Everybody always has reason

Saya selalu percaya bahwa setiap orang pasti memiliki alasan,tak peduli ia ada di pihak mana. Sebab kadang kala, yang benar di sini menjadi salah besar di sana. Ada yang bilang, kita hanya butuh satu kearifan. Yakni, kearifan dalam toleransi. Saya sangat setuju dengan pendapat ini.

Namun, saya rasa hati nurani tak pernah bisa dibohongi. Selalu ada rasa berbeda ketika kita sedang melakukan sesuatu yang salah atau berhadapan dengan orang yang salah. Selalu akan ada rasa itu, rasa tak enak hati. Sebab hati akan selalu menuntun kita, meskipun kita tak menyadarinya.

Sekarang,,, aku merasakan takut yang amat sangat. Takut berada di zona abu-abu, zona bimbang, bahkan ada yang kejam mengatakan bermuka dua. Padahal tak ada maksud sama sekali ke arah itu. Hanya berusaha untuk positive thinking saja, yang ternyata memang sangat tidak mudah.

Advertisements

Sulitnya Menjadi Panutan

Sore hari menjelang malam di penghujung hari minggu ini, aku bulatkan tekad (baca: paksa) unrtuk menulis. Tulisanku ini sepertinya akan cukup panjang karena alurnya cukup jauh dari inti cerita. Aku berharap semoga hasil tulisan ini nantinya tidak kacau balau karena kadang mood-ku suka berubah-ubah dengan cepat (hahaha). Sudah beberapa hari ini pikiranku terasa penuh karena ada yang seharusnya aku tuliskan untuk mengurangi apa yang aku pikirkan. Aku berharap, dengan tulisan ini akan dapat meringankan pikiranku.

                Sebelum melamar kerja di Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa (YPnDD), sudah banyak perusahaan maupun lembaga yang aku ikuti proses rekrutmennya. Mulai dari tahap awal, sampai wawancara akhir. Bahkan ada yang telah menerimaku dan aku sempat mengikuti training selama 3 hari. Namun, ketika aku melaksanakan wawancara awal di YPnDD terasa begitu berbeda. Tak pernah rasanya aku merasa begitu bahagia ketika selesai wawancara. Biasanya yang aku rasakan adalah was-was, bingung, ragu, dsb. Kenapa bisa demikian?

                Setelah mendapatkan telpon wawancara dari pihak HRD YPnDD, aku berinisiatif untuk mencari alamat YPnDD di Goo*le M*p. Namun aku heran, setiap aku ketikkan alamat yang aku cari yang keluar justru gambar sekolah akselerasi SMP-SMA (SMART EKSELENSIA INDONESIA). Setelah beberapa kali mencoba dan hasilnya sama, ya sudah aku menyerah. Nanti, aku ikuti rute angkotnya saja. Keesokan harinya, aku ditemani adikku mengendarai motor dari Dramaga menuju Parung. Adikku yang memang lebih hi-tech daipada aku, menggunakan GPS sebagai petunjuk arah. Cukup lama kami berkendara sampai akhirnya kami tiba di bangunan hijau dan ada spanduk Dompet Dhuafa. “Nah ini nih kayaknya tempatnya” kataku pada adikku. Namun aku keliru, ternyata bangunan yang kami tuju ada di seberang. Sekarang aku baru tahu bahwa bangunan pertama yang kami lihat tersebut adalah zona Madina.

                Pak satpam di bangunan seberang dengan sigap langsung memandu dan membantuku untuk menyeberang. Turun dari motor aku disambut oleh pak satpam yang begitu ramah dan memandu kami untuk mengisi buku tamu serta menanyakan tujuan kami. Aku menjelaskan bahwa aku ingin bertemu dengan pihak HRD, bapak satpam kemudian mengarahkan aku ke tempat yang dituju.

ramah sekali satpamnya ya” ucapku dalam hati

                Aku dan adikku melewati lorong yang di kanan kirinya berjejer banyak tropi.  Ada beberapa anak sekolah berseragam SMP dan SMA  yang berlalu lalang. Kemudian aku melihat toilet, di dinding sebelum pintu masuk ada cermin besar (cocok sekali bagiku yang suka bercermin, hehehe).  Ada seorang anak SMP yang berjalan sambil komat kamit berpapasan denganku. Aku heran dengan tingkah laku anak itu, ia terlihat memegang kertas seperti absen. MasyaAllah… aku baru sadar, setelah melihat al-Qur’an kecil yang ia pegang. Ternyata ia sedang muroja’ah hafalan al-Qur’annya.

