Partner

Partners

Sumber Gambar:  http://www-learningfocused.netdna-ssl.com

Sampai pada titik ini, aku mulai menyadari akan pentingnya partner dalam hidup.  Partner dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pasangan, rekan,dll. Kehidupan sosial akan benar-benar berjalan karena adanya partner. Partner disini aku artikan dalam lingkup luas. Bisa melingkupi pasangan hidup, teman sepermainan, rekan kerja, dan seterusnya.

Akhir-akhir ini aku mengalami beberapa peristiwa yang menyadarkanku akan pentingnya partner ini. Pertama, aku sudah sangat terbiasa hidup tak sendiri dari kecil (i am twin). Sehingga aku tak pernah merasakan kesepian karena bermain sendirian di rumah. Adikku selalu menjadi partnerku. Ya, partner akur maupun partner dalam berantem. Sampai kuliahpun kami selalu bersama. Hingga akhirnya kami harus berpisah karena bekerja di tempat yang berbeda. Aku di Bogor, dia di Bekasi.

Kedua, setelah bekerja dan berpisah dengan adikku, aku tinggal di tempat kost dan satu kamar bersama seniorku. Teman-teman di kosanku terbiasa memasak sendiri untuk bekal ke kantor, kamipun juga begitu. Aku dan seniorkku memasak bersama setiap hari untuk kami berdua. Aku sangat bersemangat untuk urusan masak ini. Sebab, selain lebih murah, memasak sendiri lebih terjamin kebersihannya.

Setelah hampir satu tahun tinggal di kost yang sama, seniorku akhirnya menikah. Kini aku tak punya partner di kosan. Anehnya, sejak seniorku menikah, aku menjadi sangat malas untuk memasak. Aku lebih sering membeli makanan di luar. Padahal memasak untuk kebutuhan diri sendiri, tapi kok rasanya berat sekali.

Ketiga, kemarin adalah hari sabtu. Biasanya apabila tidak ada kegiatan, aku akan tidur-tiduran dan berleha-leha sepanjang hari di atas tempat tidur. Rasanya beraat sekali untuk menggerakkan badan bahkan untuk sekedar mandi. Namun, karena temanku menghubungiku untuk menghadiri sebuah acara, ada semacam enaergi yang membuatku bergerak dan segera bersiap-siap.

Acara ini sebenarnya merupakan sebuah acara silaturrahim teman-teman seangkatan di kampus dulu. Bertempat di rumah salah satu teman yang telah berkeluarga (pasangan muda dan seangkatan). Beberapa teman yang hadir adapula yang baru saja menikah dan ada yang telah memiliki anak. Banyak hal yang kami obrolkan. Mulai dari yang ringan sampai yang berat -hehe-.

Aku melihat aura yang berbeda dari teman-teman yang telah memiliki partner (sudah menikah). Mereka yang telah memiliki partner seperti memiliki energi positif yang dominan. Pemikiran mereka seperti lebih jauh dan lebih terarah. Aku ambil contoh misalnya, temanku yang menjadi tuan rumah ini. Ketika ia bercerita tentang proses perjuangan ia dan suami dari awal menikah sampai sekarang, ia terlihat begitu bahagia dan bersemangat. Adapula temanku yang telah memiliki anak. Ia bercerita bagaimana pola mengurus anak, mengatur urusan keluarga termasuk mengatur jumlah anak natinya. Ia menjelaskan dengan begitu detail dan logis menurutku. Memiliki partner membuatnya menjadi lebih baik dalam memanage semuanya.

Beberapa kejadian di atas membuatku semakin paham bahwa hidup ini tak bisa dilalui sendirian. Kita butuh patrner. Sebab, hidup sendiri akan membuat kita menajdi seenanknya sendiri. Adanya partner akan selalu menjadi pengingat dan penyemangat dalam melaksanakan berbagai aktivitas dalam kehidupan.

Everybody always has reason

Saya selalu percaya bahwa setiap orang pasti memiliki alasan,tak peduli ia ada di pihak mana. Sebab kadang kala, yang benar di sini menjadi salah besar di sana. Ada yang bilang, kita hanya butuh satu kearifan. Yakni, kearifan dalam toleransi. Saya sangat setuju dengan pendapat ini.

Namun, saya rasa hati nurani tak pernah bisa dibohongi. Selalu ada rasa berbeda ketika kita sedang melakukan sesuatu yang salah atau berhadapan dengan orang yang salah. Selalu akan ada rasa itu, rasa tak enak hati. Sebab hati akan selalu menuntun kita, meskipun kita tak menyadarinya.

