutkan acara. kronologinya bisa dilihat di gambar di bawah
  setelah sarapan,,,kami foto dulu sebelum presentasi.:D
Tim dari IPB berpose…hehehe
suasana ruangan sebelum presentasi

slide presentasi kami
suasana saat kami presentasi

 dan…alhamdulillah kami mendapatkan juara 3 (alhamdulillahirobbil alamin,,, :D)

foto bareng semua peserta AIC


foto bareng semua panitia AIC 2011 di depan “berhala” UNAIR (begitulah anak UNAIR menyebutnya)

alhamdulillah setelah perjuangan yang melelahkan (hehehe…lebbay) akhirnya kami bisa merasakan manisnya hasil itu… *nikmat tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan???




struggle to UNAIR

PART II
pengumuman peserta semifinal sudah keluar, kami diberi waktu seminggu untuk mempersiapkan semuanya. hal pertama yang kami siapkan adalah membuat produk selai belilmbing wuluh kami. belimbing wuluh cukup melimpah di kampus. jadi kami hanya cukup meminta izin untuk mengambil belimbing wuluh tersebut kepada petugas. sebab belimbing wuluh masih sangat jarang dimanfaatkan. lihat saja gambar ini
gambar belimbing wuluh berserakan tidak dimanfaatkan
aku sedang mengambil belimbing wuluh yang berserakan
 aku dan ulfi memanen belimbing wuluh
di gambar sudah bisa menjelaskan alasan kami kenapa kami mengambil belimbing wuluh sebagai objek dari projek kami. melimpah, tak termanfaatkan, namun memilki banyak manfaat apabila diolah dengan baik -nah,,,makanya kami membuat selai dari belimbing wuluh :D-. setelah belimbing wuluh dan segala bahan-bahan yang dibutukan telah siap, kami mulai membuat produk. awalnya gagal -hiks,,sedih- tapi kami terus berusaha membuat dan mencari informasi di internet cara membuat selai lembaran. akhirnya,,,setelah beberapa proses, alhamdulillah produk kami selesai juga -hore…-
untuk menguji kualitas rasa, kami mengajak teman-teman GASISMA (keluarGA mahaSISwa MAdura) untuk kumpul bareng. kami membawa roti dan selai belimbing wuluh yang telah berbentuk lembaran. mereka sangat antusias karena kami membawa makanan gratis -dasar mahasiswa ya… :D-. tak lupa pula kami memberikan kuesioner untuk mereka isi. data hasil uji organoleptik telah kami dapat. setelah semua data kami dapatkan, saatnya membuat ppt untuk presentasi. untuk urusan yang satu ini, kami memilih jalan untuk konsultasi ke teman-teman dan juga kakak-kakak FORCES (Forum for Scientifict Studies) -jika ingin tau lebih jauh tentang FORCES  kunjungi aja forces ipb-, sebab mereka adalah orang-orang yang sudah ahli dalam hal ini. ketika kami konsultasi, kak septian menyarankan agar kami memesan tiket bis atau kereta ke surabaya terlebih dahulu agar tida ribet nantinya. tapi emang dasar kami yang selebor, kami tenang-tenang aja. kenapa? karena kami ingin naik kereta ekonomi. jadi kami pikir bisa beli on the spot.
pada har H keberangkatan, kami bangun tidur pagi sekali agar bisa sampai di stasiun lebih cepat. teman sekontrakan kami, Utari -yang juga lolos ke AIC- masih belum berangkat karena menunggu anggota kelompok mereka yang masih kuliah. jadi kami memutuskan untuk berangkat duluan ke stasiun agar kami bisa membeli tiket untuk mereka juga. mereka setuju,,,kami pun berangkat ke stasiun BOGOR. karena kami mendapat isu bahwa di stasiun Jakarta Kota (jakot) telah habis tiket kereta ekonomi tujuan surabaya, kami berencana membeli tiket di st.pasar senen. jadi, kami turun di st. manggarai agar bisa ke st.pasar senen, lau naik kereta yang ke pasar senen.
“malu bertanya, sesat di jalan” pepatah itu mungkin telah sering kita dengar, namun mungkin masih banyak orang yang masih belum memahami maknanya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. nah,,,hal itulah yang terjadi padaku dan teman-temanku. tanpa bertanya sana-sini, kami langsung saja naik kereta dari manggarai dan dengan muka -sok tau- membaca rute perjalanan kereta. dengan ekspresi yang begitu PD, aku mengatakan pada teman-temanku bahwa kami telah naik kereta yang benar berdasarkan peta rute yang aku baca di dalam kereta. kami hampir saja ketinggalan kereta ini -keretanya udah mau berangkat-
“untung ya,,,kita ga ketinggalan kereta ini,,,hehhee” aku berceloteh kepada Ulfi dan Dita
mereka berdua kompak menjawab “ia…ia…untung aja…
kereta mulai berjalan,,,namun kok ada yang aneh ya,,,stasiun yang ada di peta rute menuju ke pasar senen tidak ada yang sesuai dengan stasiun yang kami lewati. dengan perasaan was-was, aku bertanya pada petugas. benar saja apa yang kami takutkan,,,,ternyata arah kereta ini berlawanan arah dengan stasiun yang kami tuju…-waduh…- akhirnya kami meminta turun di st.tanah abang, stelah itu kami naik angkot untuk sampai ke st.jakot. ulfi mendapat sms dari utari bahwa mereka sudah sampai di stasiun jakarta kota -kami yang berangkat duluan aja belum sampai ni…astaghfirullah,,,-. bukan hanya itu, utari juga mengatakan bahwa tiket kereta ekonomi sudah habis, bahkan tiket kereta bisnis tujuan Surabaya juga sudah terjual habis -mereka bertiga adalah pembeli terakhir-. haaahhh??? 
lau bagaimana nasib kami??? ……..