                “Tempat apa ini sebenarnya” tak henti-hentinya aku berbisik dalam hati. Tempat ini begitu sejuk, bangunannya dicat dengan warna hijau, ditambah lagi dengan adanya pohon-pohon rindang yang semakin menambah suasanya kesejukan, bahkan ada masjid pula. Setelah sampai di halaman masjid, aku bertemu dengan mas Habib –HRD yang menelponku-. Lalu proses wawancarapun dilaksanakan. Aku diwawancarai oleh mas Habib dan mas Hassan, wawancara berjalan begitu santai dan menyenangkan.

ini adalah wawancara terjujur yang pernah aku lakukan” kataku pada adikku

kenapa?” tanya adikku dengan penasaran

ia… aku tak berusaha terlihat sempurna, dan tak ada yang aku tutup-tutupi di proses wawancara tadi” aku menjelaskan pada adikku

oh.. baguslah… eh… tempat ini enak banget yaa, suasananya enak, tak beda jauh dengan suasana kampus” kata adikku

                Ternyata tak Cuma aku yang merasakannya. Adikku pun merasakan kenyamanan lingkungan ini. “tapi takut zona nyaman juga si” ucapnya. Benar juga apa yang diucapkan adikku, aku tak boleh terlalu terlena dengan zona nyaman. Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa begitu lega dan bahagia, padahal belum tentu akan diterima, namun rasa bahagia itu tetap saja memenuhi pikiranku. Sehingga perjalanan pulang yang begitu panjang di siang hari yang terik menjadi tak terasa.

                Singkat cerita, aku resmi diterima sebagai pegawai YPnDD. Awal-awal di lingkungan baru, aku belum merasa nyaman. Pekerjaan di kantor hanya sebagai formalitas. Hatiku masih terpaut dengan teman-teman dan lingkungan kampus. Sehingga untuk beberapa bulan, aku memutuskan untuk tetap pulang pergi kosan di kampus-kantor yang memakan waktu 1 jam lebih. Rasa lelah di perjalanan lebih aku pilih karena lingkungan kampus begitu erat mengikat pikiranku #eaaa. Sampai akhirnya masa kontrak tempat kosku habis, aku harus segera memutuskan meneruskan atau pindah tempat kos. Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih untuk kost di dekat tempat kerja bersama beberapa teman kantor yang juga teman kampusku.

                Setiap pagi saat tiba di kantor, saat shalat berjamaah, saat jam istirahat makan siang di pantry, bahkan saat pulang kantor, aku selalu berpapasan dengan anak-anak SMP dan SMA yang merupakan siswa SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI). Tapi aku tak pernah menaruh perhatian pada mereka, sama sekali. Mereka bagiku adalah siswa biasa yang bersekolah di SMART, sebatas itu saja. Akupun tak punya urusan dengan mereka. Sampai akhirnya suatu ketika, 2 teman kostku (sebut saja namanya Wulan dan Hastia) dengan begitu hebohnya menyalakan  TV dan menonton satu channel.

mau nonton apa siiih?” tanyaku penuh rasa heran

SC*V Diiill… anak SMART mau tampil di TV, Kabul dan kawan-kawan…mau nasyid” jawab mereka dengan heboh.

ooh.. kirain apaan” aku merespon tak terlalu antusias

mereka keren tau diil… mereka ini diundang sama tim kreatifnya SC*V tadi… bla..bla…bla” mereka berdua menjelaskan banyak hal tentang anak-anak SMART EI

                Kelemahan wanita adalah pendengarannya, artinya mudah sekali dipengaruhi melalui pendengaran. Setelah mendengar penjelasan dari Hastia dan Wulan, aku mulai penasaran dengan anak-anak SMART EI.  “seistimewa apa sih mereka ini?” pikirku. Keesokan harinya, aku memperhatikan anak SMART EI sedang melaksanakan upacara, tapi di akhir upacara, ada penampilan yel-yel antar angkatan. Kebetulan sekali aku masih bisa melihat penampilan yelyel terakhir dari kelas 5. Mereka satu kelas berjoget-joget sambil bernyanyi di tengah lapangan dan di depan semua peserta upacara. Tariannya begitu kocak, hingga tak terasa aku tertawa sendiri di pojokan saat memperhatikan mereka.