Sekarang,,, aku merasakan takut yang amat sangat. Takut berada di zona abu-abu, zona bimbang, bahkan ada yang kejam mengatakan bermuka dua. Padahal tak ada maksud sama sekali ke arah itu. Hanya berusaha untuk positive thinking saja, yang ternyata memang sangat tidak mudah.

Refreshing ke ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia)

IMG_20160407_193847

Sumber Gambar: dokumentasi pribadi

Beberapa orang mungkin akan mengernyitkan dahi ketika membaca judul tulisan ini. Refreshing kok ke gedung arsip? Memang terdengar aneh, tapi ternyata ketika dijalani benar-benar menyenangkan -ini serius-. Pagi itu, aku dan beberapa teman ‘pejuang arsip’ lainnya menempuh perjalanan sekitar 2 jam-an sampai akhirnya tiba di gedung ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Tiba di lobi ANRI, aku langsung menhampiri beberapa teman yang sudah tiba terlebih dahulu di gedung tersebut. Belum ada pihak ANRI yang menyambut kedatangan kami, mungkin mereka sedang bersiap-siap. Akhirnya kami memutuskan untuk berfoto ria di depan ruang diorama yang terdapat di sebelah kanan lobi (ini salah satu bentuk pengarsipan dokumentasi, hehe).

Beberapa menit kemudian, kami disambut oleh seorang ibu cantik -lupa namanya- yang kemudian membawa kami ke lantai 3 menuju ruang pertemuan. Setelah pembukaan singkat, si ibu memutarkan video tentang ANRI yang berdurasi 15 menit. Video yang diputar adalah video zaman dahulu kala, sejak Indonesia masih pada masa penjajahan belanda dan jepang. Adapula video pidato kemerdekaan bung Karno, semua video yang sudah berusia tua tersebut masih dapat diputar dengan baik. Proses penyimpanan arsip di ANRI juga dipaparkan di video tersebut, terlihat bagaimana proses pengawetan dokumen penting RI seperti teks proklamasi dilakukan begitu serius dan menggunakan teknologi yang canggih.

Setelah video berdurasi 15 menit selesai diputar, datanglah 4 orang ibu-ibu yang merupakan tim ANRI yang menyambut kami. Setelah acara pembukaan dan sambutan dilakukan, ketua tim yang bernama ibu Sulis melanjutkan pemaparan. Banyak hal yang dijelaskan oleh ibu Sulis tentang Arsip. Beliau menjelaskan di era digital seperti saat ini, pengiriman surat maupun bukti transaksi sudah dapat dilakukan melalui email maupun fax. Kedua metode tersebut memang tepat apabila dinilai dari ketepatan waktu. Namun, apabila berdasarkan nilai otentik tetap saja diperlukan arsip printout yang asli, Inilah pentingnya file asli dalam bentu printout.

Hal lain yang saya ingat dari penjelasan ibu sulis adalah pernyataan beliau yang menyatakan bahwa “arsip itu tidak papa ketika tidak terjadi apa-apa”. Artinya, arsip memang tidak diperlukan apabila tidak terjadi suatu masalah, namun ketika terjasi suatu masalah maka arsip akan sangat diperlukan sebagai bukti dan bentuk pertanggungjawaban. Arsip akan menjadi bukti yang sangat kuat karena arsip menunjukkan apa adanya. Tak untuk menyalahkan atau membenarkan, namun menyajikan.

Kemudian beliau menjelaskan beberapa kasus yang terjadi akibat melalaikan keberadaan arsip. Mendengar penjelasan tersebut, aku menjadi semakin paham tentang pentingnya mengelola arsip secara baik dan benar. Sebab, selama ini aku kurang memiliki kesadaran akan pentingnya arsip baik bagi diri sendiri maupun lembaga. Pemaparan yang dilakukan oleh Ibu Sulis dilakukan selama satu jam.

Kunjungan kami dilanjutkan dengan berkeliling mengunjungi ruang penyimpanan arsip aktif, inaktif, record center dan berkeliling ke diorama ANRI. Berkeliling mengunjungi diorama ANRI ini begitu menyenangkan. Banyak kenangan-kenangan masa lalu yang masih bisa aku nikmati sampai saat ini.  Aku dapat mendengarkan pidato sumpah kepresidenan oleh para presiden Indonesia sejak bapak Soekarno sampai bapak Susilo Bambang Yudhoyono, bapak Jokowi belum ada karena gedung ini diresmikan saat masa pemerintahan SBY, jadi presiden Jokowi belum terpilih. Tak ketinggalan pula diorama yang menggambarkan aksi mahasiswa pada tahun 1998 dan teks serta rekaman pidato pengunduran diri bapak Soeharto juga dapat dinikmati.