                Berdasarkan berbagai sumber tepercaya yang aku dapatkan, ternyata anak-anak SMART EI ini merupakan anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka adalah anak-anak yang memiliki IQ di atas rata-rata yang lolos proses selesksi SMART EI. SMART EI sendiri adalah sekolah menengah (SMP-SMA) akselerasi (hanya 5 tahun) berasrama bagi anak laki-laki dan gratis yang didirikan oleh Dompet Dhuafa. Anak- anak yang diterima nantinya akan mendapatkan berbagai pembinaan yang dapat meningkatkan pengetahuan mereka di bidang agama, sains, sosial dan kesenian. Setiap tahunnya, lulusan SMART EI 100% lolos PTN akreditasi A di Indonesia, masyaAllah… Tak heran makanya, ketika aku pertama kali datang ke tempat ini, ada anak yang sedang murojaah hafalan karena salah satu syarat lulus SMART EI, hafalan minimal yang telah dimiliki tiap siswa adalah 3 juz al-qur’an.

                Semakin banyak tahu dan semakin banyak mengenal adik-adik SMART EI, semakin besar rasa kagumku pada anak-anak super ini.  Pertama, mereka sangat multi talenta. Mereka bisa bisa menjadi MC yang sangat komunikatif untuk sebuah acara besar, mereka bisa memainkan alat musik seperti gitar, biola, organ, dll bahkan mereka dengan sangat kreatif memainkan alat musik dari barang bekas yang mereka namakan trashic (trash music). Mereka apik di bidang organisasi, ketika berinteraksi dengan mereka, pemikiran mereka sudah tidak setaraf anak seumuran mereka, mereka memiliki pemikiran yang lebih jauh dan dewasa. Bahkan mereka telah memiliki tulisan yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.

                Banyak sekali talenta yang mereka miliki. Tulisan-tulisan mereka yang diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Kumbang-Kumbang Jampang” mampu membuat rekan kerjaku (seorang laki-laki) meneteskan air mata ketika membaca salah satu tulisan mereka. Bahkan aku telah meneteskan air mata sebelum membaca tulisan mereka, hanya dari cerita singkat temanku yang telah membaca buku tersebut. Ada anak SMART EI yang memiliki banyak hafalan Qur’an hingga mendapatkan hadiah umroh. Adapula yang pintar desain dan telah mendapatkan berbagai pesanan desain dari luar. Adapula yang pintar main gitar dan menciptakan lagu. Ada yang menjadi juara jurnalistik nasional. Ada yang juara spelling bee bahasa inggris, ada yang menekuni bidang menulis hingga mendapatkan pelatihan intensif dari pihak penerbit, dan lain sebagainya.

                Saat ini, sepertinya keadaan berbalik. Aku merasa terlalu memperhatikan mereka, mereka begitu istimewa bagiku. Bahkan sepertinya keistimewaan mereka telah masuk di alam bawah sadarku (lebbay haha). Sebab, setiap aku kemanapun, ketika bertemu dengan teman-teman kampus misalnya, aku bercerita tentang anak SMART. Bertemu dengan adikku, bercerita tentang anak SMART. Bahkan saat pulang kampung dan bercerita dengan tetangga, aku bercerita tentang anak SMART. Istilah kerennya sih, ini namanya emotional attachmentnnya sudah kuat.

                Kekagumanku semakin bertambah ketika aku berkesempatan untuk berinteraksi pula dengan para alumni SMART EI. Saat aku dan timku mengadakan sebuah pertemuan dengan para alumni, alumni SMART EI membuatku terheran-heran. Ada seorang alumni yang saat ini berkuliah di UI memaparkan mimpi-mimpi yang ia tulis sejak di SMART EI dan mimpi-mimpi jangka panjangnya di masa depan beserta detail strategi apa yang harus ia lakukan jika ingin mencapai semua itu. Ada pula yang memiliki cita-cita sebagai penakluk Roma. Benar-benar tak biasa bukan…

                Aku kemudian berpikir… anak-anak yang hebat ini tentunya adalah hasil bimbingan para guru yang mendidik mereka. Mereka yang awalnya masih bocil (bocah kecil) dari berbagai penjuru nusantara dengan berbagai karakter dan latar belakang keluarga kemudian disatukan dalam satu lingkungan bernama SMART Ekselensia Indonesia. Tentunya tak mudah, karena mengubah karakter tak bisa dalam waktu singkat. Perlu waktu yang lama dan kesabaran yang tinggi. Menjadi guru di SMART EI bukan lagi pada tahap motivating apalagi telling, namun menurutku telah sampai pada tahap inspiring. Mereka tak hanya menjadi pengajar, namun pendidik.

                Beberapa kali aku melihat guru-guru SMART (yang akrab dipanggil ustadz atau ustadzah) sedang mengajak ngobrol anak SMART EI. Mereka selalu melakukan pendekatan secara personal. Mereka mengajak anak-anak ngobrol tentang hobi mereka, menjadi teman curhat, pemberi nasehat ketika ada anak  yang agak bermasalah, dan menjadi pengganti orang tua anak-anak SMART EI. Begitu dekatnya guru-guru dengan siswa, maka tak heran jika membaca tulisan-tulisan anak SMART EI banyak menceritakan tentang guru-guru mereka, tentang rasa terimakasih atas semua yang telah dilakukan oleh guru-guru kepada mereka.

                Aturan yang diterapkan guru-guru di SMART EI cukup ketat. Untuk shalat berjamaah, semua siswa harus tepat waktu. Sehingga apabila ada siswa yang masbuk ketika shalat, maka akan mendapatkan sanksi sosial dengan cara disuruh berdiri di depan para jamaah yang terdiri dari semua siswa kelas 1-5 dan para pegawai. Salain diminta berdiri, mereka juga dicatat untuk kemudian diberi hukuman atas pelanggaran yang mereka lakukan. Selesai shalat wajib shalat sunnah dan dzikir. Kegiatan siswa tak hanya di sekolah, namun juga kegiatan pembinaan di asrama yang berlangsung sampai jam 10.00 malam, istirahat dan kemudian dilanjutkan shalat malam sampai subuh dan apel lalu lanjut sekolah sampai sore.

                Tak dapat dipungkiri apabila rasa bosan kerap menghampiri siswa-siswa. Sangat wajar, sebab mereka melakukan kegiatan yang berulang dan bertemu dengan orang-orang yang sama selama 5 tahun. Tak jarang aku mendengar selentingan curhatan mereka tentang rasa bosan yang mereka rasakan. Semuanya serba diatur, bangun jam berapa, tidur jam berapa sekolah jam berapa, keluar asrama jamnya dibatasi dan tak boleh membawa handphone. Tapi herannya, meskipun mereka tak punya HP, mereka memiliki semua akun sosmed yang bahkan akupun tak punya. Misalnya Facebook, Twitter, Instagram, path, dan yang lainnya (Hebat!).

                Suatu sore yang lumayan sepi, aku memilih bekerja di ruang meeting markom yang berada di pojok depan kantor. Sebenarnya jam sudah menunjukkan jam 17.00 WIB, artinya sudah jam pulang. Namun, aku masih malas untuk beranjak pulang. Kemudian, tiba-tiba terdengar suara bel diikuti suara ustad SMART yang memberikan pengumuman berupa reminder.

Assalamualaiku wr wb, sekarang  jam telah menunjukkan pukul 17.00 WIB, kepada seluruh anak-anakku… silahkan mempersiapkan diri untuk shalat magrib berjamaah di masjid” kurang lebih seperti itulah bunyi reminder dari ustad tersebut.

                Pengumuman seperti itu sebenarnya tidak asing di telingaku karena setiap hari aku mendengarnya. Namun aku merasakan suasana berbeda di sore itu. Apalagi kemudian setelah pengumuman diikuti oleh pemutaran murottal A-Qur’an yang terdengar begitu  menenangkan hati. Kemudian aku mulai berpikir… seharusnya tak hanya siswa saja yang mengalami kebosanan, gurupun juga demikian. Terutama guru yang tinggal di asrama. Bahkan mungkin seharusnya mereka lebih bosan karena rentang waktu guru tinggal di lingkungan ini bisa jadi lebih lama dari siswa yang umumnya sekitar 5 tahun.