Setelah selesai mendapatkan materi tentang arsip dan berkunjung di diorama ANRI. Semakin sepakatlah aku dengan kalimat yang berbunyi “dunia tanpa arsip adalah dunia tanpa ingatan”. Oya FYI, diorama ANRI terbuka untuk umum loh. Silahkan jika ingin berkunjung saat weekend dari jam 09.00 sampai jam 13.00 WIB. ~semoga bermanfaat 😀

Dikerjain Petugas KRL

commuterline-IMG-20150115-WA024-12

Sumber Gambar:  http://jakartabytrain.com/

Tak seperti biasanya, pagi itu jalan raya dari parung menuju stasiun bogor yang biasanya lancar jaya tiba-tiba macet. Alhasil aku baru sampai stasiun setelah 2 jam, padahal biasanya hanya 30 menit saja. Adikku sudah berkali-kali nanya “sudah sampai mana?” “Kasih tau ya kalo udah sampe” “blablabla…“.

Tiba di stasiun pemandangan tak berbeda dari jalan raya, suasananya rame banget dan antrian dimana-mana. Tapi kayaknya ini memang suasanya wajar ding, soalnya hari itu hari senin. Aku harus pulang tiba-tiba karena bapak dalam kondisi drop di Rumah Sakit.

Kereta yang tersedia di stasiun bogor saat itu ada di jalur 2 dan 3. Dua-duanya tujuan jakarta kota, belum tetsedia untuk tujuan jatinegara yang merupakan tujuanku. Aku memutuskan untuk duduk di kursi yang terdapat diperon antara jalur 2 dan 3. Kereta yang berada di kedua jalur tersebut sudah mulai terisi oleh para penumpang. Namun, kerta yang berada di jalur 2 lebih pebuh karena berdasarkan pengumuman petugas KRL, kereta inilah yang dijadwalkan berangkat duluan.

Tiba-tiba ada pengumuman

Pemberitahuan kepada seluruh pengguna Commuter line tujuan jakarta kota, KRL commuter yang akan diberangkatkan terlebih dahulu adalah jalur 3. Karena ada perbaikan pada KRL yang berada di jalur 2″

Mendengar pengumuman tersebut, para penumpang yang berada di KRL jalur 2 berbondong-bondong pindah ke jalur 3.

Teng…teng….teng..teeeeng….KRL jalur 3 siap diberangkatkan

Kereta di jalur 3 yang telah penuh penumpang mulai melaju. Namun, hanya beberapa meter saja KRL maju, tiba-tiba ia mundur kembali.

Mohon maaf kepada seluruh penumpang KRL  di stasiun Bogor, KRL jalur 3 tidak dapat diberangkatkan karen terjadi gangguan rangkaian di stasiun pondok cina” petugas KRL mengumumkan.

Ada hal aneh yang aku perhatikan, yakni pintu kereta jalur 3 yang tadi mundur tetap tidak terbuka, hanya satu pintu di gerbong tengah yang terbuka. Oh, mungkin sebentar lagi akan berangkat, pikirku. Namun, tiba-tiba ada pengumuman kembali

teng…teng…teng…teeeng…KRL commuter line di jalur 2 siap untuk diberangkatkan

Waah… paraah… bayangkan saja para penumpang yang tadinya sudah pindah dari jalur 2 ke jalur 3, harus pindah kembali ke jalur 2. Lebih parahnya lagi, pintu keretanya tak terbuka. Para penumpang yang sangat dikejar waktu terlihat panik dan menggedor-gedor pintu kereta agar dibuka. Akhirnya pintu keretapun terbuka dan berbondong-bondonglah penumpang keluar untuk pindah ke kereta jalur 2 yang siap berangkat.

Namun… apa yang terjadi? Saat para penumpang hendak masuk ke kereta di jalur 2, sreeet….pintunya tertutup dan kereta pun berangkat. Sungguh terlaluuu… ini situasi yang sungguh terlalu. Seorang bapak yang duduk di sampingku tiba-tiba berkomentar

Dikerjaiin…bener-bener dikerjain…

Aku melihat peristiwa ini dengan penuh keheranan. Kereta tujuan jatinegara kemudian datang di jalur 7, akupun beranjak ke jalur 7 sambil melihat beberapa penumpang mengerumuni masinis kereta jalur 3 untuk complain. Adapula seorang ibu yang mendatangi petugas di bagian pusat informasi dan memaki-maki petugas sambil didukung oleh para bapak-yang menggerutu kesal sambil berkata “huu… ia tuuh marahin aja… marahin ajaaa… huuu“. Aku yang terburu-buru tak sempat menyaksikan bagaimana akhir dari peristiwa tersebut. Semoga dapat terselesaikan dengan baik oleh kedua belah pihak. amiiin….