                Selama ini, aku selalu mengandaikan diri sebagai siswa karena memang mereka yang terlihat bosan dan aku dengar keluhannya. Namun bagaimana dengan guru? Ketika aku mengandaikan diri sebagai guru, maka berat sekali rasanya ketika membayangkan bagaimana guru harus menjaga keistiqomahan dalam melakukan berbagai pembinaan kepada siswa-siswa SMART. Sebab sangat manusiawi bukan… apabila mungkin suatu ketika guru-guru tersebut merasa bosan, atau sedang mengalami perasaan gundah karena suatu hal. Namun, semua itu tak boleh terlihat, terutama kepada siswa SMART. Kenapa? karena guru-guru inilah yang menjadi teladan bagi mereka.

Ketika Guru menjadi pilihan hidup, maka setiap tindakan adalah panutan

                Kalimat tersebut merupan kalimat dari seorang GM Makmal Pendidikan DD yang juga seorang guru. Kalimat tersebut mungkin yang dapat menggambarkan bagaimana guru-guru SMART EI kemudian harus tetap menjaga keistiqomahan mereka dalam melakukan berbagai kegiatan rutinan di asrama ataupun sekolah. Bayangkan saja, bukan hanya mereminder untuk shalat, bahkan untuk kegiatan harian seperti mencuci pakaian saja, siswa SMART EI diingatkan oleh para guru apabila mereka lupa melakukannya.

                Menjaga keistiqomahan tentunya sangat sulit. Namun, apa yang membuat guru-guru SMART tetap mampu melakukan itu semua dan tetap istiqomah?. Jawabannya adalah tanggung jawab atas pilihan yang mereka pilih untuk menjadi guru yang kemudian akan menjadi panutan bagi anak didik mereka.

Lalu, di akhir tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan kepada adik-adik SMART EI (mungkin saja ada yang membaca) bahwa nikmatilah proses kalian menuntut ilmu di sini. Kembangkanlah diri, gali potensi dan ambillah setiap peluang positif yang ada untuk mengoptimalisasi setiap kemampuan yang kalian miliki. Hormatilah guru-guru yang telah mendidik kalian. Bisa jadi ada sikap mereka yang kurang atau tidak cocok dengan harapan kalian. Maka pahamilah bahwa itu sangat manusiawi, sebab guru kalian juga manusia biasa. Teladanilah setiap hal yang baik dan buanglah setiap hal yang buruk. Semoga kalian menjadi orang-orang yang sukses dan kelak menjadi pemimipin-pemimpin yang akan menebarkan kebermanfaatan kepada orang banyak.

Salam hormat saya sampaikan kepada guru-guru SMART EI yang mulia. Banyak hal yang telah engkau berikan untuk pembentukan karakter positif bagi siswa-siswa. Semoga setiap ilmu yang engkau berikan dapat menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir. Semoga setiap keikhlasan dan kesabaran yang engkau miliki dapat saya jadikan teladan dan dapat saya terapkan dalam kehidupan. Serta semoga menjadi seorang panutan itu dapat pula saya miliki. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan surgaNya kelak. Amiiin…

smart EI

Foto anak-anak SMART EI bersama Utadz Mul

Sumber Foto: Facebook Pendidikan DD

Pilihan Wanita

wanitaPerbincangan saat jam makan siang saat itu begitu berbeda. Aku dan seniorku (senior di kampus dan di kantor) berbincang tentang prediksi seniorku tentang 2 temanku yang akhirnya benar-benar memutuskan untuk menikah. Beberapa waktu sebelumnya, seniorku ini memprediksi bahwa dua temanku ini pasti akan jadi menikah. Aku kurang setuju dan tak yakin dengan prediksi itu, sebab aku kenal dekat sekali dengan mereka. Benar-benar tak ada tanda-tanda bahwa mereka saling memiliki perasaan (hebat sekali interaksi mereka ini). Secara pribadi, aku sangat bahagia mereka memutuskan menikah tanpa dinodai interaksi yang dilarang sebelum menuju ke pernikahan.

mas, ternyata bener loh mereka akan menikah” aku memulai percakapan dengan nada berapi-api

yaa.., itu udah keliatan kali Dilll…” jawab seniorku dengan sangat santai

aku ga nyangka loh mas… mereka ga keliatan saling suka selama ini, kayak teman akrab aja” ucapku dengan bersemangat

kalo aku sih udah nyangka dari agak lama” kata seniorku

hmm… emangnya si X (si perempuan) suka ya sama si Y (si laki-laki)?” ucapku dengan pelan, tapi seniorku sepertinya mendengarnya

lah… emang perempuan menjadikan rasa suka sebagai pertimbangan ya? Bukannya yang datang melamar duluan dan baik, dia yang akan diterima. Kalau laki-laki mah memang menjadikan unsur suka sebagai salah satu pertimbangan” ucapnya

hmm….” aku sempat terdiam lalu berbisiksemoga aku bisa berjodoh dengan orang yang aku sukai. amiiin” aku berdoa sambil mengangkat tangan sejenak.

hahahahaha” seniorku terbahak-bahak melihat tingkah lakuku.

            Percakapan tadi memang sangat sederhana dan hanya sekilas saja. Namun, percakapan yang sebentar tersebut memenuhi pikiranku seharian penuh. Apa memang benar ya perempuan tidak punya pilihan? Mengapa terasa seperti tidak adil, mengapa laki-laki boleh memilih sedangkan perempuan harus menerima saja. Tidak, tidak seperti itu. Aku yakin Allah adalah dzat yang maha adil. Mungkin pemahamanku saja yang terbatas, sehingga kesimpulanku pun juga tak benar. Tapi, aku belum menemukan jawaban yang tepat untuk menyangkal kesimpulan yang salah itu, tentang kenapa wanita hanya menerima sedangkan laki-laki boleh memilih?.

            Hingga malam tiba, aku tak menemukan jawaban yang pas. Sampai akhirnya sekitar jam 7 malam,  teman kosanku yang naik ke ruang atas untuk nonton tv bersama kami. Tumben sekali mbak yang satu ini ikut nonton, biasanya beliau hanya di kamar saja. Tanpa kami duga-duga, ternyata beliau bermaksud untuk menceritakan rencana beliau yang akan menikah akhir bulan ini. “waaaahhh….” begitulah mungkin kata yang dapat mewakili keterkehutan semua penghuni kos.

            “Prosesnya cepat sekali mba… bliau nanya alamat untuk silaturrahim. Menyatakan niatnya untuk menikahi saya kepada orang tua, 13 hari kemudian orang tuanya datang untuk menentukan tanggal pernikahan. Alhamdulillah… mohon doanya ya… aku sebenarnya belum banyak tau tentang beliau.” cerita teman kosku.

            Kemudian semua teman kosku mulai mengeluarkan berbagai pertanyaan tentang kenal darimana, gimana orangnya, blablabla… aku pun ingat pertanyaan yang menggelayut di pikiranku dari tadi pagi.

            “mba… kalau memang mba belum banyak kenal sebelumnya, lalu… apa mba pernah punya perasaan khusus kepada orang lain sebelumnya?” tanyaku

hmm,,, itu manusiawi mba, tentu ada. Tapi… sebagai seorang wanita, sebaiknya kita menjadi yang ‘menentukan’, bukan yang ‘memilih’.” Temanku mulai menjelaskan

Kenapa mba?” tanyaku antusias, sebab ini sepertinya akan menjawab pertanyaan hatiku sejak pagi hari.

sebab secara naluriah, laki-laki itu memiliki ingatan yang lebih kuat dan cenderung bertahan lama. Jika dia menyukai atau mencintai seseorang, maka itu akan tertanam di memorinya dalam waktu yang lama. Ada beberapa kasus dari teman dan kasus yang aku alami sendiri mba. Ada seorang wali siswa yang kemudian terang-terangan bercerita kepada saya bahwa ia bercerita kepada anaknya bahwa ia mencintai temannya dulu, namun bukan istrinya sekarang. Hingga memiliki anakpun, si bapak tetap merasa berdesir dan jantungnya berdegup kencang ketika bertemu dengan wanita yang ia sukai dulu. Cerita lainnya, aku memiliki teman laki-laki yang katanya menaruh hati padaku mba. Kemudian ia menikah dengan seorang wanita, namun yang aku heran beliau masih berusaha menghubungiku via sms untuk menanyakan kapan aku akan menikah dan dia mengatakan masih menaruh hati padaku, bahkan disaat istrinya sedang hamil. Padahal, Aku tak pernah merespon apapun sms dari beliau.  Kisah ekstrim lainnya adalah ada laki-laki (A) yang menyukai wanita (B), si A kemudian hendak menikahi si B. Namun, tiba-tiba ada teman si A menawarkan wanita lain (C) yang katanya lebih ‘wah’ dari si B. Akhirnya si A menikahi si C. Namun, ternyata perasaan si A tetap pada si B. Meskipun si A telah menikah dengan si C, ia tetap saja terus berusaha menghubungi si B dan mengatakan selalu membayangkan si B -nauzubillah-, padahal kan apabila suami istri berhubungan, kemudian si suami membayangkan wanita lain, itu bisa jadi zina ya mba -astaghfirullah- ” temanku bercerita panjang lebar

“haaah? Beneran mba ada orang-orang seperti itu?” aku terheran-heran

iya mba, laki-laki berbeda dengan wanita. Seorang wanita lebih cenderung mudah luluh apabila ia disayangi dan diayomi, perasaannya mudah berubah. Makanya wanita mudah kagum kepada orang daripada laki-laki. Benar sekali tuh kalimat yang mengatakan lebih baik menikah dengan orang yang mencintaimu daripada yang engkau cintai. Yaah.. enaknya sih kalau sama-sama saling mencintai. Tapi kalau pilihannya adalah dicintai atau mencintai yaah lebih baik dicintai. Jika kita menikah dengan orang yang mencintai kita, maka ia akan dengan sepenuh hati akan menjaga kita dan bertanggungjawab terhadap kehormatan kita. Ketika ada orang yang telah datang melamar kita, berarti dia adalah orang yang sudah mempersiapkan diri untuk mencintai kita dan bertanggung jawab atas diri kita mba, maka kemudian kitalah yang akan menetukan apakah itu diterima atau tidak, bukan memilih.” Lanjutnya.

            Pertanyaan yang menggelayut di pikiranku terjawab sudah, bahwa ini bukan soal adil atau tidak, ketika wanita sebaiknya tak jadi yang ‘memilih’. Sebab kodratnya memang berbeda. Laki-laki dan perempuan memang berbeda, semua memiliki porsi masing (inilah keadilan Allah). Laki-laki punya kecenderungan mengingat dalam waktu lama, sedangkan wanita lebih mudah terpengaruh dan perasaannya mudah berubah. Maka bagi wanita sebaiknya menjadi yang ‘menentukan’ bukan yang ‘memilih’. Kalau kamu, mau menjadi pemilih atau penentu? 🙂

*Sabtu, 02.07 WIB begadang di kosan 😀

Tertipu dengan Dunia

duniaSuatu ketika, nabi Musa akan melakukan sebuah perjalanan. Ada seorang pemuda yang menawarkan diri untuk menemani sang nabi. Pemuda tersebut berkata bahwa ia bermaksud belajar agama lebih dalam selama perjalanan bersama nabi musa. Nabi Musa pun mengizinkan sang pemuda untuk membersamainya.

Mereka berdua menempuh perjalanan bersama. Saat beristirahat di suatu tempat, nabi Musa mengeluarkan bekal berupa roti. Roti itu dibagi menjadi 3 bagian. Satu bagian untuk nabi Musa, satu bagian untuk sang pemuda, dan satu bagian sisanya sengaja nabi Musa sisakan untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan, barangkali mereka temukan di perjalanan.

Setelah memakan roti, nabi Musa pergi sejenak ke suatu. Saat kembali, ternyata satu potong roti tadi sudah lenyap.

Nabi Musa kemudian bertanya kepada sang pemuda “anak muda, dimanakah potongan roti itu?”
“Aku tidak tau nabi” jawab sang pemuda.
Baiklah, kalau begitu, mari kita teruskan perjalanan” ucap nabi Musa

Merekapun meneruskan perjalanan. Di tengah perjalanan, nabi Musa dan sang pemuda bertemu kawanan rusa. Mereka berdua menangkap satu rusa, menyembelihnya, kemudian dibakar untuk dimakan. Setelah makan, nabi Musa meminta sang pemuda mengumpulkan tulang-tulang rusa. Dengan mukjizat yg dimiliki nabi Musa, rusa yang hanya bersisa tulang tadi dijadikan hidup kembali. Kemudian nabi Musa bertanya kembali kepada sang pemuda

“jadi siapa yang memakan potongan roti itu anak muda?”

Aku tidak tau nabi” jawab sang pemuda

Baiklah, mari kita teruskan lagi perjalanan” ucap nabi musa

Sebenarnya nabi Musa sudah mengetahui bahwa sang pemuda inilah yang memakan roti itu. Nabi Musa sengaja menyembelih dan menghidupkan lagi rusa tadi agar sang pemuda mengambil pelajaran bahwa setelah hidup ada mati, dan setelah mati ada hidup kembali.

Saat menemukan sebongkah batu, dengan kuasa Allah, nabi Musa mengubah bongkahan batu tersebut menjadi emas. Bongkahan emas kemudian dibagi menjadi 3.

Satu bongkahan emas ini untukku, satu bongkahan untukmu, dan satu bongkahan untuk orang yang makan roti tadi” nabi Musa menjelaskan

Nabi… sebenarnya akulah yg memakan roti itu” sang pemuda mengaku

Baiklah… kalau begitu… semua bongkahan emas ini aku berikan untukmu. Tapi kau cukup sampai disini saja mengikuti perjalananku, kamu kembali pulang saja” ucap nabi Musa

Sang pemuda pulang dengan membawa 3 bongkah emas. Di perjalanan pulang, ia dihadang oleh 3 orang perampok. Sang pemuda sangat ketakutan. Kemudian ia menyerahkan 3 bongkah emas kepada kepada para perampok asal ia dilepaskan. Ketiga perampok melepaskan sang pemuda tadi.

Setelah melepaskan sang pemuda, ketiga perampok tersebut baru merasa heran, kenapa sang pemuda dengan mudahnya menyerahkan 3 bongkah emas yg dia miliki. jangan- jangan emasnya palsu. Salah satu perampok berinisiatif untuk mengecek keaslian emas dengan membawanya ke pasar dan menukarnya dengan berbagai makanan seperti roti.

Selama menunggu 1 perampok menukarkan emas dengan makanan, timbul niat jahat dari 2 perampok yang masih di hutan.

Alangkah bodohnya kita, menunggu ia datang dari pasar. Bagaimana kalau kita bunuh saja ia, agar emas ini kita bagi dua saja” celetuk salah seorang perampok

Betul… mari kita bunuh saja dia saat dia kembali dari pasar” Sambut perampok lain

Sedangkan di tempat lain, saat sang perampok menukarkan roti, timbul pula niat yang tak kalah jahat
Alangkah bodohnya aku, kenapa tak aku bunuh saja dua orang d hutan itu agar semua emasnya untukku”

Kemudian sang perampok membeli racun mematikan dan membubuhkannya di atas roti yang ia beli.
Saat kembali ke hutan, dua orang perampok menyerang 1 orang perampok yg dari pasar tadi. Sang perampok yang dari pasar meninggal. Dua orang perampok lainnya bersenang-senang dengan memakan roti. Mereka berdua keracunan dan kemudian mati. Mereka semua mati tanpa ada yang mendapatkan emas.

Kisah ini sebenarnya ingin menyampaikan pelajaran bahwa:
Terkadang, demi harta dunia, manusia menjadi lupa bahwa setelah hidup ada mati dan setelah mati ada hidup. Serta harta dapat membutakan mata dan hati sehingga menjadikan manusia lebih hewan dari hewan.

*kisah ini disampaikan oleh rekan kantor saat tausiyah pada forum pagi rutinan setiap senin.
**saya pun tak tahu tentang keshahihan kisah ini, namun semoga tetap bisa diambil hikmahnya ya 😊
***Bogor, 14 Oktober 2015. Ditulis saat di bis, perjalanan menuju Taman Bunga Nusantara bersama sahabat-sahabat Inovasia 😀